Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
keluarga gila harta


__ADS_3

"Kenapa katamu? Kau tidak berhak menyentuh sesuatu yang bukan milikmu! Apakah ini kebiasaan kalian saat melihat sesutu yang bukan menjadi hak milik Kalian?! Inikah yang kau lakukan terhadap ayahku sampai-sampai ia terkena stroke?? Huh?Kenapa? Kenapa kalian tega? Apa salha ayahku kepada kalian semua? Huh? Jawab!"


Deg!


Deg!


Seseorang yang baru saja tiba untuk menyusuk Mak nya membeku di tempat saat mendengar suara yang begitu di kenalnya.


"Gadis itu.. Syakira???"


"Jawab!" sentaknya lagi


Air matanya jatuh bercucuran di wajah putih nya. "Sebenarnya apa keinginan kalian? Hiks.. Apakah kalian memang sangat ingin melihat kami hancur?? Tapi kenapa harus ayah ku?? Kenapa dengan mama ku?? Apakah segitu inginnya kalian mengambil harta kami yang dirintis oleh orang kedua ku dari untuk kalian rebut secara paksa?? Huh? Hiks.." suara itu melemah saat melihat sang ayah juga ikut terisak disana.

__ADS_1


"Andai ku tahu tujuan kalian datang ke Jakarta dulu untuk menghancurkan ayahku, aku sudah mengusir kalian semua sejak awala. Aku tidak akan memberikan kemewahan kepada kalian semua. Menyesal aku pernah menolong orang-orang seperti kalian yang gila harta. Kalian ingin merebut sesutu yang bukan menjadi hak milik kalian! Buita mata buta hati aklian saat melihat ayahku terkapar di bangkar rumah sakit masih juga kalian keroyok. Ya Allah.. Kenapa aku diberikan keluarga pengeruk seperti ini... Hiks.. Mama.. Apa yang harus aku lakuakn dengan mereka semua??"


"Apakah aku harus menjebloskan mereka ke penjara dengan bukti yang sudah mama kumpulkan sejak dulu hingga nyawa mama yang menjadi taruhannya??"


Deg!


Deg!


"Ehem, ka-kalau begitu. Ka-kami harus segera pulang. Jaga dirimu bang Rajis. Jaga dirimu Sya. Ehm, kami pulang!" Katanya dengan segera berlalu dari ruangan itu.


Semuanya mengangguk setuju dengan wajah pucat pasi. Pak dekan tertawa. "Kenapa dengan kalian? Apakah ada yang salah dari ucapan Syakira aru saja hingga kalian memilih kabur??"


Semuanya semakin ketakutan. "Bagaimana mereka tidak takut Wak. Karena mereka lah penyebab mama terkena serangan jantung dalam sekejab. Semua itu karena mereka semua. Tetapi Uwak tenang saja. Aku udah mengantongi buktinya kok. Dan tadi sebelum kesini, aku sudah menyerahkannya ke polisi. Polisi akan segera datang dan menangkap nama-nama yang sudah aku berikan kepada pihak kepolisisan sesuai dengan pernyataan mama yang saat ini sudah aku serahkan ke polisis delam bentuk rekaman ponsel. Yang bersalah tetap harus diadili. Tak peduli jika itu saudara ataupun orang lain! Jika itu pun Abang sepupu ku pun akan ku jebloskan ke penjara dengan dua pasal!"

__ADS_1


"Pasal pertama konspirasi pembunuhan, kedua penipuan yang menyebabkan semua harta kami habis tak bersisa. Beruntungnya aku, ada orang baik yang mau menolongku hingga ia memberikan semua bukti itu padaku tanpa meminta imbalan sedikitpun!"


"Itu hukuman yang pantas bagi orang yang telah membunuh dan menipu kedua orang tuaku. Aku tak berharap keluarga gila harta seperti kalian ini akan sadar. Tetapi semoga saja ketika kalian di dalam sel sana, kalian mendapat hidayah dan petunjuk agar hati dan pikiran kotor kalian terhadap harta orang lain yang kalian rebut secara paksa itu kembali bersih. Cukup Bunda Zizi dan almarhum Ayah Emil yang mengalaminya. Jangan lagi orang lain. Pergilah! kalian tidak bisa kabur. Karena nama kalian sudah ada dalam data kepolisian. Wak Ridwan?"


"Ya, Sya."


"Bawa mereka keluar. Mulai hari ini, aku tidak ingin melihat mereka lagi ada di dalam keluarga kita. Serahkan pada pihak yang berwajib. Agar mereka bisa mendapat hukuman yang setimpal."


"Tentu, Uwak sendiri yang memastikan kalau hari ini juga mereka semua akan masuk ke dalam penjara."


"Terimakasih Wak."


"Sama-sama Sya."

__ADS_1


__ADS_2