
"Mas ini tadi Cla belikan bubur kacang di depan, yuk makan sama - sama mumpung masih hangat." ucap Clarisa dengan membawa dua mangkok.
"Cla." panggil Alfian.
"Ya Bang!"
"Katanya tadi malam, Kamela telepon kasih kabar Moza masuk rumah sakit?" tanya Alfian.
"Astagfirullah, maaf Bang Cla lupa." jawab Clarisa.
"Kamu lupa, atau sengaja?" tanya Alfian.
"Demi Allah Bang, Cla lupa. Semalam mau bangunin Abang, sudah tidur pulas. Cla putuskan besok pagi saja kasih tahunya, lagian Abang nggak mungkin kesana hari ini." kawan Clarisa.
"Jadi kamu sepelekan masalah Moza!" bentak Alfian.
"Nggak Bang! bukan begitu. Maksud Cla, kan Abang sedang tidur."
"Ini masalah anak Cla! walau sedang tidur, kamu bangunin. Pikiran disana, kamu itu sengaja tidak mau kasih tahu. Apalagi status kamu itu, ibu tiri dia."
"Tapi tidak ada maksud begitu, kata siapa Cla tidak sayang sama Moza, Cla sayang kok."
"Berarti kalau Abang sedang tidur pulas, ada keluarga yang meninggal dunia besok lagi kamu kasih tahu hah..!"
"Maafkan Cla Bang."
"Bikin kesel saja." ucap Alfian langsung keluar dari kamar dengan memakai jaket.
"Bang! " panggil Clarisa, tapi Alfian pergi dengan menggunakan motornya.
Clarisa hanya bisa terisak, dan makan sendiri bubur yang dirinya beli. Niat hati ingin makan bersama, yang ada hanya sebuah ke salah pahaman.
***
Clarisa menunggu suaminya, belum juga pulang hingga pukul 8 malam. Makan malam, sudah di siapkan. Clarisa terus menunggu, dengan duduk di depan pintu.
Clarisa mencoba menghubungi suaminya, namun tidak di jawab. Hingga mengirimkan sebuah pesan, Alfian hanya membaca tidak membalasnya.
Clarisa lantas memutuskan untuk masuk kedalam, menutup pintu dan tidur. Mata tidak bisa terpejam, saat hati sedang tidak enak. Clarisa duduk sambil bersandar, memutuskan menghubungi Abangnya.
"Hallo Bang."
"Ya dek, ada apa?"
"Abang sedang apa?"
"Abang sedang piket dek, kenapa?"
"Oh yaudah nggak apa - apa, Cla hanya kangen sama Abang."
"kamu punya masalah apa sama Alfian?"
"Nggak ada kok, hanya ingin telepon Abang saja." ucap Clarisa bohong.
"Abang pulang piket nanti main kesana."
"Nggak usah Bang, Cla mau pergi." ucap Clarisa bohong kembali.
"Oh gitu ya, yaudah."
"Yaudah Bang, nanti di sambung lagi." ucap Clarisa lantas menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Ceklek
Pintu terbuka, Alfian pulang lantas melempar jaketnya sembarang, Clarisa segera mengambil jaket bekas suaminya.
"Abang mau sekalian makan?" tanya Clarisa.
"Abang mau tidur, ngantuk banget." jawab Alfian lantas langsung memejamkan kedua matanya.
Hati Clarisa menangis, kesalahannya begitu sangat fatal. Clarisa hanya bisa diam dan ikut naik ke atas tempat tidur. Clarisa terisak, tak kuat menahan tangisnya.
Hiks.. hiks.. hiks..
Alfian mendengar isakan tangis Clarisa, Alfian mengintip dari balik lengan yang menutup kedua matanya. Clarisa memunggunginya, melihat tubuhnya bergetar, karena menangis.
Alfian lantas memeluk tubuh Clarisa dari belakang, tangis Clarisa semakin kencang. Alfian setengah bangun, mengusap air mata istrinya.
"Maafkan Abang ya!" bisik Alfian.
Clarisa menganggukkan kepalanya, sambil mengusap air matanya. Alfian lantas membalikkan tubuh istrinya, kini mereka berdua saling berhadapan. Kedua mata Clarisa, di kecup lantas turun ke bibir.
"Sudah dong jangan nangis, Abang minta maaf." ucap Alfian sambil tersenyum.
"Sudah ya, besok pulang Abang dinas. Kita cari oleh - oleh, sama mainan buat Moza."ucap Alfian kembali.
" Iya Bang." ucap Clarisa, lantas kembali di peluk.
****
Alfian dan Clarisa berada di pusat perbelanjaan, sehabis mencari oleh - oleh Alfian dan Clarisa berburu mainan untuk Moza. Bahkan Clarisa memilihkan beberapa pakaian, untuk putri sambungnya.
"Bang, ini lucu kan?"tanya Clarisa sambil memperlihatkan pakaian untuk Moza, yang masih satu toko.
" Bagus itu, ambil saja." ucap Alfian.
"Kamu seperti Mamahnya Moza." ucap Alfian langsung pergi dengan mendorong troli nya.
Clarisa tersenyum kecut, saat dirinya di samakan dengan Kamela. Lantas Clarisa kembali memilih beberapa pakaian, sedangkan Alfian memilih beberapa mainan.
Setelah belanja, keduanya makan di sebuah restoran cepat saji, Clarisa merasakan mual di perut nya lantas langsung meminum es jeruk yang di di pesannya.
"Kamu kenapa?" tanya Alfian.
"Nggak apa - apa Bang, enek saja lihatnya." jawab Clarisa.
"Mau ganti punya Abang?"
"Nggak, maunya minum yang seger. Mungkin faktor capek, jadi kayak gini." ucap Clarisa.
"Awas jaga kesehatan, jangan sampai sakit."
"Iya Bang." ucap Clarisa yang menahan mual.
****
Hoek.. hoek...
Clarisa terus muntah, saat dirinya akan berangkat. Sehingga Alfian langsung berjalan mendekati istrinya, dan langsung memijat tengkuk lehernya.
"Sakit?" tanya Alfian panik.
"Nggak Bang, mungkin masuk angin." jawab Clarisa.
__ADS_1
"Kalau sakit, kita pulang besok."
"Jangan, rencana yang sudah di rancang jangan di gagalkan gara - gara Cla mual. Nanti juga hilang mualnya, nih makan buah jeruk seger lagi." ucap Clarisa langsung berjalan ke arah mobil.
Alfian dan Clarisa masuk kedalam mobil, yang sudah di pesannya. Dalam perjalanan, Clarisa terus memakan buah jeruk. Ada sekitar satu kilo buah jeruk, yang di belinya kemarin, Clarisa terus makan hingga mereka sampai stasiun.
Saat baru duduk, Clarisa langsung berjalan cepat ke arah kamar mandi. Hal itu membuat Alfian panik, lantas mengikuti istrinya.
"Yank, buka pintunya." ucap Alfian.
Ceklek
"Kamu sakit?" tanya Alfian panik.
"Nggak tahu Bang, rasanya mual terus ya." jawab Clarisa.
"Jangan - jangan kamu hamil lagi."
"Masa sih Bang, kan baru bulan kemarin kita nikah."
"Kamu saat baru nikah, dalam masa subur kan?"
"Iya, dan sekarang sudah telat sih."
"Nggak salah lagi, kamu pasti hamil."
"Masa sih Bang! kalau misalnya masuk angin biasa gimana?"
"Ya Nggak apa - apa, ini dugaan Abang. Soalnya waktu Kamela hamil Moza, ya begini tanda - tandanya. Nanti sampai sana, kita cek Kamela itu bidan."
"Iya Bang."
Dalam perjalanan selama 2 jam, Clarisa terus bersandar pada pundak Alfian. Tangan keduanya, saling menggenggam erat. Telepon Alfian berdering, nama Mama Moza memanggil.
Clarisa langsung melepaskan tangannya, yang melingkar di lengan Alfian. Clarisa pun duduk, dengan sedikit menjauh.
"Papah." Moza menyapa.
"Papah sedang di kereta ya sayang, nanti sampai ketemu di rumah."
"Ok Papah. "
Moza mematikan teleponnya, Alfian menarik tubuh Clarisa kembali dan menyandarkan kepalanya di bahu.
"Moza sudah nggak sabar ketemu sama Papahnya ya?" tanya Clarisa.
"Iya, Moza itu dekat banget sama Abang." jawab Alfian.
"Sama Cla gimana ya Bang nantinya?"
"Kamu belajar ambil hatinya, pasti kamu bisa. Moza itu anaknya gampang akrab, dia itu nggak pemalu."
"Iya, waktu pertama lihat juga seperti itu. Moza itu lucu dan Imut."
"Kayak Papahnya ya lucu dan Imut."
"Idih.. geer. " ucap Clarisa sambil mencubit hidung mancung suaminya.
.
.
__ADS_1
.