
Setelah pertemuan tadi, kini Syakir dan Syakira sedang duduk termenung diruangan masing-masing.
Mereka berdua merenungi ucapan dari Pak dekan kemarin. "Apa yang kalian permasalahkan itu nggak ada gunanya. Toh, kehadiran dan kemunculan seseorang itu memang sudah di tentukan. Jangan selalu menyalahkan orang lain. Tapi jika ingin menyalahkan. Kenapa tidak menyalahkan takdir saja? Bukankah karena takdir kalian berdua menjadi bertemu?"
Syakir dan Syakira terdiam. Ingin berdebat, tetapi apa yang dikatakan dekan kampus itu memang benar adanya.
"Kalian bisa saja bermusuhan dan saling mendendam. Tetapi apakah kalian tau jika kalian berdua itu sudah di ikat oleh Takdir?"
Lagi, keduanya tidak bisa berkata. Mata itu menatap nanar pada Pak dekan yang kini berbicara kepada mereka berdua secara serius.
__ADS_1
"Kamu Sya. Kamu bisa saja menolaknya saat ini, tetapi jika suatu saat dialah yang akan menjadi pembimbing kamu bisakah kamu menolaknya? Sementara ayah mu sudah menyetujuinya?"
"Dan kamu Syakir. Bapak sangat mengenal pemuda sholeh seperti mu. Jangan selalu menilai seseorang dari kulit luar nya saja. Tetapi lihatlah apa yang tersembunyi di dalamnya. Bisa jadi apa yang kamu cari selama ini ada padanya. Masih ingat dengan surat AlQur'an yang mengatakan, diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Qur'an Surah : Al Baqarah ayat 216)
Hari-harimu mungkin tidak akan berjalan sesuai rencana, tapi yakinlah bahwa Allah itu Maha Mengetahui. Ia tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya.
Begitu juga dengan kehidupan kalian saat ini. Boleh jadi kalian membenci pertemuan saat ini tetapi Allah sudah mentakdirkannya. Karena DIa tau apa yang terbaik untuk kalian berdua.
Jangan membenci sesuatu jika nanti kamulah yang sangat membutuhkannya. Dan janganlah sangat menyayangi sesuatu, karena bisa jadi dari nya lah kamu terluka!"
__ADS_1
Keduanya memejamkan mata bersamaan saat bayangan ucapan dari Pak dekan tadi begitu menusuk jantung keduanya.
Entah apa tujuan dari Pak Dekan mengatakan hal itu kepada mereka berdua, mereka pun tidak tau. Yang jelas, keduanya begitu tersindir dengan kalimat teguran halus itu.
"Hah, aku tau. Allah punya rencana dibalik rencana. Karena Dia lah yang lebih mengetahui tentangku. Tetapi pertemuanku dengan gadis itu nggak tau aja. Entah apa, selalu saja aku salah dimatanya dan dituduh sebagai biang masalah. Emangnya aku mau apa mencari masalah sama dia? Ck." Syakir berdecak sebal.
Begitu pun dengan Syakira. Gadis itu kini termenung seorang diri di kamarnya. "Memangnya siapa juga yang mau cari masalah sama dia? Aku nggak mau kok. Dia nya aja yang selalu cari masalah denganku. Dari pertama bertemu hingga hari ini. Ada.. Saja yang menjadi masalah dengannya. Seolah takdir sedang mengikat kami berdua melalui masalah yang kami dapatkan setiap harinya. Eh? Tapi apa benar kata Uwak tadi, kalau takdir tau yang terbaik? Dan takdir juga sudah memutuskan jika aku dan berjodoh?? Hah? Nggak! Nggak mungkin!Impossible! Iam not sure!" ucapnya dengan terkekeh kecil karena tidak percaya.
Syakira lupa. Bahwa segala sesutu yang sudah di tetapkan dari lauhul mahfudh tidak mungkin salah.
__ADS_1
Baginya tidak mungkin karena belum mengalaminya. Tetapi jika sudah, baru ia akan atau jika takdir atau keputusan Allah itu bersifat mutlak.
Tidak bisa diganggu gugat lagi.