
Setelah puas menangis di kantornya kemarin siang, hari ini Syakira masih datang ke kantor mereka.
Ayu, sang asisten mengikutinya sedari rumah mereka. Syakira tidak berbicara sepatah kata pun. Ia semakin dingin saja. Semakin sulit untuk di ajak bicara.
Ayu menjadi tidak enak akan hal ini. Tetapi apa yang harus ia perbuat jika ini adalah permintaan Syakir untuk membuat kejutan untuk istrinya.
Seluruh keluarga sudah tahu akan rencana ini. Bahkan si kembar pun ikut andil di dalamnya. Hanya syakira sendiri yang tidak tahu.
Jiwa Syakira yang dulunya tidak gila kerja, kini menjadi gila kerja. Ayu selalu melaporkan perkembangan nya kepada Syakir di Singapura sana.
Ya, Singapura.
Setelah pertemuan dengan semua keluarga besar dan membicarakan tentang rencana nya, kini ia kembali ke Singapura.
Tempat dimana selama sepuluh yahun ini ia diami demi melindungi Syakira dan ketiga buah hatinya dari kejaran musuh yang ingin menjatuhkannya.
Kini, ia tetapdisana untuk sementara waktu sembari mengurus percetakan buku miliknya dan juga ada beberapa usaha lainnya.
*
*
*
Hari-hari yang Syakira lalaui begitu berat. Bagaimana tidak, jika dirinya selalu melihat bayangan Syakir di setiap ia melihat keluar kantornya.
Ia selalu melihat Syakir berada di seberang jalan sana tetapi tidak seorang diri, melainkan dengan wanita lain.
Pernah sekali Syakira mengikutinya tanpa sepengetahuan Ayu dan Syakir sendiri. Fakta yang sangat mengejutkan Syakira temui.
__ADS_1
Ternyata Syakir selama sebulan ini sudah kembali lagi ke Medan dan sudah menetap disana lagi. Di kediaman Bunda Zizi.
Syakira yang mengetahui itu tersenyum kecut. Ia menagis sepanjang malam melihat perubahan Syakir saat ini.
Dulunya Syakir kalau pulang selalu ingin menemuinya, tapi sekarang? Malah keluarganya. Seolah dengan harta Syakira sudah cukup makanya dirinya di abaikan.
Syakira memantapkan hatinya untuk ikhlas dengan keadaan yang dimilikinya saat ini. Mulai hari itu juga Syakira memantapkan hatinya untuk melupakan syakir.
Pemuda yang sedari kecil ia sukai dan menjadi pelindungnya hingga ia bertemu kembali. Tetapi sekarang semua itu sudah tidak ada gunanya lagi.
Penantian Syakira selama sepuluh tahun ini hanya sia-sia belaka.
Syakira sudah semakin jarang pulang kerumah untuk menemui ketiga anaknya. Ketiga anak kembar itu sering menangis ketika mengadukan hal itu kepada Syakir.
Tapi Syakir bisa mengatasinya dengan baik. Ia tetap menenangkan ketiga anaknya untuk bersabar. Hanya sebentar lagi walau sebenarnya ia pun jadi ketar ketir dengan rencananya sendiri.
Hari ini Syakira baru akan kembali dari Padang setelah melakukan perjalanana bisnis seorang diri tanpa ditemani siapa pun.
Ayu, sang asisten tidak di izinkan ikut karena harus mengurus kantor. Sedang ketiga anaknya ia titipkan kepada Ayah Rajis dan juga babby sitter ketiganya.
Walau mereka sudah besar, tetap saja Syakira menyediakan seorang pengasuh khusus untuk mengurus mereka.
"Gimana Yu? Syakira udah sampai mana saat ini?" tanya Syakir di dalam lobi kantornya yang kini sudah sangat sepi karena acara kejutan ini yang sengaja di adakan di perusahaan Syakir sendiri.
"Dua jam lagi sampai kok. Sabar Pak. Anda yakin, jika Syakira tidak akan marah pada Anda setelah apa yang anda perbuat untuknya?"
Syakir menghela nafasnya. "Entahlah Yu. Melihat sikap Syakira yang begitu dingin dan tidak peduli apapun pastilah akan sangat sulit. Tapi biarlah waktu yang menjawabnya. Saya tidak bisa menebaknya Yu. Kita lihat saja malam ini seperti apa kejadiannya."
"Ya sudah, saya harus menyiapkan si kembar dulu Pak."
__ADS_1
"Ya, kamu pun juga bersiap. Tamu kita sudah tiba!" tunjuknya pada mobil sedan yang membawa tamunya dari Singapura itu.
Ayu tersenyum melihat itu. Keduanya pun menyambut tamu itu dengan baik dan segera menuntun mereka ke hotel milik Syakir yang ada disebelah perusahaannya.
Pukul Enam lewat tiga puluh menit, syakira tiba di depan perusahaan nya. Niat hati ingin mengambil berkas penting malah dikejutkan dengan suasana perusahaan dan hotelnya menjadi gelap gulita.
Baru sebentar ia berdiri mematung disana, lampu semua ruangan sudah menyala. Syakira terkejut lagi.
Ia menoleh ke sekitar dan menelisisk semuanya.
"Kok aneh ya?" gumam Syakira sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan nya untuk mengambil berkas penting.
Ia berjalan masuk ke dalam dan menaiki lift. Sepanjang perjalanan yang Syakira lalui terkesan seperti ada yang berbeda.
"Tapi apa ya? Kenapa aku merasa kantor ini sepi tapi penghuninya ada? Hemm.. Bairlah. Yang penting berkasnya!" ucapnya pada pada diri sendiri.
Tiba di depan ruangannya Syakira segera masuk. Ia mengambil berkas yang ia perlukan kemudian keluar dari ruangan itu.
Tapi belum lagi Syakira memegang handle pintu, ia merasakan ada seseorang diruangan itu. Syakira menoleh ke belakang.
Ia menelisik semua ruangan itu. Ia mencari dimana asal sesutu yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
Sedang seseorang itu melototkan matanya saat dirinya hampir ketahuan Syakira.
Ia bersembunyi dibwah kolong meja kerja Syakira. Syakira memicingkan matanya melihat seseorang itu.
Ia berdecak kemudian segera berlalu sambil menyeringai. Syakira keluar dari ruangan itu segera mengunci pintu itu dengan remot yang ia bawa di tangannya.
Seseorang di dalam sana, tertawa melihat kelakuannya. "Benar-benar cerdik! Tak apa! Kita akan bertemu sebentar lagi!" gumamnya sambil membuka pintu ruangan itu dengan kunci yang ada di tangannya.
__ADS_1