
Alfian masih diam, dan merasa tidak bisa berkutik saat di todong harus menikah. Para tetangga sudah datang, dan Clarisa turun hanya mengenakan gamis warna putih, dan make up tipis.
Wahyu lantas mendekat, dan berbisik pada temannya temannya, yang sebentar lagi akan menjadi pengantin.
"Kamu bawa mahar berapa?" bisik Wahyu.
"Mahar!" ucap Alfian.
"Iya, mahar berapa? jangan sampai kamu tidak bawa uang."
"Eh, saya itu kesini niat main bukan nikah."
"Ya salah kamu, kenapa pacaran sama Clarisa. Sudah tahu Abangnya galak, kamu itu berarti di negara punya istri dua."
"Bisa nggak sih, ini pernikahan nggak terjadi sekarang?"
"Sekarang atau nanti, kamu tetap nikah sama dia."
"Tergantung, dia mau lanjut tidak sama Tri."
"Alfian, kamu sudah kasih tahu orang tua?" tanya Kemal.
"Belum Bang, pasti mereka kaget." jawab Alfian.
"Hubungi yang disana."
"Bang, masalahnya mereka belum tahu kalau kami cerai!"
"Hah.. jadi belum tahu!"
"Iya Bang, kami masih merahasiakan.Makanya saya ingin nanti saja, jangan sekarang."
"Nggak, nikah sekarang dari pada Zina."
"Apa tidak ada yang tahu, satu keluarga?"
"Tidak Bang, tapi ada satu yang tahu. Adik saya, nanti saya akan hubungi dia." ucap Alfian mencoba menghubungi adiknya.
"Assalamu'alaikum Laras, kamu sedang apa?" tanya Alfian.
"Di rumah Bang, ada apa?"
"Laras, kamu mau kan lewat Video kamu menyaksikannya Abang nikah?"
"Nikah Bang! terus Ibu sama Ayah gimana Bang? mereka belum tahu, kalau Abang cerai."
"Abang disini mencintai wanita lain, Abang ingin kamu menyaksikan kan ya sama Anton, tolong kamu menyaksikan dari jauh."
"Iya Bang, saya panggil Mas Anton dulu."
Alfian lantas menemui Alfian kembali, dan menjelaskan bahwa dirinya sudah memberikan kabar pada adik dan adik ipar nya, untuk menyaksikan pernikahannya.
"Sudah Bang, saya siap." ucap Alfian, sedangkan Clarisa tersenyum bahagia.
"Punya berapa kamu bawa uang di dompet?" tanya Kemal.
Alfian membuka dompetnya, dan mengeluarkan isinya. Ada sekitar lima lembar, uang kertas warna merah.
"Ada segini Bang." ucap Alfian.
"Yaudah, itu buat mahar." ucap Kemal.
"Bisa kita mulai sekarang Pak." ucap Kemal kembali.
"Baik, kita bisa mulai sekarang."
Acara pernikahan secara agama pun di mulai, dengan para saksi yang sudah hadir, terlihat raut wajah Clarisa yang terlihat bahagia, begitu juga dengan Alfian. Bagai sebuah mimpi, tiba - tiba menikah tanpa persiapan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Alfian Fikri Bin Iman Saputra dengan Saudari Clarisa Baskoro Binti Baskoro dengan Mas kawin uang tunai sebesar 500.000 di bayar tunai." ucap Pak Penghulu
"Saya terima nikah dan kawinnya Clarisa Baskoro Binti Baskoro dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai." ucap Alfian dengan lantang.
__ADS_1
Saat itu Tri menyaksikan pernikahan tersebut, Alfian menoleh tepat Tri menyaksikan semuanya. Alfian berdiri, Clarisa terkejut saat Tri tahu pernikahannya.
Tri tersenyum dengan berjalan mendekati Alfian dan Clarisa, Wahyu dan Kemal berdiri takut terjadi sesuatu.
"Selamat ya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah." ucap Tri sambil bersalaman dengan Alfian dan Clarisa.
"Terima kasih." ucap Alfian.
Tri berusaha seperti tidak terjadi sesuatu, bahkan menyapa Kemal dan Wahyu. Walau hatinya itu rapuh.
"Saya pamit dulu ya, kado nya nanti menyusul." ucap Tri.
Clarisa lantas mengejar Tri, hingga sampai pada mobil patroli, terlihat ada satu teman yang ada di dalam mobil.
"Maafkan Cla Bang." ucap Clarisa.
"Kenapa kamu tidak dari awal, kalau kamu itu suka sama Alfian! kalau dari awal, hati saya tidak sakit seperti ini." ucap Tri.
"Maafkan Cla Bang."ucap Clarisa dengan memegang tangan Tri, namun di tepisnya.
" Saya akan rahasiakan pernikahan ini, jangan takut akan bocor, semoga kamu bahagia ya." ucap Tri langsung masuk kedalam mobil.
"Bang! maafkan Cla."
Tri menutup kaca mobil dan mobil yang membawa Tri pergi meninggalkan rumah Clarisa. Lantas Clarisa kembali masuk, dan melihat ada satu kantung plastik berisi makanan.
"Bang Tri kesini, hanya untuk kirim makan malam!" ucap Clarisa.
"Cla!" panggil Kemal.
"Iya Bang." ucap Clarisa.
"Biar Tri urusan Abang, kamu temani suami kamu. Abang sedang menunggu kurir, membawa pesanan makanan untuk yang hadir malam ini."
Clarisa masuk kedalam, dengan tersenyum ke arah tetangga yang masih ada di rumah Kemal. Alfian duduk sambil menelepon, lantas telepon di akhiri saat Clarisa duduk di sampai suaminya.
"Tri gimana?" tanya Alfian.
"Biar besok urusan Abang." ucap Alfian sambil menggenggam tangan Clarisa.
"Iya Bang."
Wahyu datang menghampiri Alfian dan Clarisa, Wahyu pun memberikan selamat pada keduanya.
"Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah." ucap Wahyu.
"Makasih ya." ucap Alfian.
"Makasih ya Bang." ucap Clarisa.
****
Semua tamu sudah pulang, Kemal sedang mengantar pulang Wahyu dan Pak penghulu. Hanya Clarisa dan Alfian berdua, yang kini berada di dalam kamar.
"Ini kamar siapa Cla?" tanya Alfian.
"Ini kamar tamu Bang, Cla pakai selama disini. Kalau Bang Kemal nikah lagi, Cla keluar dari sini." jawab Clarisa.
"Besok kamu ikut Abang, kita tidak akan tinggal disini."
Clarisa lantas mendekat dengan memeluk tubuh Alfian dari belakang, tangan yang melingkar di perutnya, Alfian mengusap punggung tangannya.
"Bang."
"Iya, kenapa?"
"Kita kan sudah menikah, Abang pasti paham lah. Kan sudah pengalaman, terus kan tahu kita itu ngapain saja."
"Ngapain Cla?"
Tangan Clarisa dengan berani meraba, bagian tengah milik Alfian. Rasa yang bergejolak pada diri Alfian, membuat meremang bulu roma.
__ADS_1
"Tuh kan, baru di pegang saja sudah tegang." ucap Clarisa sambil tangannya terus mengusap.
"Gimana nggak tegang Cla, posisi kamu itu seperti ini. Ya normal lah, kamu saja Abang sentuh gini gimana?" ucap Alfian sambil memutar tubuhnya, dengan meremas satu buah pepaya milik istrinya.
"Awwww Bang, nakal ya." ucap Clarisa sambil menggigit bibir bawahnya.
Tangan Alfian terus naik hingga berada di paha istrinya, pakaian tidur Clarisa langsung tersingkap ke atas. Bibir Alfian mencium ujung jari kaki, hingga membuat rasa geli yang di rasakan Clarisa.
Ciuman itu terus naik hingga ke atas paha, tangan Alfian membelai milik Clarisa, hingga menggigit bibir bawahnya.
Aaaahhhhhh
Mmmmmm
Suara Clarisa terdengar menikmati setiap sentuhannya, hingga Clarisa merasakan sensasi yang ingin meledak. Dengan wajah yang serius, Alfian melepaskan pakaian yang di pakai Clarisa hingga kini hanya penutup bagian dalam.
Alfian pun melepaskan semuanya, hanya tersisa celana boxer nya. Tubuh kekarnya menindih tubuh Clarisa, di ciumi seluruh tubuhnya, hingga meninggalkan banyak jejak, bahkan menyapu dengan lidahnya.
Kini kedua nya sama - sama tanpa penghalang, hanya kulit yang menyatu. Alfian melebarkan kedua kaki istrinya, rudal pun siap untuk di tembakkan.
Clarisa menjerit saat akan mencoba menerobos masuk, namun Alfian segera membungkam dengan sebuah ciuman, rasa sakit itu tidak dirasakan setelah, Alfian memberikan sentuhan yang membuat Clarisa merasakan terbang tinggi.
Rudal pun berhasil menembus sempurna, rasa sakit pun hilang terganti rasa nikmat. Suara nafas yang berat, tepat di telinga Clarisa terdengar yang membuat bulu kuduk berdiri.
Aaahhhh... aaahhhhh..
"Mas, mau keluar lagi." ucap Clarisa yang merasakan akan berdenyut.
"Sama - sama sayang...!! " ucap Alfian yang menembakkan semua amunisinya.
***
Keduanya tertidur lelap dalam balik selimut, Clarisa memeluk tubuh suaminya, kedua mata Alfian tetap terjaga tidak bisa tidur. Sambil menatap wajah istrinya yang natural, membuat Alfian tersenyum sendiri. Bahkan satu kecupan didaratkan, di bibir istrinya.
Tiba - tiba ponsel Alfian berdering, terlihat nama Kamela menelpon. Alfian lantas segera bangun, dan berjalan ke arah dekat jendela namun terlebih dahulu, memakai celananya.
"Hallo."
"Kamu sudah menikah lagi Bang?" tanya Kamela dari seberang.
"Iya, kamu tahu dari Laras?" tanya kembali Alfian.
"Iya, saya akan mengajukan nya besok, saya tidak menunda lagi." jawab Kamela.
"Maaf."
"Saya juga minta maaf, tapi saya minta untuk tetap sama - sama merawat Moza, dia itu butuh kita."
"Semoga Moza juga mau sama Cla, semoga Cla juga bisa mengambil hatinya Moza."
"Bagaimana dengan orang tua Mas?"
"Kamu sendiri?"
"Saya akan katakan besok."
"Iya, Moza bagaimana?"
"Dia sehat, nanti liburan Abang jemput lah dia."
"Iya, yaudah sudah malam. Kamu tidur ya, Abang tidak enak takut Clarisa bangun."
"Selamat menempuh hidup baru Bang."
"Terima kasih." ucap Alfian menutup teleponnya.
.
.
.
__ADS_1