Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
Di Teror


__ADS_3

"Berarti perubahan yang kemarin terjadi itu lantaran dirinya sedang tidak nyaman dengan pemuda yang dulu pernah menganiaya dirinya?" tanya Syakir pada Ayah Rajis yang kini menatap sendu pada Figura besar foto Syakira dan dirinya disana.


Beliau mengangguk, "Ya, semua itu karena pemuda itu."


"Jangan bilang kalau pemuda itu adalah pemuda yang sengaja menabrak Syakira kemarin?" terka Syakr yang membuat Ayah Rajis menghela nafasnya.


Beliau menunduk, "Benar. Pemuda itu Abang sepupunya. Soni. Anak dari Abang kandung Ayah yang telah berpulang Bang Rizki Ubaibillah Siregar.."


Deg!


Deg!


"Apa?" seru Syakir semakin terkejut.


Ayah rajis tersenyum miris. "Pemuda yang sengaja ingin membunuh saudara sepupunya sendiri karena mereka mengira jika harta yang Ayah dapat selama ini adalah harta warisan kedua orang tau kami. Dan mereka menginginkannya. Padahal harta itu milik Ayah. Benar, jika harta itu warisan orang tua kami. Tetapi bagian Ayah usahakan dan sering ayah Investasikan di berbagai saham. Semakin lama semkain tinggi harga saham semakin banyak keuntungannya untuk Ayah. Setelah uang itu cukup, ayah bangunlah sebuah perusahaan yang ayah risntis sendiri dari nol. Hingga maju dan pesat setelah memasuki kancah internasional. Tetapi semua itu hancur karena keserakahan mereka semua. Yang mengakibatkan Ayah terpaksa menjual perusahaan itu kepada orang yang tepat mengelolanya." Ujar ayah rajis tersenyum pada Syakira yang kini tersenyum lirih padanya.


Syakir masih juga terdiam, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Karena kejadian yang terjadi kepada Ayah Rajis sama seperti almarhum Ayah Emil dulunya.


"Berarti yang meneror Syakira kemarin itu merupakan Soni putra dari Uwak Ubai??" tanya Syakir masih mencari kebenaran pada lelaki paruh baya itu.


Ayah Rajis tersenyum, "Ya, Itu Soni. Dua hari sebelum kepulangan mu, rumah ini sudah diintai dari kejauhan dan ayah tahu siapa itu. Ternyata itu Soni karena terlihat jelas wajahnya saat Ayah memantau rekaman cctv dirumah ini. Ia ingin masuk, tetapi tidak berani karena ada cctv nya." ujarnya yang membuat Syakir mengangguk.

__ADS_1


"Apa ada teror lain lagi selama dua hari ini?"


"ada. Malam kemarin saja rumah kita dilempar dengan batu bertuliskan KAMU HARUS MATI SYAKIRA! Ini dia." Ayah Rajis memberikan bukti batu dan juga tulisan itu.


"Kertas dan batu itu dilempar ke kamar Syakira. Tidak mengenai kaca jendela hanya di Balkon saja. Tetapi tetap saja Syakira ketakutan sampai tidur pun Ayah yang temani. Hari ini ia nekad ke kampus karena ada satu mata kuliah yang ia harus datang karena ujian, katanya." Jelas Ayah Rajis dan Syakir mengangguk.


Syakir termenung memikirkan sesuatu. Begitu pun dengan Ayah Rajis. Lama keduanya termenung hingga dengungan suara motor memasuki pagar rumah Ayah Rajis membuat keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Assalamu'alaiku-,"


Deg!


Deg!


Kaki Syakira bergetar. Begitu pun seluruh tubuhnya. Kedua kakinya bergetar dan mundur ke belakang sat meihat Syakir.


Ia menggeleng dengan wajah yang pucat pasi. Syakir berdiri dansegera menagkap tubuhnya yang ingin berlari menghindar darinya.


"Jangan lari Sya! Kita tangani masalah ini bersama. Jika kamu lari, yang ada masalah ini semakin bertambah. Dengarkan Abang Sya!"


Syakira tetap menagis sambl memaksakan diri ingin pergi Syakir. "Hiks.. Enggak! Lepas Bang! Lebih baik abang cari wanita lain saja! Jangan aku! Aku tak pantas untukmu!" serunya semakin meronta di dalam peluka Syakir.

__ADS_1


"Enggak! Kamu yang paling pantas Sya!"


"Enggak! Aku nggak mau!" tolaknya lagi semakinpilu terdengar di telinga Syakir.


Lelaki tampan berkumis tipis itu terisak melihat calon istrinya tertekan akibat teror itu.


"Lepas!"


"Nggak akan!"


"Lepas Bang Kiki!!"


"Nggak akan Sya!!! Sekali Abang meilihmu, maka selamanya ahnya kamu!!!"


Dddduuuuuaaaarrrr..


"Aaaaaaaaaaaa..."


"Ya Allah..."


...****************...

__ADS_1



__ADS_2