
"Hi.. Cla, wuis seneng banget Lo main kesini." ucap Iyos.
"Gua kangen lah sama kalian." ucap Clarisa.
"Cla, bukannya dia itu Polisi?" bisik Boy.
"Guys, kenalkan ini pacar gua. Pasti yang sering tertangkap, atau di tilang pasti tahu lah." ucap Clarisa dengan memeluk lengan Tri.
"Hi... saya Tri." ucap Tri memperkenalkan.
"Salam kenal Pak." ucap Toni bersalaman dengan Tri.
"Jangan panggil Pak, Tri saja." ucap Tri.
"Anggap rumah sendiri bro, Clarisa juga biasa habiskan waktu di sini." ucap Iyos.
"Terima kasih." ucap Tri.
"Bang, kita ke atas yuk." tunjuk Clarisa untuk naik ke lantas dua.
Tri dan Clarisa naik ke lantai atas, terlihat beberapa pria sedang bermain kartu, bahkan tergeletak minuman beralkohol, dan ada sepasang kekasih sedang bermadu kasih.
"Cla, ini ngontrak apa punya siapa?" tanya Tri.
"Ini milik orang, tapi dia nya di luar pulau. Transmigrasi gitu, jadi kita bisa sewa sepuasnya. Lagian ini milik salah satu keluarga Iyos." jawab Clarisa.
"Tidak di demo warga?"
Hahahahaha..
"Ya nggak lah, kita sudah ijin terus asal tidak ganggu mereka. Warga sini aman, pokoknya nyaman siapa saja yang tinggal." ucap Clarisa membuka pintu kamar.
"Ini kamar siapa Cla?"tanya Tri melihat sebuah kamar dengan kasur lantai.
Clarisa duduk di atas kasur, dan Tri duduk di sampingnya. Tri melihat Clarisa menutup pintu kamarnya, lantas berbaring di atas tempat tidur.
" Kok di tutup Cla?" tanya Tri.
"Enak gini Bang, lagian kita nggak ngapa - ngapain kok. Tenang saja, ini kamar pribadi gua. " jawab Clarisa.
Tri lantas berbaring di samping Clarisa, keduanya sama - sama menatap langit - langit kamar.
"Abang itu suka sama Cla, suka apanya?" tanya Clarisa.
"Abang suka saja sama kamu, entah saat pertama lihat Abang sudah jatuh cinta." jawab Tri.
"Sebelum sama Cla, Abang sudah punya pacar?"
"Pacar Abang banyak dek, ada 5 sih. Kamu itu yang ke 6." ucap Tri jujur.
"Hah... yang benar Bang?" tanya Clarisa, dengan memiringkan tubuhnya ke samping Tri.
__ADS_1
"Iya, kamu ke 6." ucap Tri tersenyum.
"Banyak banget Bang! "
"Abang itu, pacar 5 semuanya di tinggal nikah. Ya kamu harus tahu, Abang itu playboy. Jangan heran, kalau pas jalan banyak cewek yang menyapa." ucap Tri tersenyum.
"Jangan - jangan, saya simpanan lagi." celetuk Clarisa.
"Nggak Yank, kamu bukan simpanan. Abang memang benar sayang sama kamu, Abang jomblo. Mana berani Abang khianati adik dari teman kakaknya Abang."
"Awas kalau bohong! "
Tri menindih tubuh Clarisa, wajah mereka sangat dekat, bahkan tanpa meminta ijin bibir Tri mencium bibir Clarisa.
"Mau tidak? Abang lamar kamu!" tanya Tri.
"Kalau itu, Cla belum siap Bang." jawab Clarisa.
"Iya nggak apa - apa, lagian kita juga baru jadian kemarin."
Clarisa mencium bibir Tri, lantas Tri membalas mencium bibir Clarisa.Tri lantas bangun dari tubuh Clarisa, kini keduanya kembali berbaring sambil menatap langit - langit.
****
"Moza, kita harus pulang. Mamah kan harus bekerja, kalau disini terus Mamah nggak kerja sayang." ucap Kamela.
"Nggak mau, Moza mau sama papah." ucap Moza memeluk lengan Alfian sangat erat.
"Nggak Mau!"
"Moza, yang nurut sama Mamah." ucap Kamela.
"Nggak mau, huuuaaaaa..!" ucap Moza menangis.
"Yaudah, Papah antar pulang." ucap Alfian.
"Papah nggak bohong?" tanya Moza.
"Iya sayang, besok Papah antar pulang." jawab Alfian.
"Yeeee.. asik..! "
Alfian dan Kamela melihat Moza loncat - loncat bahagia, lantas keluar dengan membawa bonekanya bermain di depan pintu kamar Clarisa.
"Abang akan antar sampai rumah?" tanya Kamela.
"Abang antar sampai stasiun." jawab Alfian.
Kamela tersenyum sedih, sambil menatap ke arah Moza. Lantas Kamela, memegang tangan Alfian.
"Maafkan saya, kalau saya egois." ucap Kamela.
__ADS_1
"Sudahlah,jangan bahas itu." ucap Alfian.
***
Kamela dan Moza sudah tidur,setelah membereskan isi koper mereka.Saat itu Alfian mendengar suara sebuah pintu terbuka, dan melihat dari balik gorden Clarisa baru saja pulang di antar oleh Tri.
Terlihat Tri masuk kedalam kamar, dan menutup pintu kamar. Alfian menutup kembali, gorden kamarnya.
"Sudah ah, pulang sana." ucap Clarisa saat Tri terus mencium bibirnya.
"Masih kangen." ucap Tri.
"Kan masih bisa ketemu besok."
"Kurang, walau tadi seharian."
"Sudah ah sana, nanti di lihat sama Bang Alfian. "
"Biarin saja."
"Sudah sana." ucap Clarisa mendorong tubuh Tri untuk keluar.
"Iya, bye..!" ucap Tri.
Clarisa menatap ke arah pintu kamar Alfian, menatap lama. Lantas Clarisa masuk kedalam kamarnya, dan mengunci pintu.
Clarisa berbaring sambil membuka ponselnya, dan ada sebuah pesan yang belum di buka. Pesan dari Alfian, yang terkirim lusa kemarin.
From : Alfian
Maaf, kemarin tidak bisa menyambung lagi. Saya akan jelaskan, siapa yang ikut bersama saya.
"Ih... siapa Lo, masa bodoh dia mau istri, saudara bukan urusan gua."
Alfian melihat chat yang dikirim, baru saja di buka. Alfian berharap Clarisa akan membalas chat nya, namun hingga kantuk yang berat. Clarisa tidak membalasnya.
***
"Sayang hati - hati, Papah janji akan pulang ke rumah." ucap Alfian dengan mencium kedua pipi Moza
"Janji, papah nggak boleh bohong."
"Janji, Papah nggak akan bohong."
.
.
.
.
__ADS_1