Surat Tilang Cinta

Surat Tilang Cinta
Mencari Bukti


__ADS_3

Clarisa bangun dari tidurnya, leher yang masih sakit membuat Clarisa tidak bisa untuk menoleh. Pintu kamar rawat terbuka, Tri datang dengan membawa parsel buah.


"Assalamu'alaikum." sapa Tri.


"Walaikumsalam." balas Clarisa, yang bergerak seperti robot untuk menoleh.


"Eh.. jangan gerak, saya jadi linu lihatnya." ucap Tri.


"Abang sama siapa?" tanya Clarisa.


"Sendirian, sengaja ingin menengok kamu." jawab Tri.


"Bang, terima kasih ya sudah mendonorkan darahnya. Kalau nggak ada Abang waktu itu, mungkin akan cari - cari darah buat saya."


"Abang senang kok, bisa mendonorkan darah buat kamu. Berarti darah Abang, mengalir dalam tubuh kamu."


Clarisa tersenyum, tanpa menatap ke arah Tri karena sakit untuk menoleh. Lantas Tri duduk di dekat kaki Clarisa, sehingga mereka saling bertatap mata.


"Kamu sama siapa Cla yang jaga?"


"Sendiri Bang, kalau ada apa - apa, ada suster kok."


"Loh Bang Kemal nya mana? dia sedang pulang dulu atau sedang dinas! "


"Nanti juga kesini." ucap Clarisa.


"Kamu mau makan?"


"Boleh Bang, tolong ambilkan pisang yang dari Abang."


Tri membuka kulit pisangnya, dan memberikan pada Clarisa. Terlihat Clarisa lapar, makan pisang dengan lahapnya.


"Nomer si pelaku sudah di dapat, tapi belum di temukan. Pria yang melukai kamu kabur, saat tahu dia sedang dalam pencarian Polisi."


"Gua juga tahu, siapa pelakunya. Tapi tidak ada bukti ya susah, selagi mereka masih tutup mulut.


" Kalau boleh tahu, motifnya apa?"


"Tentang balapan, tapi aslinya bukan gua yang jadi tersangka, tapi mereka hanya ingin memancing seseorang keluar. Oleh sebab itu, salah satu dari mereka, mencoba melukai gua."


"Kamu katakan siapa? biar kami bantu tangkap."


"Sandi, dia yang menjadi sponsor. Tapi kami, sudah tahu siapa pelaku yang melakukan serangan. Namanya Malvin, dia satu kampus dengan gua. Namun sayangnya belum ada bukti, karena mereka itu takut Malvin, jadi mereka tetap bungkam."


"Bagaimana kami menghubungi Sandi?"


"Dia juga nanti pasti kesini."


Ceklek


Pintu kamar rawat terbuka, Alfian datang membawa parsel buah. Alfian tidak menyangka, akan bertemu dengan Tri.

__ADS_1


"Kirain nggak ada kamu." ucap Alfian.


"Tahu kamu mau kesini, tadi janjian." ucap Tri.


"Ya nggak tahu, dari tadi?"


"Nggak kok baru."


Alfian meletakkan parsel buah dekat pemberian dari Tri, Clarisa tersenyum bahagia, pria yang di sukainya datang menjenguk nya.


"Leher nya gimana?" tanya Alfian.


"Masih kamu, belum bisa nengok kanan kiri." jawab Clarisa.


"Alfian, dia itu tahu sebenarnya dalang yang membuat Clarisa terluka." ucap Tri.


"Benar Cla? siapa katakan!" ucap Alfian.


"Namanya Malvin, kita dari awal dia sudah ingin buat keributan, masalah bukti."ucap Clarisa.


" Benar mereka tetap bilang tidak tahu, dan hanya ikut - ikut an, dan hanya menuduh satu orang dalang dan dia kabur juga." ucap Tri.


"Kami juga bekerja sama dengan Polres kabupaten lain, bahkan photo pelaku sudah tersebar luas." ucap Alfian.


Pintu kamar terbuka lagi, terlihat Silvi datang dan langsung memeluk tubuh temannya. Silvi pun lalu bersalaman dengan Tri dan Alfian.


"Ya Allah Beb, gua sampai nggak bisa tidur. Mikirin Lo, sampai tega banget tuh orang, pake acara lukai leher Lo." ucap Silvi.


***


"Lo sibuk nggak?" tanya Clarisa pada Silvi.


"Gua mau ada acara sama teman kampus." jawab Silvi.


"Oh yaudah, kirain nggak temani gua disini."


"Abang Lo mana?"


"Kan Lo tahu sendiri, lebih baik gua ngalah. Emang gua salah, karena selalu merepotkan dia, dah gua harus sadar diri."


"Tapi kan, Lo itu keluarganya, adik kandung masa sih tega."


Alfian dan Tri yang sedang duduk sambil bermain ponsel, saling melirik dan dengan segera Tri berdiri, lantas mendekati Clarisa dan Silvi.


"Abang juga bisa, temani kamu selesai Dinas." ucap Tri.


"Jangan Bang, nggak usah." ucap Clarisa.


"Nggak apa - apa loh, lagian Abang nggak ada kerjaan kalau sudah lepas."


"Jangan Bang makasih."

__ADS_1


"Bang Tri ini, kayaknya suka ya sama Cla?" sindir Silvi.


"Hahahaha.. kalau Cla mau jadi pacar Abang, tapi Cla kayaknya tidak mau sama Abang."


Clarisa hanya tersenyum, dan mencoba melirik pria yang di sukainya hanya cuek bebek fokus dengan ponselnya.


***"


"Git, kamu harus punya rasa belas kasih. Masa sama adik ipar kamu kayak gitu, Abang harus jaga Cla di rumah sakit." ucap Kemal.


"Sekarang jaga di rumah sakit, besok setelah keluar dari rumah sakit dia buat ulah lagi, dan Abang fokus dia lagi. Mana perhatian Abang sama keluarga, jangan Cla terus." ucap Gita.


"Lagian kamu itu, kenapa tidak suka sama Cla? padahal dia tidak punya masalah sama kamu."


"Gua nggak suka saja sama dia."


"Tolong, kalau kamu cinta dan sayang sama. Abang. Kamu juga cintai Adik Abang, tolong kamu jangan seperti ini."


"Ok, sekarang Abang pilih cla atau pilih kita! Abang pilih yang mana?"


****


"Cla, kita semua sedang cari itu pelaku. Lo jangan khawatir, masalah ini akan terselesaikan." ucap Boy.


"Benar, dia itu pantas di hukum secara berat. Gua heran saja, marahnya pada Sendiri, kalau Lo yang kena." ucap Iyos.


"Tinggal seret saja si Malvin, menunggu apalagi, kita pukuli sampai tidak berdaya. " ucap Toni.


"Malvin tahu, hubungan gua dan Sandi beberapa tahun lalu, sebelum Sandi keluar negeri. Malvin tahu, Sandi begitu sayang. Dengan dia melakukan itu pada gua, pasti Sandi akan datang.Buktinya, Sandi diam saja. Karena tahu, memancing amarah Sandi." ucap Clarisa menjelaskan.


"Gara - gara hadiah, padahal Sandi tidak sepenuhnya uang dari dia, itu ada yang lain juga." ucap Boy.


"Begitu lah."


****


Sandi menatap Clarisa yang kini bersandar di kepala ranjang, Sandi datang setelah Boy, Iyos dan Toni pulang.


"Maafkan gua, buat Lo terluka." ucap Sandi.


"Lo harus hati - hati, karena mereka ingin Lo masuk penjara."


"Gua sudah kerahkan semua anak buah, agar menangkap pria itu. Gua pun akan kasih perhitungan sama Malvin."


"Datanglah ke kantor Polisi, berikan informasi." ucap Clarisa.


"Dari dulu, gua sudah larang Lo, untuk jangan ikutan dalam club motor. Tapi Lo malah gabung tanpa bilang pada gua."


"Sorry."


.

__ADS_1


__ADS_2