
Sebulan sudah berlalu sejak hari diaman ucapan Pak dekan itu terus terngiang di telinga keduanya.
Hari ini Pak dekan ingin menemui orang tua Syakira untuk membicarakan tentang kedua anak manusia yang sudah ia ikat sedari dulu itu.
"Ayah mau kemana? Jadi kah kerumah sakit untuk menemui Rajis di rumah sakit?" tanya istri dari pak dekan.
"Ya, Ayah harus kesana untuk menyampaikan amanat dari adik iparku dulu," jawabnya dengan tangan sedang mengancingkan lengan kemeja nya.
"ya sudah. Jangan lupa bawa ku kesukaannya ini. Salam saja untuk adik iparku itu. Hem.. Kasihan sekali dia. Begitu bisnisnya terpuruk. Malah keluarga kita menjauhinya. Padahal ketika ia sukses dulunya dialah yang selalu rajin menyambangi keluarga. Ternyata beginilah keluarga kita. Jika sudah susah dan blangsak nggak adayang mau lagi sama dia. Mereka sengaja menutup mata. Mereka tidak memikirkan tentang dirinya dulu yang begitu baik terhadap keluarga kita."
"Memang sudah seperti itu Bu. Kita yang waras aja yang menjenguknya. Bagaimana pun Rajis itu adikku. Aku tidak mau melupakan pengorbananya sedikit pun tentang kita dulunya."
"Tentu Yah, kita tahu balas budi."
Pak dekan mengangguk. "Ayah pergi dulu, Bu!"
"Ya, hati-hati. Salam untuk Syakira!"
"Ya, assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam.." sahut istri Pak dekan
Pak dekan meniki motor nya dan menuju ke rumah sakit yang berjarak dua puluh lima menit dari tempat tinggalnya.
__ADS_1
Ia sudah menghubungi seseorang dan bertemu disana. Ia sudah membuat janji sebelumnya akan mengadakan pertemuan dua keluarga di rumah sakit tempat dimana Ayah Syakira saat ini sedang dirawat.
Cukup dua puluh lima menit saja Pak Dekan sudah tiba dirumah sakit Ira Sarasvati. Tiba disana, ternyata orang yang duihubunginya tadi sudah ada disana dan tersenyum lembut saat melihatnya.
"Udah lama Zi?"
"Belum Paman. Baru aja lima menit." Sahut Bunda Zizi sambil menyalami Paman sepupu dari Ayahnya ini.
"Syakir nggak ikut?"
"Tadi sih udah kesini sama aku, Paman. Tapi tiba-tiba saja ada yang menghubunginya untuk segera kesana,"
"Siapa?"
Mereka berdua langsung saja menuju keruangan rawat inap Ayah Syakira yang saat ini sudah di penuhi dengan keluarga mereka yang sedang menjenguk ayah Syakira.
Ceklek.
Pintu ruangan itu terbuka. Suara yang tadinya ribut seperti sedang berdebat kini terdiam senyap sepi.
Seseorang dibangkar yang sedang tersedu itu memaksakan senyum saat melihat dua orang yang dikenalnya.
Tidak terlihat Syakira disana. "Assalamu'alaikum Paman.." sapa Bunda Zizi pada Ayah Syakira
__ADS_1
"Waalaikum salam, Zi. Kamu datang?"
Bunda Zizi tersenyum, "Tentu. Aku masih mengingat siapa dulu yang menyekolahkan ku hingga sukses seperti sekarang. Aku bukan kacang lupa akan kulitnya Paman!" Jawabnya sedikit menyindir keluarga besar Ayahnya disana.
Beberapa dari mereka menunduk karena mersa tersindir dengan ucapan Bunda Zizi baru saja. Tetapi ada beberapa diantaranya menatapnya dengan sinis.
Tetapi Bunda Zizi tidak peduli. Tujuannya kesana untuk menemui sepupu Ayahnya itu. Bukan keluarga besar dari ibunya yang sangat julid dalam menilai orang.
"Syakira mana Jis? Kok nggak kelihatan? Apakah mereka semua mengusir Syakira agar bisa menyerang mu??"
Deg!
"Mana ada kami seperti itu!"
"Lantas seperti apa?? Seperti ini maksudmu? Sengaja mengusir anaknya dan kalian mengeroyok bapaknya? Iya?"
"Kau...!"
"Apa!"
"Uwak?"
Deg!
__ADS_1