
"Kak..?"
"Hem, kamu harus bersabar dengan sikapnya dek. Jangan meladeni dirinya kalau sedang marah seperti itu. Cukup dengan kamu diam. Karen dari pengalaman Kakak hidup dengan bang Tama, jika Kakak sednag marah dan ketus dalam berbicara, Abang selalu memilih diam. Ia lebih memilih mendiamkan kakak daripada harus bertanya-tanya yang semakin membuat Kakak semakin marah padanya."
"Kakak tahu, Syakira pun demikian. Ada suatu hal yang menyebabkan nya seperti itu. Kamu harus mengerti dengan dirinya. Jangan terlalu paksakan dirimu untuk bisa berbicara dengannya. Cukup kamu lihat dan amati. Perubahan apa yang terjadi pada dirinya. Biasanya seorang wanita itu akan berubah pasti ada alsananya. Kami, seorang wanita tidak mungkin marah tana sebab jika tidak ada yang sengaja memnacing emosi kami."
Deg!
Syakir terlonjak dari tidur nyamannya di pangkuan sang kakak. Annisa dan Kinara pun terkejut.
"Apa.. Karena kecelakan tadi ya? Makanya Syakira jadi marah-marah kaya begitu? Eh, nggak mungkin dong gara-gara kecelakan itu? Biasanyaada yang lebih parah dari itu, ia tidak pernah sebenci dan semarah itu, pastilah ada sesuatu. Abang yakin, ada sesutu yang membuat hatinya merasa gundah dan gelisah. Sebab, Abang sempat melihat pemuda yang menabrak Syakira itu seperti .. Apa ya. Sulit untuk dijelaskan lantaran wajahnya yang tertutup masker. Tetapi sangat terlihat sekali jika pemuda itu seperti yang sengaja menabrak Syakira dengan cara salah masuk jalan."
"Masa iya kecelakaan dari arah jalan satu arah? Udah tahu jalan itu satu arah, kenapa dia sengaja menuju kesana dan juga langsung menabrakkan dirinya dengan Syakira jika tidak memiliki motif tertentu??" ujar Syakir yang membuat Annisa dan Kinara saling pandang.
__ADS_1
"Maksud kamu, pemuda itu punya urusan dengan Syakira? Makanya ia dengan sengaja menabrak Syakira?" tanya Annisa dan diangguki oleh Syakir
"Benar kak. Yang kayak ada sesuatu diantara keduanya. Abang sempat melirik Syakira yang dengan kesal melirik pemuda itu dan juga ke ponselnya yang terus berdering tetapi ia abaikan lantaran Abang bersamanya. Setelah itu, Syakira berubah dalam sekejab. Abang yakin. Pasti pemuda itu penyebbanya. Abang harus bertanya Pada Ayah Rajis secara langsung. Besok, Syakira ada kuliah. Sedang Abang tidak ada mata kuliah yang harus diajarkan."
"Hemm.. Baiklah. Kalau begitu, kamu harus bertanya perlahan kepada pak Rajis. Pasti Syakira sudah menceritakannya. Syakira tidak mungkin menutupinya dari Ayahnya. Ayo kita masuk! Kakak lapar. Bunda sedang masak gulai ikan kesukaan kamu di dalam! Dan rencananya, Risma sama Arta akan menginap disini malam ini. Tetapi Kakak tetap harus pulang, ya!" peringatnya pada Syakir yang hampir memotong ucapannya baru saja.
Kinara tertawa.
Syakir pun mendadak kesal padanya. Walau begitu, ia senang jika Annisa disana. Karena dengan sedikit arahan darinya, Syakir bisa bersabar menahan segala rasa ingin tahunya tentang apa yang terjadi dengan pemuda yang menabrak Syakira tadi.
Ayah Rajis berusaha menenangkannya hingga satu jam lamanya barulah Syakira merasa tenang. Itu pun karena beliau mengatakan Jika Syakir yang akan menghabisi pemuda itu.
Maka dari itu ia harus bersabar dulu. Jangan melawannya yang akan memperburuk keadaan.
__ADS_1
"Ingat? Dua minggu lagi kamu akan menikah. Untuk itu, bersabarlah. Semua masalah itu ada jalan keluarnya. Jangan kamu mendiamkan Syakir! Karena hanya Syakir yang bisa melindungimu. Ingat Nak. Jika bukan karena Syakir, kamu pun sudah tiada saat ini.." lirihnya dengan memeluk sang putri satu-satunya dengan erat.
Syakira hanya bisa terisak di dalam pelukan sang ayah. Ia sangat stress saat pesan beruntun yang mengatakan jika orang itu akan kembali dan menuntut balas sama seperti kejadian beberapa tahun silam.
Pemuda itu sengaja mengancam dan meneror nya dengan tujuan agar Syakira kembali mengalami depresi seperti dulu. Dan disaat yang tepat, ia akan kembali untuk menuntut balas pada Syakira yang telah berani memenjarakannya.
Satu hal yang tidak ia tahu, bahwa orang yang telah memenjarakannya itu adalah Syakir. Calon suami Syakira.
...****************...
Mampir Yuk!
__ADS_1
No, cus kepoin!