Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
Kepergian mendadak Syakir


__ADS_3

Tringgg


Tringgg


Suara ponsel berbunyi membuat tidur Syakir terganggu. Ia yang baru saja terlelap karena akvitas berbagi keringat dengan Syakira di kejutkan oleh suara ponsel miliknya berbunyi di pukul tiga pagi dini hari.


Syakir menyipitkan matanya dan mengambil ponsel di atas nakas dan menekan tombol warna hijau itu.


"Ehm iya halo Tan? Ada apa? Ini masih pukul tiga pagi loh.." ucap Syakir sedikit kesal pada sekretarisnya itu.


".."


"Apa?! Bagaimana bisa?!" seru Syakir yang membuat Syakira terkejut.


Ia pun membuka kedua matanya. "Baik, baik. Oke, oke! sekarang aku berangkat! iya, iya Tan! Nggak akan! Syakira akan aman dirumah bersama ayah. Kalau ikut kita akan bahaya nantinya! Hem, ya. Waalaikaum salam.. Hisshh.. Baru aja tenang. Udah ada masalah baru lagi. Kenapa sih mereka suka sekali mencari masalah?" gerutu Syakir dengan segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mandi.


Syakira melihatnya saja. Kepalanya masih pusing saat ini. Ia kembali memejamkan matanya.


Entah berapa lama ia terlelap, kini suara Syakir mengalun lagi di telinganya.


"Sya.. Sayang. Bangun dulu bentaran. Abang mau ngomong sama kamu. Penting!" katanya yang diangguki Syakira dengan mata terpejam.


"Buka dulu matanya Sya. Abang mau ngomong, diburu waktu Sya." Lanjutnya lagi yang membuat mata Syakira terbuka perlahan.

__ADS_1


Syakira bangkit dan menyandarakan tubuhnya di kepala ranjang.


"Abang harus ke Jakarta sekarang. Ada masalah disana. Abang belum tahu kapan akan pulangnya. Untuk itu, ini berkas penting perusahaan milik kamu yang ada disini dan di Jakarta. Kamu harus ke Jakarta bilamana kamu di butuhkan disana. Kamu nanti akan di susul oleh Fatan. Ya?"


Syakira menatap Syakir dengan lekat. "kenapa mendadak bang? Apa abang yakin jika aku bisa memimpin perusahan ayah dulunya?"


Syakir tersenyum. "Kamu pasti bisa sayang. Istri seorang Syakir harus serba bisa. Karena pengganti Abang disaat Abang tidak ada di tempat, itu kamu. Untuk itu, kamu harus belajar sedikit demi sedikit. Lagi pun, kuliah kamu kan hampir beres?"


Syakira mengangguk dan tersenyum, "Ya sudah. Abang berangkat sekarang? Aku nggak bisa ngantar ke depan loh.."


Syakir terkekeh, ia mengecup kening, kedua pipi, hidung bangirnya. Terakhir putik ranum yang selalu membuatnya candu itu.


"Abang pamit. Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Jika ada apa-apa, segera hubungi semua saudara kita. Ya?"


Deg!


"Abang pergi sayang.. Assalamu'alaikum istriku.."


"Wa'alaikum salam suamiku.. Semoga selamat sampai tujuan dan juga jangan lupa sholat dalam keadaan apapun!"


Syakir tersenyum, "Tentu." Jawabnya


Syakir segera berlalu menyeret koper kecil miliknya hingga ke depan pintu. Tiba di depan pintu, tatapan mata Syakir mendadak meredup dan sendu.

__ADS_1


Syakira merasakan ada kejanggalan saat Syakir pergi di tengah malam seperti ini. Ia melihat tatapan mata Syakir yang tidak biasa padanya.


"Jaga diri sayang.. Semoga kita berjumpa lagi.."


Deg!


Deg!


Deg!


Tubuh Syakira mematung seketika saat mendengar suara lirih Syakir untuknya. Air mata itu turun tanpa di pinta.


Melihat Syakir yang telah pergi, Syakira pun ikut berlari keluar hingga menuju pintu rumah yang sudah tertutup rapat.


Terdengar suara deru mesin mobil di luar sana yang membuat hati Syakira semakin gundah dan kalang kabut.


Ia kembali ke lantai dua dan menuju ke balkon. Dari atas sana dapat ia lihat jika mobil Syakir berlalu dengan sangat kencang di komplek perumahan mereka.


Syakira tersedu mengingat ucapan Syakir baru saja padanya.


Jaga diri sayang.. Sampai kita berjumpa lagi..


~ Konflik terakhir menuju episode-episode terakhir ye?

__ADS_1


__ADS_2