
Marvel membawa Clarisa ke showroom miliknya, Clarisa terlihat senang melihat macam - macam tipe motor sport nya.
"Bang, kalau ada duit gua mau yang dipakai Abang."ucap Clarisa.
" Motor itu!" tunjuk Marvel.
"Iya, tapi kalau ada uang. Mau beli yang itu, dan motor yang biasa Cla pakai, mau di jual saja." ucap Clarisa.
"Pakai saja yang punya Abang, motor kamu sini. Jangan di jual, sayang loh. Belinya perjuangan banget." ucap Marvel.
"Serius Bang boleh?"
"Iya serius, masa Abang bohong sih."
"Ih.. Abang baik banget." ucap Clarisa senang.
"Apa sih yang nggak buat kamu." ucap Marvel.
Clarisa memeluk lengan Marvel, dan Marvel mengecup kening kekasihnya. Bahkan karyawan showroom melihatnya, dan membuat wajah Clarisa memerah bagai udang rebus.
"Malu itu dilihat sama karyawan." ucap Clarisa, dan Marvel tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Saat akan pulang, Clarisa yang menyetir motor dan Marvel berbonceng. Marvel memeluk tubuh Clarisa dari belakang, dan Clarisa mengemudi dengan kecepatan kencang.
"Yank, jangan kencang. Abang takut ih, salip menyalip sama mobil besar." ucap Marvel.
"Tenang saja Bang, selamat sampai tujuan." ucap Clarisa.
Marvel memilih memejamkan kedua matanya, saat Clarisa mengendarai motor. Bahkan sebuah teguran, sumpah serapah di lontarkan pada Clarisa.
"Cla, kita mau nikah nih, jangan mendekati malaikat maut." ucap Marvel.
"Diam Bang, malah kalau begini, gua tambah nggak fokus." bentak Clarisa.
Keduanya pun sampai di rumah Kemal, Marvel turun dari motornya, dengan kaki gemetaran.
"Kenapa kamu Bang?" tanya Clarisa.
"Kenapa apanya? kamu mengemudikan motor gila banget." jawab Marvel.
"Hahahaha.. baru segitu saja sudah gemetaran, cemen tahu." ucap Clarisa.
"Minta air minum dong Sumpah ini gemetaran." ucap Marvel.
Clarisa pun mengambil minuman untuk Marvel, dan memberikan segelas air putih, lantas langsung di tegak habis minuman tersebut.
"Alhamdulillah ya Allah, sumpah Abang kapok."
"Hahahaha.. Abang tidak tahu ya, kalau Cla itu sering kena tilang loh bahkan di tangkap karena balap liar."
"Kamu sering balapan liar?"
"Iya, bahkan nama julukannya, Dewi jalanan."
"Benar - benar ya calon bini Abang."
"Hadiahnya lumayan loh, 200 juta, pernah di dapatkan."
"Serius!".
" Iya Bang, serius masa gua bohong. Bahkan Bang biaya kuliah, makan sama sehari - hari dari hasil balapan, kalau gaji dari bengkel mana cukup Bang." ucap Clarisa.
"Abang salut, kamu tidak bergantung pada Abang kamu."
"Iya Bang, gua tidak mau merepotkan dia. Tapi Bang Kemal itu, sabar banget menghadapi tingkah nakalnya Clarisa.Sampai dia itu sering bertengkar dengan mantan istrinya, hanya gara - gara gua, katanya malu memiliki adik ipar seperti gua." ucap Clarisa.
__ADS_1
"Sekarang kamu akan menjadi tanggungan Abang sebentar lagi, Abang sudah tidak sabar ingin cepat halalin kamu." ucap Marvel.
"Sabar Bang, bulan ini masa iddah gua habis." ucap Clarisa.
"Nanti setelah wisuda kita menikah."ucap Marvel sambil mencium punggung tangan Clarisa.
"Sabar ya Bang, minggu depan gua mulai sidang. Doakan lancar, sampai hari H pernikahan kita."
"Amin ya Allah, Abang juga masih tidak menyangka, kamu akhirnya jadi milik Abang."
"Abang jodoh tertunda Cla, dengan banyak melalui ujian, gua bisa bertemu dengan Abang, dan ternyata Abang adalah jodoh Cla."
"Abang janji, akan bahagiakan kamu." ucap Marvel sambil mencium kedua punggung tangan Clarisa.
"I love you." ucap Clarisa.
"I love you too." ucap Marvel.
****
Pernah saling menatap
Lalu memilih langkah saling bersimpang
Menemukan kebahagiaan masing-masing
Mencoba mencari hujan yang lebih menyejukan
Mencoba mencari pelindung lain
Kita sepakat untuk tidak lagi sepaket
Kita mendekati jalan-jalan yang membawa kita kepada jarak yang semakin jauh
Kita merasa tak lagi saling menginginkan
Meski mungkin saja dalam hati terdalam masih ada getar
Aku berdamai dengan diriku yang kalah dalam pertarungan mempertahankan mu
Aku menjadi pejalan yang pulang bukan lagi menujumu
Kau terlalu liar untuk ku taklukkan
Kita tak menemukan ujung yang sama
Kita terlalu keras kepala untuk tetap memilih jalan yang berbeda.
Sudahkah kau merasa tenang
Setelah tak lagi memperjuangkan semua yang pernah kita tuju
Alfian menulis pada sebuah buku diary nya, menulis apa yang ada di isi hatinya. Alfian menyelipkan photo pernikahan dirinya dan Clarisa yang masih tersimpan.
"Diary ini, akan menjadi tempat curahan hati saya, dimakan rasa ini akan tetap sama sampai tutup usia. " ucap Alfian.
Lantas Alfian menulis kembali pada lembaran berikutnya, dengan menempelkan photo lain dirinya dan Clarisa.
Ini cerita perpisahan,berita kehilangan
Tentang mereka yang tak mampu mencegah kepergian
Diyakini di dalamnya,jiwa-jiwa itu juga merintih kesakitan
Membiarkan waktu mengambil bagian dan meninggalkan kenangan serta kesedihan
__ADS_1
Jiwa-jiwa itu tenggelam dalam pertanyaan
Tentang siapa yang patut disalahkan dan hal apa yang sebenarnya masih dapat dipertahankan
Diam menyelimuti keduanya
Berharap di yakinkan daripada meyakinkan,yang akhirnya berujung pada penantian.
Dibagian lain,waktu sedang memperhatikan mereka
Menertawakan jiwa yang terlalu keras kepala dan ego yang berkeliaran sampai akhirnya hati mereka mati perlahan
Penantian itu berganti menjadi suara yang tak tersampaikan
Dan luka,yang tak akan terlupakan
"Maafkan Abang Cla, untuk rasa yang ini." maafkan Abang."
Alfian lantas memejamkan kedua matanya, dan langsung tertidur, berharap dalam mimpi bertemu dengan kekasih sejati yang tidak akan pernah di miliki.
****
Marvel dan Clarisa sedang photo untuk pernikahan mereka, bahkan photo prewedding mereka pun, di lakukan di studio yang sama.
"Ini gimana sih, lipstiknya ketebalan." ucap Marvel sambil mengusap dengan tissue.
"Jangan di hapus semua." ucap Clarisa.
"Tapi jangan tebal begini."
"Ah.. jelek tahu, tuh tambah rusak. Ini bukan rapihin, tapi ngerusak."ucap Clarisa kesal.
Clarisa lantas memoles bibirnya kembali dengan lipstik warna lain, dan langsung Marvel mengambil lipstik dari tangan Clarisa.
Marvel pun membantu memoles bibir Clarisa, dan kini terlihat cantik di mata Marvel.
" Tuh kan, cantik." ucap Marvel sambil menunjukkan kaca.
Clarisa tersenyum, saat melihat hasil polesan Marvel, bahkan kini Marvel membantu memoles pipi Clarisa dengan bedak.
"Januari baru saja menyapa
Entah mengapa basah kemarin masih terasa dingin disini menggenapi desember kemarin
Meresap lebih dalam mengharu biru dalam rindu yang tak usai
Kau disana,tempat asing yang tak lagi kujamah
Seperti biasa meramu kopi yang kau bilang sepenuh hati
Antara pahit dan manis yang masih saja kau bilang adalah rasamu
Manisnya rindu dan pahitnya menanti" ucap Marvel.
"Maksudnya apa?" tanya Clarisa.
"Iya pahitnya menunggu kamu, hanya untuk katakan cinta saja sulit, kamu nggak tahu apa? menunggu jawaban itu, seperti menunggu antara hidup dan mati." jawab Marvel.
"Alah lebai." ucap Clarisa sambil tersenyum.
.
.
.
__ADS_1