Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
Belanja keperluan lamaran


__ADS_3

Setelah perbincangan Annisa dan juga kedua saudaranya yang lain. Dan juga tiga adik Annisa yang lainnya sudah mereka beritahu.


Ada yang Annisa sesalkan. Di saat adik nya menikah, tapi ketiga orang tuanya sudah tiada. Kedua orang tuanya, tewas dibunuh oleh musuh dari anak angkat Abang nya sendiri.


( Ada di kisah Kak Malda anak Bang Lana ye? Di Kembalinya Ratu Telaga Baru.)


Jika bukan karena mobil mereka disabotase, mungkin saat ini mereka masih hidup dan masih bersama dengan yang lainnya.


Kejadian itu masih berbekas hingga saat ini. Walau sudah enam bulan berlalu, seluruh keluarga masih berduka akibat kepergian duas orang yang sangat mereka sayangi dan hormati.


Mengingat itu rasanya Annisa, Tama, Syakir dan Bunda Zizi hanya bisa menghela nafas berat. Mereka akan tetap mengadakan acara lamaran itu tanpa mereka.


Toh,yang sudah pergi selama-lamanya tidak akan kembali lagi. Ingat saja firman Allah dalam Alqur'an.


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).


 


Maka dari itu tidak perlu lari dan juga menghindar. Karena jika ajal sudah menjemput, tidak tahu dimana tempat kita pasti akan di jemput untuk pulang ke sisi Allah.


أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

__ADS_1


“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).


Jika mengingat dua ayat ini, pastilah kita tidak perlu bersedih. Karena sudah ada dalil yang menguatkan kita untuk tidak bersusah hati tentang kematian.


Bukankah kita ini milik Allah? Dan juga akan kembali kepada-Nya?? Seperti yang tertuang di dalam Alqur'an.


اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ


Artinya : (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).


Sudah sangat jelas akan semua yang tertulis. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah akan takdir yang tertulis sejak kita belum dilahirkan. Di dalam lauhul Mahfudh.


Keesokan harinya.


Wajhnay yang terlihat memiliki kemiripan dengan Annisa tetapi lebih kepada Tama itu, kini sangat aktif.


Sedari tadi terus saja berlarian hingga Syakir yang mengikutinya kewalahan. Annisa hanya bisa tertawa saja.


"Ayo! Biarkan keponakan kamu itu tinggal bersama Mbak nya. Kita harus belanja untuk keperluan besok. Di percepat kan ya acara lamaran dan pertunangan kamu?" tanya Annisa pada syakir


"Iya kak. Keluarga Syakira meminta di percepat. Takut jika pelaku kejahatan Syakira lepas dlam waktu dekat ini."


"Hem, Ya sudah. Ayo kita berangkat! Kakak dan Mbak sus jaga adek ya? Mami mau temani Om kalian belanja dulu. Besok kita akan kerumah ibu baru untuk kalin semua!"

__ADS_1


"Tentu mami. Kakak sama Abang akan nungguin adek-adek kok." Sahut Tania putri sulung annisa yang kini sudah remaja tanggung.


"ya sudah, Mami bernagkat dulu. Assalamu'alaikum.."


"Waalaikum salam Mmai, Om hati-hati!" sahut Tania sembari memperingati kedua orang yang akan pergi berbelanja keperluan untuk acara pertunangan Syakir esok harinya.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan kediaman Annisa. Sebelumnya, Annisa sudah memberutahukan hal ini kepada Tama. Dan Tama mengizinkannya.


Disinilah kedua kakak adik sedarah itu berada. Keduanya sedang membeli perhiasan di toko perhiasan milik almarhum sang papi yang kini sudah berpulang ke pangkuan Allah. Begitu pun dengan Maknya.


Keduanya sibuk memilih mana yang cocok dan mana yang tidak hingga salah satu orang kepercayaan sang papi menemui mereka.


Mereka berbincang hangat sebentar, setelahnya kedua orang itu dibawa masuk ke dalam untuk melihat barang peninggalan sang ppai untuk syakir, Arta, dan Bella.


Dua bagian itu sudah tersampaikan kepada sang empu. Tinggal giliran Syakir saja yang belum.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sambilan nunggu, mampir yuk!



Cus kepoin!

__ADS_1


__ADS_2