Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Sebuah Kesalahan


__ADS_3

"Aduh ya nggak bisa Mas, maaf!" ucap salah satu seorang pria paruh baya.


"Saya tambah 10 juta ya Pak, jadi 50 juta." ucap Alfian.


"Maaf Mas tidak bisa, motor nya sudah saya jual lagi sama orang. Dan orang itu, bukan orang sini."


Alfian seketika lemas, saat tahu motor milik Clarisa, sudah ada yang beli oleh tangan ketiga.


"Apa tidak bisa, untuk kembalikan motor itu?"


"Maaf ya Mas tidak bisa, kan sudah ada akad jual beli antara Mas dan saya, dan saya dengan dia. Jangan bikin tidak enak sama pelanggan, kalau niat tidak mau di jual, dari kemarin Mas tidak jual."


"Iya Pak ini salah saya." ucap Alfian.


"Gini saja Mas, kalau mau motor seperti itu, saya akan carikan harga sesuai saya bayar gimana? sekitar 1 atau 2 bulan lah menunggu barangnya."


"Maaf Pak, saya ingin motor itu.'


" Iya Mas, saya bisa carikan motor itu."


"Yasudah Pak, kalau memang tidak bisa."


"Iya Mas maaf ya, itu kalau Mas mau, bisa saya carikan lagi."


"Nggak usah Pak, terima kasih."


Setelah pria itu pergi, Alfian langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Kemal. Karena kakak ipar nya itu, akan menikah hari ini.


***


Clarisa hanya duduk sendiri di kamar rawat, sambil menunggu momen indah, Abang nya yang akan menikah. Clarisa masih sedikit lemah, bahkan kondisinya belum ada perubahan, dokter mengatakan HB yang masih belum stabil.


Clarisa membuka ponselnya, hal pertama yang di lihat adalah wallpaper layar kunci, photo motor kesayangan dirinya.


"Semoga kamu bersama pemilik yang baru, bisa membawa tuan kamu kemana pun tujuannya." ucap Clarisa sambil terisak.


" Akhirnya, gua bisa beli motor ini Bang Toha! ya Allah Bang, usaha tidak sia - sia, gua bisa beli motor barunya." Clarisa teringat saat dirinya, mendapatkan motor kesayangannya.


Clarisa tersenyum sedih, hingga kedua matanya berkaca - kaca. Lantas sebuah panggilan video call dari Alfian, Clarisa langsung menekan tombol hijau.


Terlihat Kemal sedang mengucapkan ijab kabul, Gibran berada di samping Alfian. Clarisa tersenyum melihat dua mempelai duduk berdampingan, dengan wajah yang berseri - seri.


SAH


Clarisa menangis bahagia, melihat Abangnya kini resmi menjadi suami Silvi. Membuka lembaran baru, dengan pendamping hidup yang baru.


"Selamat Bang." ucap Clarisa.


Alfian tersenyum, lantas mematikan video call nya, karena baterai ponsel milik Alfian habis. Clarisa lantas kembali bersandar di kepala ranjang, sambil menonton televisi.


****


"Selamat buat kalian berdua." ucap Alfian.


"Terima kasih ya." ucap Kemal dan Silvi.

__ADS_1


"Clarisa bagaimana?" tanya Silvi.


"Belum boleh pulang, karena HB nya masih di bawah rata - rata. Kalau HB nya normal, boleh minta pulang. Dan ikut menyaksikan pernikahan kalian, tapi dia ikut lihat kok tadi saya video call sama dia." jawab Kemal.


Terlihat tamu undangan akan memberikan selamat pada pengantin, Alfian pun lantas turun dari panggung pelaminan.


****


"Bang Tri tahu dari mana, Cla di rawat?" tanya Clarisa.


"Abang tahu Wahyu, Alfian ijin tidak bisa masuk kamu di rawat, dan Bang Kemal nikah.Kata Wahyu kamu di rawat di rumah sakit Paramadina Medica, langsung Abang kesini." ucap Tri.


"Terima kasih Bang." ucap Clarisa.


"Sama - sama." ucap Tri tersenyum.


"Cla! apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Tri.


"Bahagia Bang." jawab Clarisa tersenyum.


"Abang tahu, kebahagiaan kamu itu ada sedih. Abang bisa rasakan itu, tapi Abang kembali sama kamu, kalau tidak kuat jangan lanjutkan."


"Insya Allah, Cla akan bertahan Bang."


"Abang akan mendoakan yang terbaik buat kamu."


"Terima kasih Bang."


****


"Alhamdulillah lancar, Gibran juga terlihat akrab sama Silvi." jawab Alfian.


"Syukurlah."


Alfian melihat ada satu kantung plastik berisi roti, dan satu paket parsel buah. Alfian lantas menanyakan, siapa yang datang membesuk.


"Dari siapa?" tanya Alfian.


"Dari Bang Tri." jawab Clarisa.


"Oh, Abang kira dari siapa." ucap Alfian dengan wajah datar.


"Sudah minum obat kan?"


"Sudah Bang." ucap Clarisa.


"Sekarang makan ya, biar cepat keluar dari rumah sakit."


Alfian lantas mengambil makanan, yang sudah di sediakan oleh rumah sakit. Alfian lantas menyuapi Clarisa, dengan penuh perhatian.


"Cla, Abang ingin bicara sesuatu."


"Bicara apa Bang?"


"Maafkan Abang, kalau motornya tidak bisa Abang ambil kembali. Motor itu, sudah ada yang beli lagi."

__ADS_1


Clarisa tampak kecewa, namun berusaha tegar. Clarisa tersenyum, tidak berkomentar apa - apa.


"Abang tahu, pasti kamu sedih. Abang salah, sudah jahat sama kamu."


"Sudah Bang, mau gimana lagi." ucap Clarisa.


"Abang tahu, kamu marah. Abang memang salah, karena rasa kesal dan khawatir sampai bertindak nekad."


"Sudah ya Bang, jangan bicara lagi masalah motor. Kalau Abang, bicara lagi Cla semakin sedih." ucap Clarisa dengan berkaca - kaca.


"Maafkan Abang Cla, dari awal menikah kamu sudah tidak bahagia." ucap Alfian dalam hati.


***


"Sudah boleh pulang ya, nanti ingat makannya di jaga, jangan sampai telat makan lagi. Hindari yang pedas dulu, Bapak harus perhatikan istrinya, jangan sampai seperti kemarin." ucap dokter.


"Siap dok, saya akan pantau pola makannya." ucap Alfian.


"Baik kalau begitu, saya tuliskan resepnya. Nanti suster akan antar obat nya kesini, dan minggu depan kita bertemu lagi untuk kontrol."


"Baik dok, terima kasih."


Clarisa yang sudah terlepas dari jarum infus, duduk di sisi tempat tidur. Alfian memasukan pakaian milik Clarisa, ke dalam tas.


"Abang selesaikan administrasinya dulu." ucap Alfian, dan di anggukan kepala oleh Clarisa.


Clarisa melihat ponselnya, ada sebuah Chat masuk dari Tri, mengatakan kabar kondisi hari ini. Clarisa pun membalasnya, kalau dirinya sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Sayang yuk kita pulang, tadi ketemu sama susternya, Abang sudah ambil obatnya." ucap Alfian.


"Bantu turun Bang, masih sakit bekas operasinya." ucap Clarisa, lantas Alfian membantu menurunkan Clarisa dari atas tempat tidur.


****


"Alhamdulillah, kita sudah di rumah." ucap Alfian.


"Bang, boleh minta tolong ambil kan minum?" tanya Clarisa.


"Iya boleh." ucap Alfian, lantas mengambilkan nya.


Tok.. tok...


Suara ketukan yang sangat kencang, Alfian lantas membuka pintu kamar. Alfian melihat Ibu Mirah dan Kamela datang.


"Kalian, kenapa nggak kasih kabar?" tanya Alfian.


"Ibu kesini ada perlu sama kamu, nah kebetulan kamu sudah pulang dari rumah sakit." jawab Ibu Mirah dengan menunjuk ke arah Clarisa.


"Ada apa sih Bu?" tanya Alfian.


"Eh mantu sialan! kamu yang suka ngabisin duit anak saya, kamu tahu diri sendiri dong, nih seperti Kamela dia tidak pernah ngabisin duit suami. Setelah Alfian nikah sama kamu, malah kamu menghabiskan uang anak saya." ucap Ibu Mirah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2