
Setelah berbicara dengan sang ayah, kini Syakira sedang menghubungi Uwak Ridwan dan bertanya dimana keberadaannya.
Sambungan telepon terhubung.
"Iya Sya, Uwak lagi dikantin rumah sakit. Sedang makan siang!" jawab suara di seberang sana membuat Syakira terkejut bukan main.
Ternyata sudah siang. Ia sibuk menangisi dirinya hingga lupa dengan tamunya. Padahal makanan itu sudah ia sediakan.
Syakira merasa bersalah. "Maaf Wak. Kenapa uwak pergi? Aku udah nyiapkan makan siang untuk kita makan. Uwak balik lagi ya?"
"Ayo pak. Saya sudah siap makan siangnya. Mak udah juga kan?"
"Sudah," terdengar suara Syakir dan Bunda Zizi disana.
"Ya sudah, Uwak balik sekarang. Kamu tunggu disana saja."
__ADS_1
"Ya," jawab Syakira dengan segera masuk kembali ke dalam ruangan ayahnya dimana seorang suter baru saja mengantarkan makan siang untuk sang ayah.
Syakira tersenyum, "aku suapi ayah ya?" katanya pada Ayah Rajis yang kini menggeleng padanya.
"Tidak nak. Seluruh tubuh ayah memang terkena stroke. Tetapi tidak dengan tangan kanan Ayah."
"Tapi Yah.."
"Udah, ambil makanan kamu lalu duduk disini dan kita makan bersama. Pastilah Ibu mertua dan calon suami mu sudah dibawa makan 'kan sama uwak kamu?" terkanya yang membuat Syakira mengangguk.
Dengan cepat Syakira mengambil makanan yang terbungkus plastik dan segera duudk didekat bngakr ayhanya.
Sepuluh menit berlalu, kini dua keluarga kecil itu sudah berkumpul untuk membicarakan tentang perjodohan kedua anak mereka.
"Maafkan Paman Zi. Kalian sampai harus makan di kantin. Padahal Syakira tadi sudah membelikan makanan untuk kita makan." Ucap ayah rajis merasa tidak enak pada Bunda Zizi.
__ADS_1
Syakira diam saja. Ia memilih menunduk tidak ingin melihat siapapun. Sementara Syakir edari masuk terus saja memperhatikan Syakira.
Mata menatap padanya, tetapi hati dan pikiran meraba-raba entah kemana.
"Jangan dipikirkan Paman. Paman Ridwan udah memberikan kami makan kok. Tenang aja. Kami tidak akan kelaparan. Lagipun, saya punya seorang putra. Mana mungkin putra saya membiarkan mak nya kelapran sedang dirinya memuliki uang yang cukup untuk bisa memberi Mak nya yang sudah tua ini makan?" seloroh Bunda Zizi disambut gelak tawa oleh Paman Ridwan Dan Paman Rajis.
"Kamu benar Zi. Putramu memanglah sangat bertanggung jawab. Maka dari itu, Paman sangat ingin jika Syakir yang menjadi suami dari anak Paman. Bagaimana Syakir? Apakah kamu bersedia menikah dengan Putri sulung Ayah?" katanya pada Syakir yang kini sedang melamun sambil menatap Syakira.
Ketiga orang itu terkekeh melihat Syakir yang melamun sembari menatap Syakira. Bunda Zizi pun menepuk bahunya.
Syakir yang terkejut karena tepukan lembut dari Bunda Zizi pun menghela nafasnya. "Jika memang keputusan kalian para orang tua merupakan yang terbaik untukku, aku mengikutinya. Aku setuju. Tetapi apakah Syakira menyetujui untuk menikah dengan ku? Sementara kita ini seringkali bertengkar setiap kali bertemu. Syakira!"
Deg, deg, deg..
Jantung gadis itu berdegup tidak karuan saat mendengar suara tegas tetapi lembut itu. Ia menoleh pada Syakir yang kini menatapnya.
__ADS_1
"Ya,"
"Apakah kamu setuju menikah dengan pemuda sepertiku? Maaf sebelumnya, jika kehadiran ku selama hampi dua bulan ini membuatmu tidak nyaman. Aku bukanlah pria yang romantis yang pandai mengatur kata-kata indah untukmu. Tetapi aku hanya ingin bertanya. Apakah kamu bersedia menikah denganku? Menikah denganku, berarti kamu harus siap hidup sederhana bersamaku dirumah Mak Zizi. Aku hanya punya satu orang tua. Jadi, aku ingin berbakti padanya. Dan kita akan tinggal bersamanya kelak setelah kita menikah. Apakah kamu bersedia untuk menjadi istriku dunia dan Akhirat Syakira Fadillah Siregar??"