
Syakir pulang setelah menyusun acara pernikahan sekaligus penjebakan untuk menangkap Soni.
Walau Syakira sempat ragu tetapi Syakir bisa menenangkannya. Masalah dikampus pun sudah Syakir atasi pada ke esokan harinya.
Dalang pelaku teror dan pelaku yang menyebarkan aib Syakira merupakan orang yang sama. Berkat kerja sama para dosen dan juga Aldo sebagai tangan kanan Syakir yang Syakira sendiri tidak tahu, semua masalah itu bisa terselesaikan.
Syakir sudah mengantongi bukti-bukti itu. Dan saat ini ia sedang mencari bukti lainnya. Semenjak berita di kampus itu hilang, bukannya teror yang di dapatkan oleh Syakira berkurang, malah semakin bertambah setiap harinya.
Sudah seminggu ini, Syakira terus mendapatkan teror dari pelaku penganiayaan dirinya yang merupakan Abang sepupunya sendiri.
Syakira selalu mengatakan hal itu kepada Syakir. Syakir dengan sigap mengambil semua barang bukti teror itu.
Hari ini, Syakir dan Ayah Rajis sudah membuat rencana untuk mendatangi rumah keluarga Soni dan mengundang mereka. Ayah Rajis akan datang bersama Uwak Ridwan agar Ayah Rajis ada yang melindunginya dari serangan keluarga Soni.
"Ayah dan Uwak hati-hati di dalam. Kalau mereka cari ribut, segera hubungi aku disini." Ucap Syakir sedikit merasa cemas akan keselamatan kedua orang itu.
Dua orang yang sangat dekat dengan Syakira. Ayah Rajis dan Uwak Ridwan tersenyum.
"Tentu, Nak. Tunggulah sebentar. Jika kamu mendengar kami ribut, cukup duduk diam saja. Kami sudah terbiasa mendengar mereka ribut dan selalu menyalahkan kami berdua." Jawab Ayah Rajis dan diangguki uwak Ridwan.
"Betul itu!"
__ADS_1
Syakir mengangguk dan bisa bernafas lega. Kedua nya punsegera masuk ke dalam rumah itu. Pertama kali yang terlihat adalah Soni. Lelaki yang sudah sengaja membunuh istri dan merusak masa depan Syakira, anak kandung Ayah Rajis. Beliau menguatkan pegangannya pada tongkat yang ada di tangannya saat ini.
"Ehem, assalamu'alaikum kak Nita!"
Deg!
Uwak Nita yang baru saja dari dapur hendak menuju ke kamarnya berhenti di tempat mendengar ucapan salam dari Ayah Rajis.
Uwak Nita terkejut. Begitu pun dengan Soni dan ke empat adiknya yang lain yang saat ini sedang berbaring santai diruang tamu sambil menonton tivi.
"Ada apa kamu kesini?! Ingin memenjarakan putra saya lagi? Iya?!" ketusnya pada Ayah Rajis yang kini tersenyum teduh padanya.
"Dijawab dulu kak salam ku. Kamu muslim kan ya?"
"Untuk apa paman kesini? Heh?!" sentak Soni dengan mata nyalang seperti ingin menerkam nya hidup-hidup.
Uwak Ridwan Ayah Rajis terkekeh kecil. "Siapa yang ingin memenjarakan kamu, Soni. Kamu masuk penjara itu gara-gara kelakuan kamu sendiri. Yang sudah menodai anak gadis orang. jangan salah kan kita dong? Salahkan dirimu sendiri dan juga Mak kamu!"
Deg!
Soni mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Uwak Ridwan. Tangan itu sangat gatal ingin menyambar pipi paruh baya yang banyak bicara menurut Soni.
__ADS_1
Plak!
"Jangan menyentuh wajah saya!" ucap Uwak Ridwan sengaja m,enepuk wajah Soni dengan surat undangan pernikahan Syakira. "Itu undangan untuk kalian sekeluarga. Undangan pernikahan Syakira! Mau datang atau pun tidak, tidak masalah buat kami. Toh, kalian sendiri kan yang rugi karena tidak bisa makan enak? Karena suami Syakira merupakan keluarga orang kaya!"
Deg!
Deg!
Soni semakin marah mendengar ucapan Uwak Ridwan yang menyindirnya dan juga keluarganya. Ia tersenyum smirk melihat kedua paruh baya yang kini juga menatapanya dengan santai itu.
"Baik, kami akan datang! Kami akan menghabiskan semua makanan disana termasuk dengan pengantinnya!"
Deg!
Deg!
Kedua orang itu semakin tersenyum lebar. "Kami tunggu kedatangan kalian semua. Kami permisi!" ucap Uwak Ridwan dengan segera keluar dan menuju moil milik syakir yang menunggu keduanya dengan gelisah.
"Misi pertama selesai!" imbuh Uwak Ridwan yang diangguki oleh Syakir dengan bibir tersenyum lebar dan sedikit smirk disana.
...****************...
__ADS_1