
POV Syakira.
Aku tidak bisa menolak keinginanmu ayah. Karena ku tahu, keinginanmu merupakan perintah yang harus aku turuti.
Jika bukan karena mu dulu yang merangkul ku disaat aku terpuruk karena kejadian nhas itu, mungkin aku tidak akan bisa berdiri seperti sekarang ini.
Syakir..
Pemuda tampan yang baru saka aku temui sudah berhasil mengusik hatiku sejak pertama kali aku melihatnya. Aku senagja bersikap cuek padanya karena aku taku, jika tubuh ini akan bereaksi di luar kendali jika aku bersentuhan sedikit saja dengannya.
Tetapi tdak. Tangan kurus ini sudah pernah beresentuhan dengannya saat pertama kali kita bertemu di koridor kampus.
Saat itu juga hati ini sudah terpikat padanya. Hanya saja.. Diri ini sadar. Bahwa gadis hina sepertiku tidak layak untuk menjadi pendampingnya.
Aku kotor.
Aku tidak layak untuknya. Pemuda yang dulu sedari aku berumur dua belas tahun sudah aku sukai. Tetapi keinginan itu kandas saat menyadari jika diri ini tidak pantas untuknya.
Keinginn hati dan angan ini terlalu tinggi untuk ku raih. Aku tidak mungkin bisa memilikinya karena aku sadar.
Diriku ini tidak layak dan pantas bersanding dengannya. Tetapi bagaimana caranya aku mengatakan hal ini kepada ayah?
Sementara Ayah sangat ingin menjodohkan serta menikahkan kami berdua? Apakah aku haru menolaknya dan melihat ayah kecewa?
Ataukah aku haru menerima perjodohan ini tetapi Syakir nanti yang akhirnya kecewa?
__ADS_1
Aku harus apa ya Robb..
Bukan maksudku menentang takdirmu. Hanya saja diri ini sangat tidak pantas untuk mendapinginya.
Terlepas dari kejadian masa lalu, dan juga permintaan ayah sangat membuatku tidak bisa berbuat appaun selain pasrah.
Apa yang akan Syakir pikirkan nanti jika ia mengetahui sebuah fakat tentang diriku?? Sanggupkah aku menghadapi kemarahannya?
Ataukah ia yang akan memutuskan pernikahan kami lebih dulu?
Sungguh, ini sangat menyulitkan ku.
Satu sisi aku ingin memenuhi keinginan ayah. Dan satu sisi lagi takut akan sebuah fakta yang ujungnya Syakir akan menjauh dan meninggalkan ku.
Belum lagi. Sejak pertemuan pertama kami, aku sudah mengatainya yang tidak-tidak. Ini akan menambah nilai minusnya aku padanya.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku harus apa?
Apakah ayah mau menerima penolakan ku?
Apakah ayah tidak akan kecewa?
Dan juga Uwakku itu sangat ingin enikahkan ku dengan Syakir.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan?
Hufffttt..
Oke. Aku sudah memutuskan. Bahwa aku akan menerma Syakir menjadi suamiku. Tetapi sebelum itu, ayah harus berbicara jujur padanya.
Lebih baik menuruti keinginan ayah daripada aku menjadi anak durhaka. Hanya Ayah yang aku miliki.
Semoga Syakir bisa mengerti tentang hal ini.
Bismilllah..
"Ayah?"
"Hem? Apa kamu bersedia menuruti permintaan ayah? Ingat nak. Kamu tidak akan pernah menyesal jika kamu memilih Syakir sebagai pendamping hidupmu," jawabnya yang membuatku tersenyum haru padanya.
Bagaiomana mungkin aku bisa menolak, sementara beliau sangat yakin jika Syakir bisa menjadi imam untukku dunia dan akhirat.
Bibir ini tertarik membentuk senyum lembut, "Ya, akau bersedia ayah. Tapi.." Aku menggantungkan ucapan ku yang membuat senyum ayah redup seketika.
Ah, aku tidak akan memikirkan hal itu. Lebih baik menuruti keinginna ayah dulu. Terima tidak teriam terserah Bunda zizi dan juga Syakir nanti.
Yang penting, aku harus mengatakan keinginan hati ini. "Tapi.. Ayah harus jujur pada bunda Zizi dan Syakir tentang masa laluku. Aku tidak mau mereka nanti marah padaku karena telah mersa dibohongi. Bisa kan Yah?"
Ayah tersenyum manis sekali. "Tentu sayang. Sekarang panggillah Bunda mu dan juga calon suami yang sedari dulu kamu inginkan itu." godanya membuat pipi ini seketika merona malu.
__ADS_1
"baik, ayah. Tunggu sebentar." Jawabku dengan segera bangkit dan keluar dari ruangan untuk mencari mereka bertiga tetapi sebelumnya ku hubungi dulu Uwak dan bertanya mereka dimana.