Syakir Dan Syakira

Syakir Dan Syakira
Rencana lamaran


__ADS_3

"Kamu bukan tua adekku yang tamvaaaannn.. Ih! Gimana sih? Udah dibialngin juga! Gini ya dek! Kamu itu berumur matang. Sama seperti Bang Tama menikahi kakak dulu. Begitu pun dengan suami Kinara. Kalian itu bukan tua. Umur kalian yang bertambah, paham?" ucap Annisa lagi masih saja membantah ucapan Syakir.


"Apapun ceritanya, abang tetap aja udah tua! Lihat aja Arta. Di umurnya yang masih dua puluh lima, ia aja udah meiliki dua istri! Lah Abang? Jangankan dua, satu pun Abang nggak punya Kakak!" bantahnya lagi yang semakin membuat Annisa gemas pada adik lelaki kesayangannya ini.


"Iihh... Cup!"


Syakir meolotot. "Kakak! Abang udah besar ya! Jangn di kecup lagi napa?!" sewot Syakir tidak suka dengan perbuatan Annisa padanya.


"Apapun ceritanya, kamu tetap masih kecil dimata kami! Mana Syakir yang dulu sering merengek sama Kakak minta dibeliin buku, pensil, tas, baju seragam, hem?"


Syakir menatapnya malas. "Kakak ku sayang... Itu dulu. Saat abang masih berumur tiga belas tahun! Lah ini? Abang udah hampir tiga puluh Kakak! Dua tahun lagi loh.."


"Nggak! Bagi kami. Kamu tetap masih kecil. Umur kamu saja yang bertambah. Tetapi kelakuan kamu masih saja sama. Syakir Abbas Syahputra Adik kecilku yang selalu merengek meminta apapun sama Kakak!" imbuh Annisa dengan mata berkaca-kaca.


Syakir pun demikian. Bunda Zizi dan Tama hanya bisa terkekeh kecil saja melihat keduanya. Walaupaun sudah dewasa tapi kedua orang itu tetap saja masih berrdebat dan juga sering ejek mengejek jika sudah bertemu.

__ADS_1


Tetapi dibalik semua itu, sykir dan Annisa tetap saling menyayangi. Apalagi Annisa. Dialah yang menjadi panutan bagi ketiga adiknya yang lain.


"Sudah, jangan berdebat. Sebaiknya kita amsuk dan bicarakan tentang masalah lamaran untuk Syalira esok lusa. Lebih ceat lebih baik. Takutmya keduluan sama orang lagi kayak dulu.." lirih Bunda Zizi mendadak sendu kala mengingat Syakira disana.


Annisa memeluk Ibu tirinya itu. "Jangan sedih Bunda. Semua itu sudah takdir. Kita tidak boleh kecewa. Kehormatan seorang gadis merupakan mahkota bagi gadis itu sendiri yang akan ia serahkan kepada suaminya kelak. Tetapi bukan kehormatan yang menjadi tolak ukur dalam sebuah pernikahan Bunda.. Bagus banget loh.. Syakira berani jujur begitu. Jika tidak, bunda pasti akan kecewa. Tetapi tidak dengan Syakir. Karena dialah pemuda yang dulu pernah menyelamatkannya. Sekarang kita tanya sama Syakir. Kamu dek, apakah kamu keberatan jika Syakira tidak lagi perawan??"


Syakir menggeleng. "Sama yang seperti kakak katakan tadi, kalau Abang membina rumah tangga buka karena gadis itu perawan atau tidak. Keperawanan itu bonus bagi kami seorang lelaki karena kami beruntung mendapatkan seorang istri yang masih suci dan bisa menjaga dirinya dengan baik. Tetapi berbeda dengan Syakira. Ia terpaksa mendapati dirinya tidak suci lagi lantaran sebuah kecelakaan yang terjadi dan mahkotanya ternggut di saat itu. Abang tidak masalah Kak. Yang penting Syakira seorang wanita shalihah. Sekarang belum. Insyaallah ke depannya jika kami berdua sudah menikah, perlahan abang akan menuntunnya menuju jalan Allah dan akan menjadikan ia wanita shlaihah seperti Mak alisa, Mak Zizi dan Kedua kakak ku tentunya." Jawab Syakir mantap.


Ketiga orang itu bernafas lega dan sangat beruntung memiliki anak dan adik seperti Syakir yang sangat pengertian. Tidak menuntut apapun dan juga selalu patuh jika di perintah.


"Ya Nak."


"Hubungi orang tua Syakira. Katakan pada mereka kita sekeluarga akan datang ke tempat mereka ke tempat mereka untuk melamar Syakira untuk adikku yang tanvan ini!" Ucap Annisa menggoda Syakir.


Syakir memutar bola mata malas. Bunda Zizi tertawa. "Tentu Nak. Kalian yang berbelanja. Tetapi kami orang tua yang akan melamranya. Tetap kamu tidak boleh iku syakir. Karena melamar sekaligus kalian bertunangan. Adan dalam islam, seorang mempelai tidak diperkenakn hadir saat lamaran dan juga tynangan. Kalian akan dipertemukan saat acara pernikahan kalian berdua dilangsungkan paham?"

__ADS_1


Syakir mengangguk. "ck. Padahal tadi diruamh sakit udah peluk-peluk aja!" gerutu Bunda Zizi yang dipelototi oleh Annisa.


"Ehehehe.. Reflek aja kak. Karena hal itu pun pernah Abang alami saat ia dulu direnggut mahkotanya walupun tidak sepenuhnya." lirih Syakir di ujung kalimatnya.


Mata Annisa memicing. Syakir menggeleng dan tersenyum. "Sudah, ayo masuk. Sudah waktu ashar. Makan malam dulu baru pulang!"


"Tentu Bundaku yang cantik dan baik hati...." Bunda Zizi, Syakir dan Tama tertawa bersama.


***************


Sambilan nunggu, mampir Yuk kesini!



Cus kepoin!

__ADS_1


__ADS_2