
Syakira masih saja tertawa saat melihat Syakir yang kini berwajah datar padanya. Ingin sekali Syakira memukul pundak lelaki itu karena merasa lucu.
Tetapi itu tidak mungkin. Yang ada nanti dikira Syakira SKSD lagi. Alias sok kenal sok dekat. Syakira nggak mau dikatakan gadis gampangan oleh pemuda yang selalu suka mencari masalah dengannya itu.
Syakir berdehem dan berbalik memasuki ruangan Dekan. Syakira masih saja tertawa hingga memegangi perutnya.
Saking gelinya dengan ucapan Syakir yang sama dengan nya tadi. "Haha.. Elu ketularan gaya ngomong gue kan? Kualat kan lu! Selalu cari masalah sama gue??" ledeknya pada Syakir yang kini melengos ke arah lain.
Syakira semakin tertawa. Tidak ingin ia pun ikut tertawa sama seperti ucapannya tadi, Syakir memeilih pergi.
Tapi sebelumnya ia melepaskan dulu pengait tasnya yang memang benar-benar nyangkut di tasnya.
Syakir berdecak sebal ketika melihat bagaimana bisa belitan tas nya itu begitu kuat tersangkut di milik Syakira.
"Ini tas kok bisa nyangkut kuat gini sih?" gumam Syakir dan itu terdengar oleh Dekan kampus yang mendekati mereka berdua.
"Nggak usah di lepasin tas kamu Sya!"
__ADS_1
"Hah?" sahut keduanya kompak karena merasa nama mereka berdua dipanggil.
Dekan itu tertawa lagi. Sudah sedari tadi ia melihat sepasang anak manusia yang saling membenci tetapi seolah takdir selalu saja mempertemukan mereka berdua.
"Cie.. Cie.. Kompak nih ye? Sya... Ki... Ra! Syakir dan Syakira! Nama yang unik!" katanya lagi sengaja untuk meledek pasangan itu.
Eh belum jadi pasangan. Sebentar lagi akan menjadi pasangan. Karena beliau sendiri yang akan mengikat mereka berdua dalam tali perjodohan.
Keduanya melengos saat di ejek seperti itu. Syakir berdehem. "Maaf Pak Dekan. Saya permisi keruangan saya dulu."
"Silahkan calon mantu!" jawab Pak dekan masih dengan tertawa melihatnya dan Syakira yang kini pura-pura sibuk melihat ponselnya.
Syakir melotot kemudian menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Pak dekan tertawa lagi.
Setelah Syakir masuk keruangan dosen, tinggallah Syakira dan Pak dekan saja.
"Sya!"
__ADS_1
"Apa!" ketusnya
Pak dekan yang merupakan uwaknya itu tertawa. "Jangan galak-galak gitu lah sama nak Syakir. Nanti jodoh tahu rasa kamu!"
"Ihh.. Ogah aku sama dia wak! Bukan level ku!"
Pak dekan tertawa. "Bukan tipe mu tetapi jodohmu yang sengaja Allah kirimkan untukmu kelak. Hanya dia yang bisa membimbing kamu seperti ayah mu!"
Deg!
Syakira menoleh pada Pak dekan. "Kenapa Uwak begitu yakin, jika Asdos itu bakal calon suamiku?" tanya nya dengan serius
"Karena Uwak melihat jika kalian berdua memiliki kemiripan yang sama. Sudah lama Uwak memikirkan ini. Dan ya. Setelah kepulangan mu dari Jakarta dan Uwak lihat sendiri persamaan kalian berdua, Uwak sadar. Jika dia pemuda yang memang sudah ditakdirkan untukmu Sya. Percaya sama Uwak." Katanya pada Syakira untuk meyakinkan.
Sedang Syakira menatap dalam pada manik mata yang mirip dengan sang ayah itu. "Aku nggak tau Wak. Aku nggak tau tentang takdir kehidupan seseorang. Tetapi jika memang sudah ada jodoh yang disiapkan untukku, maka aku akan berusaha menerimanya. Dengan catatan pemuda itu bisa menerima diriku yang apa adanya. Aku tidak memiliki kualitas apapun Wak. Jadi, aku tidak berharap lebih dari pemuda yang kelak akan menjadi suamiku. Siapa pun dan apapun dirinya, yang penting bisa menerimaku dan kekuranganku. Itu sudah cukup bagiku. Uwak kan tau sendiri jika aku punya masalah dengan namanya lelaki? Apalagi pemuda sepertinya yang selalu saja mencari masalah denganku. Maaf Uwak. Untuk sekarang, aku tidak ingin memikikan apapun. Kesembuhan ayah yang lebih penting untukku." Imbuhnya dengan segera berlalu meninggalkan sang uwak yang tersenyum melihat kepergiannya.
"Uwak yakin Nak. Kamu tidaka kan pernah terluka dan kecewa jika pemuda seperti Syakir yang akan menikahimu."
__ADS_1
Oke deh, othor mau promo lagi nih. Mampir ye?