
Clarisa duduk di depan pintu, sambil mengecat kuku panjangnya. Saat itu Alfian baru saja pulang, mengantar Kamela dan Moza. Keduanya saling bertatap mata, lantas Clarisa fokus kembali pada cat kuku nya.
"Gimana lehernya?" tanya Alfian memulai pembicaraan.
"Sudah baik." jawab Clarisa singkat.
"Syukurlah, saya ikut lega." ucap Alfian yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Hari minggu, kamu tidak jalan?"
"Nggak! Bang Tri sekarang sedang jaga stand di Gor.Katanya ada Artisnya, Abang tidak ikut?"ucap Clarisa bertanya.
" Nggak, tadi habis antar ke stasiun." ucap Alfian.
"Oh." ucap singkat Clarisa.
Alfian lantas duduk di depan pintu kamarnya, kamar keduanya berada paling ujung sehingga tidak terganggu oleh lalu lalang penghuni kost lainnya.
"Kamu kenapa? chat kemarin baru di baca!"
"Sorry lupa!"
"Bukannya, kamu yang mengawali chat?"
"Kalau orang lupa gimana? ya maaf!"
"Padahal kamu online loh?"
"Chat tertumpuk."
"Kemarin itu anak Abang, dan dia mantan istri Abang." ucap Alfian, dan membuat Clarisa meletakkan koas cat kukunya.
"Kami sudah cerai secara agama, belum secara negara. Karena kamu sudah tidak ada kecocokan lagi, tapi kami tetap berusaha seperti keluarga di mata Moza, orang tua yang utuh. Kami belum ada yang mau, mengajukan proses cerainya, karena anak."
"Kalau demi anak, kenapa cerai! seharusnya kalian tetap bersama, walau keadaan seperti itu." ucap Clarisa melanjutkan mengecat kuku nya.
"Kami sudah coba, tapi satu tahun terakhir. Tapi yang ada, inginnya marah terus. Lama - lama, sudah aja lah."
Clarisa diam, tidak berkata sepatah kata pun, Alfian menatap Clarisa tetap fokus pada kuku nya, padahal kesepuluh jari kukunya sudah cantik dengan cat kuku warna pink.
"Saya cinta kamu Cla." ucap Alfian.
Clarisa tiba - tiba diam, lantas terus mengulang mengecat kukunya. Jantungnya tiba - tiba berdetak kencang, dan terus pura - pura biasa saja.
"Saya telat ya Cla! padahal kamu juga suka sama saya. Kamu sudah milik Tri, jujur saya cemburu Cla, saat kamu bersama Tri."
Clarisa menutup botol cat kukunya, lantas bangun dari duduknya. Alfian menatap ke arah Clarisa, lantas Alfian pun bangun dari duduknya.
"Cukup tahu saja Cla, saya juga sudah tahu jawabannya. Ini jatuh cinta yang kedua kalinya, setelah jatuh cinta sama Mamah nya Moza. Waktu chat malam itu, hingga malam berikutnya saya ingin dekat lagi sama kamu. Tapi semuanya tidak sesuai rencana, saya mengerti kamu pasti menjauh, saat Kamela datang. Cukup tahu saja Cla, dan langsung lupakan." ucap Alfian tersenyum lantas segera membuka kunci pintu kamarnya, dan masuk menutup pintunya kembali.
Alfian mengintip dari balik gordennya, melihat Clarisa masih berdiri mematung dan menatap pintu kamar Alfian.
"Saya tahu Cla, kamu itu sebenarnya suka sama saya. Hanya saja, saya telat mengatakan ini." ucap Alfian dari dalam hatinya.
****
Clarisa memilih untuk tetap di dalam kamarnya merebahkan tubuhnya, terdengar suara pintu kamar Alfian terbuka lalu terkunci lagi. Clarisa mengintip dari balik gordennya, Alfian akan pergi piket, dan sempat melirik ke arah kamar Clarisa, dengan segera Clarisa menutup kembali gorden kamarnya.
"Dulu dingin, sekarang malah mencari kayak es batu." ucap Clarisa.
Saat akan ke kamar mandi, terdengar suara ketukan pintu kamar. Clarisa lantas membuka pintu kamar kostnya, saat di buka Sandi tersenyum saat melihat dirinya.
"Sandi!" ucap Clarisa.
"Hi." sapa Sandi.
__ADS_1
"Hi juga, masuk Sandi." ucap Clarisa.
Sandi duduk di dekat pintu kamar Clarisa hanya di batas dengan lemari dan meja rias, Sandi duduk di atas karpet dengan menatap televisi yang menyala.
"Lo nggak mau pindah Cla? sempit begini!" ucap Sandi.
"Nggak, karena ini yang paling murah. Gua belum dapat duit, yang menetap setiap bulannya." ucap Clarisa.
"Lo belum aktif kuliah?"
"Belum, mungkin minggu depan."
"Cla, kagak ada Lo nggak enak. Balapan nggak seru, katanya kemarin Lo ke markas?"
"Iya sih, sama cowok gua."ucap Clarisa.
" Lo cepat ya dapat cowok lagi, nah gua belum dapat cewek lagi."
"Alah.. nggak usah ngeles Lo, habis putus sama gua, Lo udah putus tiga kali. Sekarang baru jomblo, ngomong belum dapat lagi."
"Ya kan benar belum dapat lagi, ini fakta dong. Salahnya dimana? "
"Salahnya, orang jualan ikan pindang. Udah tahu ikan mati, masih di kasih air."
Hahahaha..
"Lo lucu juga Cla!"
"Eh Lo mau minum apa? kalau Vodka gua nggak punya! nanti Abang gua datang, main buka lemari es dia nanti marah - marah." ucap Clarisa.
"Nggak usah repot - repot, gua kenyang minum."
****
Ceklek
Alfian menyerahkan satu kantung plastik, ke tangan Clarisa. Dan Clarisa mengangkat kantung plastik tersebut, sebuah sate dan nasi.
"Itu buat kamu, tadi saya mampir ke penjual sate." ucap Alfian.
"Thanks ya."
"Sayang." sapa Tri tersenyum.
Clarisa tersenyum saat Tri datang, Tri memperlihatkan dua kantung plastik, berisi buah, dan makanan.
"Abang belikan kamu ikan bakar, ada nasi juga kita makan sama - sama." ucap Tri.
Clarisa tersenyum sambil menatap ke arah Alfian, dan Tri pun tersenyum ke arah Alfian terlihat baru pulang.
"Saya masuk ke dalam dulu." ucap Alfian.
"Kita makan bareng yuk! banyak nih." ajak Tri.
"Nggak usah, saya sudah beli sate mau makan di dalam saja. Nanti ganggu lagi, sorry ya." ucap Alfian.
"Ayolah." Tri memaksa.
"Sorry ya, saya masuk dulu." ucap Alfian lantas masuk.
Tri dan Clarisa masuk, Clarisa menyiapkan piring dan sendok. Tri melihat ada Sate dan nasi, saat Clarisa membuka satu persatu bungkusannya.
"Sate dari mana?"tanya Tri.
"Ini di kasih sama Bang Alfian." jawab Clarisa.
__ADS_1
"Alfian!" ucap Tri.
"Iya, di kasih sama dia." ucap Clarisa, wajah Tri langsung berubah lantas kembali ceria.
"Itu puntung rokok banyak sekali Cla! kamu sehari habis berapa bungkus?"
"Oh itu tadi habis ada Sandi main, dia memang perokok berat. Nanti gua buang dulu, gua semprot pengharum ya maaf bau asap."
"Kamu ngapain saja sama Sandi?" tanya Tri.
"Nggak ngapa - ngapain, dia hanya ingin mampir saja. Pintu juga terbuka, kalau tidak percaya tanya kamar sebelah." jawab Clarisa.
"Abang tidak suka, kamu itu masukin teman cowok kecuali Bang Kemal, karena dia itu Abang kamu. Dan kamu itu pacar Abang, kamu bukan wanita sendiri lagi."
"Abang kan tahu, teman - teman Cla itu banyaknya cowok, dan kemarin Cla bawa ke sana tahu sendiri kan. Bang Kemal tahu, bahkan warga kost sini tahu mereka sering datang. Dan Abang tahu, gaya hidup Cla gimana."
"Maaf Cla, Abang nggak mau kamu hidup terlalu bebas."
"Cla juga bisa jaga diri Bang, Cla begini juga masih jaga badan. Abang kan tahu, gua itu seperti apa? gua pembalap liat, makan dari hasil balapan, hasil kerja di bengkel. Gua butuh makan sendiri, bukan mengandalkan dari orang lain. Dan Abang tahu, gua ini hidup sendiri. Yang penting tidak menjual diri, dan pantas kalau temannya banyak cowok. Percaya sama Cla, tidak akan ada yang aneh - aneh." ucap Clarisa.
"Maafkan Abang ya."
"Iya Bang, kita makan yuk."
***
"Eh.. kirain kamu sudah pulang." ucap Alfian.
"Al, saya ingin minta tolong." ucap Tri.
"Minta tolong apa?" tanya Alfian.
"Tolong awasi Clarisa, saya takut dia berkhianat." jawab Tri.
"Kamu kok nggak percaya dia sih?"
"Dia terlalu bebas."
"Kamu seharusnya paham, wanita seperti apa Cla! mulai dari lingkungan dan dari diri pribadi. Kalau kamu sayang dan yakin, nggak ada pikiran yang macam - macam."
"Dia banyak teman pria main, saya takut."
"Seharusnya kamu itu percaya, mana ana sahabat yang mau begitu sama Cla. Nggak usah cemburu lah, dia kan teman nya pria semua."
"Saya minta kamu awasi dia, kalau ada yang mencurigakan kamu bilang."
"Iya, tapi kalau di luar pantauan saya. Maaf saja, karena saya juga punya kegiatan. Tidak harus mengawasi cewek kamu, saran saja. Mencintai berlebihan itu tidak baik, dan setelah terikat terlalu mengekang pun tidak baik. Akan berdampak tidak sehat buat hubungan kalian, kepercayaan itu penting. Karena rasa percaya yang besar, akan menjadi hubungan yang langgeng." ucap Alfian.
"Terima kasih ya, untuk nasehatnya." ucap Tri.
"Iya, sama - sama."
****
"Yah lampu nya mati! kalau nggak salah, gua punya simpanan lampu."ucap Clarisa.
Clarisa membuka laci meja rias nya, ada satu lampu baru dan akan di buat ganti lampu yang lama. Clarisa pun menarik meja, dirinya pun naik ke atas. Tangannya berusaha menggapai lampu yang mati, dan berhasil melepaskan dari tempatnya. Clarisa memasang lampu yang baru, dan memutarnya namun tiba - tiba tubuh Clarisa tidak seimbang, dan terdorong kebelakang.
Aaaaaaaaa
.
.
.
__ADS_1