Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
Berlatih bersama Annisa


__ADS_3

Ucapan keduanya berhenti saat di seberang sana ada seseorang yang memanggil Syakir untuk makan malam.


"Sudah, akan Abang kirimkan nomor kakak. Abang mau makan dulu. Malam ini Abang harus berangkat ke Jakarta. Belajar yang benar dan sungguh-sungguh. Jika dia datang, hubungi Bang Lana dan Ali. Keduanya bisa melindungi kamu." imbuhnya dengan tersenyum manis padanya.


"Tentu Bang. Abang pun demikian. Hati-hati. Selalu jaga diri. Assalamualakum.."


"Waalaikum salam.." sahut Syakir dengan mata yang masih memerah.


Bunda Zizi memeluknya dengan erat. Kembali Syakir tersedu di pelukan Bunda Zizi. Bunda Zizi mendengar semua apa yang mereka berdua bicarakan.


Hal yang baru ia tahu, kalau Syakira korban pelecehan karena dendam. Dendam akan pembagian hak waris dari keluarga Ayah Rajis yang ternyata pelakunya itu Abang sepupunya sendiri.


"Ya Allah.. Semoga Syakira kuat ya Nak menghadapinya?"


Syakir hanya mengangguk dan tersedu. Keduanya larut dalam tangisan yang memilukan tentang masa kelam Sykira yang Syakir sendiri sebagai saksinya.


Kesokan paginya.


Syakira pergi dengan mengendarai motor maticnya menuju kerumah Annisa. Keduanya sudah membuat janji ingin bertemu dirumah Annisa.


Perjalanan kerumah Annisa lumayan jauh dari posisinya saat ini. Butuh waktu satu jam setengah untuk tiba di kediaman Annisa dan Tama.


Ia tiba disana sudah agak siang. Sudah memasuki waktu Dhuhur. Kinara yang memang sudah menunggunya dirumah Annisa, tersenyum lebar melihat calon Kakak iparnya itu.


Walau umur keduanya terpaut jauh, tetapi Kinara tetap menyebutnya dengan Kakak Ipar.

__ADS_1


Kinara tersenyum melihat kedatangan Syakira yang kini menggunakan baju gamis pemberiannya.


"Assalamualaikum, Kinara!"


"Waalaikum salam, Kakak Ipar! Ayo masuk dulu. Abang sama Kakak, sudah menunggu mu," jawab Kinara yang membuat Syakira tersenyum manis padanya.


Keduanya pun masuk dan segera menemui tuan rumah. Mereka semua akan melakukan sholat berjamaah.


Berhubung Syakira sedang kedatangan tamu bulanannya, ia memilih menunggu dan duduk bersama si kembar Fanya dan Fania yang kini sedang bermain bersama Agam.


Putra bungsu Annisa yang sangat menggemaskan. Syakira di buat tertawa dengan kelakuan Aggam.


Inilah yang terjadi jika Syakir menginap ataupun Agam kerumah Bunda Zizi. Bocah kecil berusia lima tahun itu, sedang mencoret wajah sang Kakak yang saat ini mendapatkan hukuman darinya.


Syakira tertawa-tawa melihat tingkah lucu Aggam. Ia menoleh saat Annisa dan yang lainnya baru saja siap.


Syakira mengikutinya. Dibelakangnya ada Ali dan Kinara sedang bergandengan. Sesekali keduanya terkikik geli.


Entah apa yang mereka bicarakan, Syakira pun tidak tahu. Untuk Lana sendiri, ia sedang bersama Tama diruang kerja Tama.


Karena ada hal yang mereka berdua bicarakan sebelum melatih Syakira.


Sedangkan di taman belakang, saat ini Syakira sudah berganti pakaian yang ia bawa dari rumah dengan celana training longgar berwarna abu-abu dan juga baju kemeja longgar berwarna hitam sepanjang lutut, kini ia sedang berlatih bersama Annisa.


Kinara pun sesekali mengikuti gerakan itu. Ali sangat kesal pada istrinya itu.

__ADS_1


"Dibilang bahaya! Kok ngeyel sih?" kesal Ali padanya.


Kinara hanya terkekeh saja. "Abang tenang saja. Semua ini bagus untuk Ibu hamil tua seperti ku. Sebulan lagi loh.."


"Iya Abang tau. Tapi gerakan kamu itu loh. Serem Abang lihatnya? Masa' iya dengan perut buncit begitu kamu ingin bangkit berdiri? Apa nggak brojol duluan itu anakku?" ketusnya pada Kinara yang membuat Syakira dan Annisa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ali.


Sedang Kinara menatap suaminya dengan wajah malasnya. "Selalu gitu! Kan adek mau latihan juga Abang Ali ku sayang...??" ledeknya dengan wajah merengut masam.


Tama dan Lana yang baru saja tiba terkekeh melihat wajah masam Kinara yang dilarang ikut berlatih bersama Syakira dan Annisa.


"Udah, kamu ngapain latihan lagi sih dek? Kamu itu udah nggak perlu latihan. Yang perlu kamu lakukan sekarang itu, kamu harus mengajarkan Syakira ilmu totok urat saraf yang diajarkan Malda padamu. Jika kakak mu tidak bisa, Syakira pasti bisa. Tidak menutup kemungkinan bukan?"


Annisa mengangguk setuju. "Hooh, benar itu! Kamu harus ajarkan Syakira tentang ilmu totok saraf itu. Jika Kakak tidak bisa, Syakira pasti bisa mewarisi ilmu kanuragan milik Malda itu."


Kinara berpikir sejenak. Sedang yang lainnya mengangguk setuju.


"Baiklah, kita coba sekarang. Ayo, kita duduk disana."Tunjuknya pada Tama yang kini sedang duduk di pondok itu sambil makan buah semangka bersama Lana.


Syakira mengangguk. Ia mengikuti langkah berat kinara dengan perut buncitnya. Sangat lucu terlihat.


Syakira jadi membayangkan dirinya jika suatu saat nanti akan sama seperti Kinara dalam mengandung buah cinta nya dan juga Syakir.


...****************...


Yuk mampir! Othor bawa cerita baru lagi untuk kamu baca.

__ADS_1



Noh, cus kepoin!


__ADS_2