
Sementara ke enam lelaki berbeda usia mematung ditempat melihat layar besar dihadapan mereka. Yang mana Syakir sengaja menunjukkannya kepada Soni dan juga mereka semua.
Arta berdecak kesal berulang kali karena ulah Syakir dia jadi ingin segera pulang. Sedang Lana dan Ali mulut keduanya menganga lebar.
Sekiranya ada lalat dua kilo sedang lewat dan memasuki mulut keduanya pastilah penuh itu mulut.
Kenan terkikik geli melihat tingkah Syakir dan Syakira. "Mampus kau Soni! Rasain! Emang enak dihadapan sendiri wanita yang ingin kau tiduri malah ditiduri oleh suaminya sendiri?? Mana yang lebih menyakitkan dibandingakan dengan ini? Harga diri seorang pria pasti terluka saat melihat mangsa yang sudah lama ia tunggu tapi di ambil secara paksa dari hadapannya dari sang pemilik tubuh yang sebenarnya."
Ali mengangguk. "Kamu benar Ken! Pak Polisi, sebaiknya kita menunggu saja keduanya sampai selesai. Kalian boleh istirahat dulu disini. Paling cepat sampai subuh, paling lama ya sampai siang harinya!" celutuk nya yang membuat Lana mengangguk setuju dengan terkekeh-kekeh melihat tingkah adiknya itu.
"Benar kata Ali, Pak Polisi. Lebih baik kalian berdua istirahat dulu disini." Timpal Lana yang diangguki kedua polisi itu masih dengan terkekeh.
"Tapi Pak Lana.. Pembunuh itu?" tanya Pak Polisi karena penasaran dengan nasib Soni di dalam sana harus menyaksikan adegan live kedua pengantin baru itu.
Lana terkekeh lagi, "Tenang saja Pak. Adik saya itu tahu bagimana cara menangani pembunuh itu. Ayo, sebaiknya kalian istirahat dulu." Kata Lana lagi pada Pak Polisi dan diangguki oleh mereka berdua.
Mereka tidak lagi melihat layar besar dihadapan mereka semua saat ini yang mana Syakir baru saja ingin melepaskan pakaian Syakira tetapi teringat Soni dan kamera serta penyadap yang ia pasang harus ia matikan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jangan pergi Bang.. Ssstt.." lirih Syakira semakin blingsatan karena efek obat haram itu.
Syakir bergeming. Ia segera bangkit dengan tubuh sudah terbuka separuhnya dan mulai mengambil alat-alat itu dan menyimpannya didalam suatu tempat miliknya.
Setelah itu ia menggeser Soni tanpa melepaskan totokannya yang membuat Soni mengumpatinya dengan sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Setan kau! An jing kau Syakir! Lepaskan aku!" ucapnya dingin lirih karena suara nya tertahan.
Syakir menyeringai. "Nggak akan! Kamu harus merasakan penderitan seperti apa merasakan jika diri kamu menyaksikan kami bercinta dihadapan kamu tetapi kamu tidak bisa melakukan apapun!"
"Brengsek!"
Ia sengaja menutup kedua mata Soni dengan kain tipis warna hitam dan mengarahkan tubuh kaku itu ke tembok dengan telinga dipasangkan headseat di telinganya agar tidak mendengar semua yang mereka berdua lakukan saat ini.
Syakir menyeringai lagi. "Rasakan kau setan sialan! Ini hukuman yang pantas untukmu. Bagaimana rasanya saat kamu sedang tegang-tegangnya tetapi kamu malah tidak bisa melakukan nya??" ejek Syakir yang membuat Soni semakin meradang.
"Brengsek kau! Sialan!" umpat Soni semakin geram dengan Syakir.
__ADS_1
Ia tidak habis pikir dengan kedua orang itu. Bisa-bisanya ia dibiarkan saja di kamar itu disaat keduanya bercinta untuk pertama kalinya.
Syakir terkekeh lagi.
Beres dengan Soni, ia segera kembali pada Syakira yang kini semakin tidak menentu. Syakir mematikan lampu dan menghidupkan lampu kamar dengan lampu tidur temaram yang baru saja ia pasang untuk acara keduanya.
Karena Syakir sudah memperkirakan semua itu. Jangan salahkan Syakir jika berbuat demikian. Karena ia sebenarnya tidak ingin membiarkan Soni seperti itu.
Ingin sekali ia menghajar dan segera mengeluarkan nya dari kamar mereka berdua. Tetapi tidak karena melihat tadi ke empat saudaranya sudah begitu mengantuk.
Belum lagi Pak Polisi yang bertugas menangkap Soni pun demikian. Maka dengan sangat terpaksa Syakir melakukan hal itu.
Beruntungnya Syakir, Syakira sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Hingga bisa memudahkannya melakukan apa yang sudah ia pikirkan.
Syakir menghela nafasnya saat melihat di dalam lampu kamar temaram itu ada Soni yang sudah ia tutupi dengan kain pembatas agar nanti Syakira tidak terkejut melihat keberadaannya.
"Ya Allah.. Ampuni aku yang telah berbuat seperti ini. Aku terpaksa mengurungnya disini karena semua orang yang menunggunya begitu lelah sejak dua hari ini. Aku terpaksa membiarkannya disini dan menyaksikan apa yang aku lakukan terhadap istriku.. Maafkan hamba ya Allah yang telah membiarkan Syakira di sentuh olehnya.. Maafkan hamba ya Allah.." lirih Syakir di dalam hati merasa bersalah saat melihat Syakira yang kini semakin gencar dan gesit kembali menarik dirinya untuk melakukan penyatuan untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Semua itu karena obat. Jika bukan, pastilah Syakira seperti gadis lainnya yang akan malu-malu bila ingin disentuh untuk pertama kalinya.