
"Kamu janda!" ucap Marvel.
"Iya Bang, gua jandanya Bang Alfian. Gua nikah siri, saat mau naikan status hubungan kita kandas." ucap Clarisa.
"Gua hanya bilang ini sama Lo Bang, kalau gua janda. Tidak semua pria atau keluarganya menerima janda."
Marvel memegang tangan Clarisa, Marvel tersenyum ke arah wanita yang di sukainya.
"Saya tetap suka sama kamu, tetap cinta. Walau kamu janda, saya akan tetap menerima kamu. Itu semua masa lalu kamu, masalah keluarga tidak akan pernah keberatan."
"Itu kata Abang, tidak kata mereka."
"Terserah kamu bilang apa, yang jelas itu faktanya." ucap Marvel.
"Kamu mau ya ketemu sama Ayah?"
"Tapi Bang, gua belum siap."
"Mau ya?" ucap Marvel memaksa.
"Iya, tapi status kita hanya teman."
"Tapi nanti status kita lebih dari teman."ucap Marvel.
****
"Ternyata aslinya cantik." ucap Pak Kamil.
Clarisa hanya tersenyum, melihat keramahan Pak Kamil menyambut dirinya. Marvel tersenyum bahagia, melihat Ayahnya sangat menyukai Clarisa.
"Ngomong - ngomong, kamu bisa bongkar mesin motor sama mobil ya?" tanya Pak Kamil.
"Bisa Pak, menangani turun mesin juga bisa." ucap Clarisa.
"Wah kebetulan, Marvel kan ada alatnya. Mobil saya sudah saatnya di servis, kamu bisa?" ucap Pak Kamil.
"Bisa Pak, kalau ada alatnya." ucap Clarisa.
"Ada kok, yuk ke garasi saja." ucap Marvel.
****
"Bang, kok Clarisa sampai sore belum juga pulang!" ucap Silvi sambil memegang perutnya.
"Kan kerja Yank." ucap Bang Kemal.
"Hari ini bengkel libur Bang."
"Kamu chat saja, lagian tumben banget kamu khawatir sama dia. Lagian dia sudah besar, nanti juga pulang."
"Masalahnya, dia tidak bawa kendaraan Bang." ucap Silvi langsung Kemal meletakkan ponselnya.
"Dia berangkat sama siapa?" tanya Kemal.
"Lihat dari CCTV, berangkat sama Marvel." jawab Silvi.
"Sudah mulai ada hubungan mungkin."
"Bang, yakin kalau Cla nikah sama dia?"
"Menurut kamu?"
"Menurut saya, yakin dari cara dia berjuang mendapatkan hati Cla."
"Abang hanya ingin yang terbaik saja buat dia, itu saja."
"Iya Bang, semoga."
****
__ADS_1
"Terima kasih ya, di pakainya enak banget." ucap Pak Kamil.
"Nanti sering di cek ya Pak mesin yang, namanya juga mobil tua. Saya lihat sih masih bagus, tapi kan kita tidak tahu." ucap Clarisa.
"Ok, terus ini berapa?" ucap Pak Kamil.
"Berapa apanya?" ucap Clarisa.
"Ya berapa totalnya!" ucap Pak Kamil.
"Nggak usah Pak, nggak ada yang di ganti. Lagian ini alatnya dari Bang Marvel, jangan lagi." tolak Clarisa.
"Yaudah, ini buat kamu terima ya."
"Jangan Pak, jangan."tolak Clarisa saat Pak Kamil memberikan beberapa lembaran warna merah."
"Terima saja Cla."ucap Marvel.
" Nggak Bang, jangan Pak. Cla ikhlas." ucap Clarisa.
"Yasudah, nanti kapan - kapan saya sama keluarga boleh kan main?" ucap Pak Kamil.
"Boleh banget Pak, pintu rumah selalu terbuka."
****
"Makasih Bang, seharian sama Abang." ucap Clarisa.
"Iya kalau gitu Abang pamit ya." ucap Marvel.
"Iya, hati - hati ya Bang."
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." ucap Clarisa
Saat memutar tubuhnya, Kemal sudah berdiri di depan pintu. Sedang menatap dirinya, Clarisa langsung bersalaman dengan mencium punggung tangannya.
"Kemajuan apa Bang?"
"Tadi itu?"
"Apaan sih!"
"Kalau kamu suka, Abang ikuti apa kata kamu."
"Nggak tahu Bang, masih pikir - pikir dulu."
****
"Marvel! " panggil Tri.
"Iya ada apa?" ucap Marvel.
"Saya mau tanya, kamu pacaran sama Clarisa?" ucap Tri.
"Iya, kenapa?" ucap Marvel.
"Nggak apa - apa, tanya saja." ucap Tri.
"Tri, saya tahu. Cla mantan pacar kamu, maaf kalau saya menyukainya." ucap Marvel.
"Iya tidak apa - apa, lagian itu bagian masa lalu saya."
"Saya juga nggak menyangka, kalau disini ada mantannya, saya minta maaf kalau saya menaklukkan hati dia." ucap Marvel.
"Saya hanya minta, jaga dia jangan sakiti hatinya."
"Pasti, saya akan jaga dan bahagiakan dia."ucap Marvel.
__ADS_1
" Kamu harus buktikan, jangan cuman ucapan saja."
Setelah bertemu Tri, Marvel menghampiri Alfian. Lantas Marvel, duduk di sampingnya.
"Hey, tak kira siapa." ucap Alfian sambil mengoperasikan laptopnya.
"Bisa minta waktunya?" ucap Marvel.
"Bisa, waktu apa ya?"
"Ini masalah Clarisa." ucap Marvel, dan Alfian langsung menghentikan pekerjaannya.
"Kenapa?" tanya Alfian.
"Saya tahu, kamu masa lalu dia." jawab Marvel.
"Kamu harus tahu, kalau saya itu masih sayang sama dia." ucap Alfian.
Marvel diam sambil menatap ke arah Alfian, sedangkan Alfian lantas tersenyum dengan menepuk pundak Marvel.
"Tenang saja, kita tidak akan mungkin bersatu lagi." ucap Alfian.
"Kalau kamu masih sayang, kenapa kamu tidak rujuk saja sama Clarisa? kalau memang masih sama - sama sayang, saya bisa membantu menyatu lagi." ucap Marvel.
"Kamu jangan menjadi pria bodoh seperti saya, yang tidak mau memperjuangkan cintanya. Malah melepaskan berlian yang malah, kini berlian itu kamu yang mendapatkannya. Kamu harus simpan, dan jangan kamu lepaskan berlian itu." ucap Alfian.
"Terima kasih, saya akan mempertahankan berlian itu, bila sudah di tangan. Dan tidak akan membiarkan, orang lain memberikan berlian itu." ucap Marvel.
****
Alfian mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah orang tuanya, setelah Pak Tejo meninggal dunia, kini Ibu Mirah hanya bisa berbaring kaku dan hanya kedua matanya yang berkedip.
Alfian pun sampai di rumahnya, Kamela yang kini mengurus Ibu Mirah sedangkan Laras, pergi bersama suaminya entah kemana.
"Bang, Ibu tidak mau makan, masih menggunakan infus." ucap Kamela.
"Kata dokter apa?" tanya Alfian.
"Kata dokter, total semua saraf Ibu mati." jawab Kamela.
"Laras belum ada kabar?" tanya Alfian.
"Belum Bang, malah Laras dan suaminya menggadaikan sawah dan kebun sama juragan Oka." jawab Kamela.
"Astagfirullah, kenapa keluarga saya jadi begini."
"Bang, mungkin Ibu bisa di pertemukan sama Clarisa. Kasihan Ibu disiksa begini, mati tidak hidup tidak. Hanya mata yang merespon, mungkin dengan maaf dari Clarisa Ibu bisa sembuh. Ini kan, bisa karena perbuatan juga."ucap Kamela.
" Kamu pikir, Ibu saya kena karma gitu?" ucap Alfian.
"Maaf Bang, tapi Ibu seperti ini."
Alfian menatap Ibunya, dan Ibu Mirah hanya mengedipkan kedua matanya. Alfian lantas mendekat, ke wajah Ibu Mirah.
"Apa Ibu ingin mengucapkan sesuatu?" tanya Alfian.
Ibu Mirah mengedipkan keduanya matanya, lantas Alfian lebih mendekatkan wajahnya kembali.
"Ibu ingin bertemu Clarisa?" tanya Alfian, dan Ibu Mirah mengedipkan kedua matanya.
"Clarisa sudah bahagia Bu, dia sudah bersama pria lain yang lebih mencintainya." jawab Alfian.
Ibu Mirah tampak berkaca - kaca, hingga meneteskan air matanya. Alfian mengusap air mata Ibu Mirah.
"Al sudah melepaskan Cla, bukannya itu Ibu yang minta! jangan minta, Al untuk kembali sama dia." ucap Alfian.
Ibu Mirah menangis tapi tidak bisa bersuara, Alfian mengecup kening Ibu Mirah lantas mengusap air matanya kembali.
"Al lakukan demi orang tua, Al rela mempertaruhkan hati Al."
__ADS_1
.
.