
Alfian dengan terburu - buru langsung turun dari mobilnya, dan berlari ke dalam kamar kost nya. Alfian melihat Clarisa sedang memasak, tercium aroma ikan goreng.
"Assalamu'alaikum." ucap Alfian memberikan salam.
"Walaikumsalam." ucap Clarisa sambil mengangkat ikan yang di gorengnya dari dalam wajan.
"Kamu kenapa pergi nggak pamit? Abang khawatir cari kamu." ucap Alfian.
"Cla sudah besar Bang, pulang sendiri juga nggak akan nyasar." ucap Clarisa.
Clarisa langsung mengambil nasi dan lauk yang baru saja di masak, tanpa menawarkan pada suaminya. Alfian hanya berdiri melihat istrinya makan, padahal Clarisa sudah merasakan mual namun tetap memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Abang mau istirahat dulu." ucap Alfian masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamar, Alfian langsung merebahkan dirinya, namun dari dalam kamar Alfian mendengar Clarisa muntah, dan langsung beranjak bangun.
Alfian melihat Clarisa, sedang memuntahkan isi perutnya, Alfian memijat tengkuk lehernya namun di tepis oleh Clarisa.
"Kamu ini sakit! kita ke dokter, Abang takut kamu kenapa - napa." ucap Alfian.
"Nggak perlu, ini capek saja kok."ucap Clarisa lantas menaruh sisa makannya di atas meja makan.
"Cla! " panggil Alfian.
Clarisa menoleh, namun tetap berjalan ke arah kamar lantas merebahkan tubuhnya, karena merasakan sangat lemas.
"Abang tahu, kamu masih kesal dengan apa yang di lakukan sama keluarga Abang. Abang minta maaf, tapi tolong jangan tinggalkan Abang."ucap Alfian.
"Bang, kalau memang masih berat kembali Bang. Semuanya mendukung Abang, Cla ikhlas di cerai hari ini." ucap Clarisa dengan terisak.
"Tolong, jangan katakan minta itu. Cukup Kamela, yang Abang kabulkan." ucap Alfian dengan wajah sedih.
"Maafkan saya Bang, maaf." ucap Clarisa semakin terisak.
"Kalau mau kita pisah, jaga jarak saja dulu. Abang mau, kalau memang ingin menenangkan diri."
Hiks.. hiks.. hiks..
Clarisa menangis, lantas Alfian langsung memeluk tubuh istrinya. Clarisa menyingkirkan tangan Alfian, namun Alfian semakin erat memeluknya.
"Tolong, jangan sampai rumah tangga kita hancur."
"Hiks.. hiks.. anak Abang saja, ingin kalian bersatu. Cla sudah membuat pemisah buat kalian. Keluarga besar pun mendukung, bahkan menolak habis - habis an Cla Bang, alam juga mungkin. Cla ikhlas di cerai, Cla ikhlas Bang."
"Tolong jangan katakan itu." ucap Alfian.
__ADS_1
"Cla nggak kuat, tolong jangan buat Cla tersiksa dengan pernikahan ini."
"Abang akan pergi, kalau kamu mau. Tapi kamu tetap istri Abang, kamu mau Abang antar ke rumah Bang Kemal, Abang antar sekarang. Kalau kamu mau disini, Abang keluar."
"Antar saja ke rumah Bang Kemal." ucap Clarisa.
***
Kemal hanya bisa menatap adik iparnya, sedangkan Clarisa memilih masuk kamar. Alfian hanya bisa diam dengan wajah sedih, dan Kemal memijat kepalanya.
"Restu orang tua ya." ucap Kemal.
"Menurut Abang, kalian terus saja bertahan. Kenapa harus pisah rumah begini, kalau cinta kalian kuat, kalian bisa meruntuhkan tembok pembatas itu." ucap Kemal kembali.
"Ya Allah Bang, sumpah saya tidak ingin rumah tangga hancur yang kedua kalinya. Saya ingin sama Clarisa, rumah tangga sampai tua. Cukup kata cerai sama Kamela, tidak sama Clarisa.
" Nanti Abang nasehati dia, sekarang kamu pulang. Tenangkan pikiran, terus kalau sudah tenang kamu bujuk istri kamu." ucap Kemal.
"Iya Bang, makasih."
"Sama - sama."
****
"Cla lebih baik mundur Bang, kalau Abang tahu melihatnya percuma terus maju. Anaknya saja masih butuh keduanya, orang tua dan keluarga besar tidak ada yang mau menerima Cla. Apa pernikahan seperti ini, akan buat Cla bahagia Bang? walau kami yang jalani, tapi ada kerikil besar yang buat kita terhalang apa itu enak?" ucap Clarisa.
"Bahkan, anak yang Cla kandung. Mereka tidak menganggap."
Kemal langsung menatap dengan rasa bahagia, bahwa dirinya akan memiliki keponakan. Namun tidak dengan Clarisa, hanya yang ada rasa sedih.
"Alhamdulillah Cla, Alfian pasti bahagia mendengarnya. Kamu kenapa tidak jujur pada Alfian?"
"Tidak Bang, Cla tidak mau. Terlalu sakit, sakit Cla sudah jadi pemisah. Cla punya hati, bagaimana anak nya juga pasti akan sedih tahu Papahnya dengan perempuan lain. Cla lihat juga, mereka masih akrab Bang. Walau sudah tidak ada ikatan, tapi batin mereka itu satu."
"Saran Abang, kasih tahu Alfian. Untuk lanjut tidaknya, setelah kamu melahirkan."
****
"Kamu dimana?" tanya Tri.
"Rumah Bang Kemal Bang."ucap Clarisa dari seberang.
"Alfian sudah pulang?"
" Sudah Bang, Cla ingin jaga jarak dulu."
__ADS_1
"Boleh Abang main?"
"Main saja Bang, nggak apa - apa."
****
Tri akhirnya datang ke rumah Kemal, Clarisa menyambut dengan senyuman. Tri pun duduk di sofa ruang tamu, sedang Clarisa membuatkan minum untuk Tri.
"Maaf ya Bang, hanya ada sirup. Kue nya habis, biasa namanya juga duda tinggal sendiri makan di luar."
"Tidak apa - apa, ini juga sudah makasih."
"Gimana pacar Abang?" tanya Clarisa memulai pembicaraan.
"Baik, tadi sebelum kesini dia telepon." jawab Tri.
"Cantik ya?"
"Cantik lah, dia kan perempuan." ucap Tri dengan tersenyum.
"Bang, maafkan Cla yang sudah buat Abang sakit hati. Mungkin Cla baru tahu, kalau Cla salah pilih pasangan."
"Maksudnya?"
"Seharusnya, Cla tidak boleh cerita sama Abang. Tapi hati Cla tidak bisa menyimpan sendiri, Bang Kemal hanya meminta untuk memikirkan lagi. Untuk bisa meruntuhkan tembok besar, tapi itu tidak mungkin. Ada seseorang yang mencintai suami Cla, dia bahkan tidak ingin keduanya pergi. Ada cinta suci, dari bidadari kecil mereka, yang ingin tetap bersama. Bahkan orang tuanya, tidak ingin menerima menantu yang baru."
"Kamu tidak salah pilih pasangan Cla, suami kamu setia. Hanya tembok pemisah yang sangat kokoh. Suami kamu itu setia, tidak akan mungkin mengkhianati kamu."
"Gua nggak bisa Bang! nggak bisa hidup berumah tangga seperti ini."
Alfian berdiri di depan pintu melihat, Clarisa bersama Tri. Tidak sengaja Tri melihat Alfian, Tri berdiri Clarisa pun kaget.
"Dari tadi Tri?" tanya Alfian dengan santai.
"Tidak juga sih, baru." jawab Tri.
"Rumah tangga Kami lagi nggak baik Tri, dia minta pisah sama saya. Padahal perceraian, sedang proses bahkan lusa depan sidang."
"Saya tidak tahu masalah itu, hanya sebatas mendengar. Kalau saya bisa memberikan saran, saya akan berikan. Tapi kalau tidak ya maaf." ucap Tri.
"Tapi ingat Tri, sampai dia seribu kali minta cerai, saya tidak akan pernah kasih. Pernikahan secara negara akan tetap ada, dia akan menjadi nyonya Alfian, ibu Bhayangkari."
.
.
__ADS_1
.