Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
Karena harta gelap mata


__ADS_3

Setelah semua saudara nya kini sudah pulang kerumah masing-masing, tinggallah pengantin baru itu saja.


Syakir merangkul bahu Syakira untuk dibawa masuk ke dalam. "Kita sarapan dulu ya? Baru setelahnya kita tidur. Abang ngantuk! Hoaaamm.." ucap Syakir menguap yang disambut kekehan Syakira padanya.


"Telur dadar tak apa kan ya?"


"Tak apa. Yang penting kenyang sebelum tidur.. Ya Allah.. Lengket banget sih ini mata?! Ishh.." kesal Syakir bersungut-sungut dengan kaki melangkah ke arah lemari piring dan mengambil piring dari sana.


Syakira tertawa saja menanggapi ucapan Syakir. Dengan cepat ia segera memasakkan dua butir telur untuk di makan berdua.


Nasi sudah tersedia. Sebelum semua keluarga pergi ke hotel, mereka sudah menanakkan nasi dan lauk untuk Syakira dan Syakir karena mereka tahu jika kedua pengantin itu pasti akan pulang kerumah dibandingkan menginap di hotel mewah milik almarhum papi Gilang.


Saat Syakir membuka lemari penyimpanan makanan milik Syakira, ia tertegun sejenak. Taka lama setelahnya tersenyum.


"Ini ada lauk kok Yang? Udah masak telur dadarnya?" tanya Syakir pada Syakira


"Udah, baru saja. Abang duduk aja dulu. Biar aku yang ambilkan." Katanya yang diangguki oleh Syakir.


Syakir segera duduk dan mengambil piring. Satu piring saja. Cukup untuk keduanya.


Keduanya pun makan dengan lahap walau kantuk sangat mendera keduanya. Bisa di lihat dari wajah kuyu keduanya yang makan dalam keadaan terpejam.


Keduanya tertawa saat merasakan piring itu sudah licin sedang keduanya masih saja menyendokkan makanan yang ada di dalam piring itu.


Tanpa membersihkan lebih dulu barang diatas meja, keduanya segera berlalu ke kamar dengan Syakir menggendong Syakira menuju ke kamar pengantin mereka.

__ADS_1


Baru saja kedua nya berjumpa dengan bantal sudah terlelap dan tidak sadar apapun lagi.


Bagaimana tidak mengantuk, kalau keduanya tidak tidur semalaman karena sibuk dengan aktivitas panas keduanya.


Semua itu karena Syakira yang di cekoki obat haram itu. Jika tidak, mana mungkin Syakira bisa seliar itu. Pastilah satu ronde saja sudah tepar tak berdaya.


Keduanya terklelap dengan sangat nyaman. Tidur dengan saling berpelukan dimana keduanya kini sudah halal dimata hukum dan agama.


*


*


Satu bulan kemudian.


Syakir yang sudah kembali aktif mengajar di kejutkan dengan berita tentang Soni yang kini seperti orang gila di dalam tahanan.


Syakira yang mendapatkan kabar itu pun segera mendatangi rumah sakit jiwa bersama Syakir. Keduanya langsung menuju ke dalam ruangan dimana Soni kini sedang duduk termenung seorang diri.


Sesekali ia berbicara dan bergumam tidak jelas. Sesekali pun ia mengumpati kedua orang itu yang kini mematung melihat dirinya.


Soni mengumpati keduanya dengan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya.


"Beginilah keadaan Soni setelah putusan pengadilan yang mengatakan jika ia ditahan seumur hidup di dalam tahanan ini. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha menyembuhkan nya. Tapi ya.."


Syakir menghela nafasnya. "Tak apa Pak. Ya sudah, kami pulang dulu. Ayo sayang. Lakukan yang terbaik untuknya pak. Jika ada sesuatu, segera hubungi kami."

__ADS_1


"Tentu Pak Syakir."


"Kami Permisi."


"Silahkan.." jawab salah satu sipir di penjara itu.


Ia pun kembali menghela nafasnya melihat Soni yang terus mengumpati kedua orang yang baru saja datang untuk melihat keadaannya.


Keduanya keluar dari rumah sakit itu dengan langkah yang berat mengingat Soni. Ada rasa tiidak tega dihati keduanya.


Tetapi apa yang harus mereka perbuat jika itu pilihannya sendiri? Bukan kah pilihannya sendiri yang menjatuhkan dirinya ke dalam lumpur hitam dan penghisap hingga ia tidak bisa bangkit lagi?


Jikalah ada sungai yang mengalir begitu bersih, kan lebih baik memilih yang air jernih dan dangkal daripada lumpur hitam pekat dan penghisap?


Inilah yang terjadi pada Soni saat ini. Semua itu karena keinginan nya. Tidak ada yang memaksa. Karena harta Soni gelap mata hingga memilih jalan pintas untuk memenuhi naf su serakahnya.


Seandainya ia berfikir sebelum berbuat, pastilah semua ini tidak akan terjadi. Tapi apa yang bisa ia perbuat saat ini jika nasi sudah menjadi bubur.


Tidak bisa kembali seperti nasi lagi. Melainkan bubur itu harus ditambah toping dan penyedap rasa agar lebih lezat ketika di santap.


Begitu juga dengan kehidupan.


Berpikir dulu sebelum bertindak baik dan buruknya. Karena semua itu akan berimbas pada diri kita sendiri.


Semoga Soni bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah mendapatkan musibah yang ia buat sendiri.

__ADS_1


...****************...


Maaf ye, othor baru update? 🙏


__ADS_2