
"Syakira!"
"Ya?"
"Apakah kamu setuju menikah dengan pemuda sepertiku? Maaf sebelumnya, jika kehadiran ku selama hampi dua bulan ini membuatmu tidak nyaman. Aku bukanlah pria yang romantis yang pandai mengatur kata-kata indah untukmu. Tetapi aku hanya ingin bertanya. Apakah kamu bersedia menikah denganku? Menikah denganku dan hidup bersamaku??"
"Jika iya, kamu berarti harus siap hidup sederhana bersamaku dirumah Mak Zizi." katanya sambil melirik Bunda Zizi yang kini menggelengkan kepalanya, tetapi Syakir tidak peduli. " Aku hanya punya satu orang tua. Jadi, aku ingin berbakti padanya. Dan kita akan tinggal bersamanya kelak setelah kita menikah. Apakah kamu bersedia untuk menjadi istriku dunia dan Akhirat Syakira Fadillah Siregar?? Siap menerima kelebihan dan kekuranganku yang akan terlihat setelah kita menikah nanti??"
Syakira menatap lekat padanya.
Kamu melamarku dihadapan kedua orang tua kita??
"Ya! Aku melamarmu dihadapan kedua orang tua kita. Karena mereka lah yang akan menjadi saksi atas perjodohan ini."
Deg!
Deg!
__ADS_1
Syakira tersentak saat Syakir menjawab isi pikirannya. Ketiga orang tua itu terkekeh saat wajah terkejut Syakira.
"dijawab Nak. Jangan tunjukin wajah terkejut mu begitu? Kamu sendiri barusan yang bertanya seperti itu ya dijawablah sama Syakir? Memangnya salah ya?" Tanya Ayah Rajis pada Syakira.
Syakira yang masih terkejut tentang ucapan Syakir dan Ayah Rajis menggeleng cepat.
"Nggak. Nggak gitu kok yah." kilahnya cepat.
Apa iya tadi aku keceplosan ngomong gitu?? Ah, masa' sih? Kayaknya nggakl mungkin deh!
Batinnya merasa bingung.
Syakira menatap Ayah Rajis, beliau mengangguk. "ya, aku menrima kamu menjadi suamiku dunia dan akhirat. Tapi..." Syakira menatap lekat pada Syakir.
"Tapi apa? Katakan saja." Kata Syakir yang kini masih menatapnya
"apakah kamu tidak akan mrah jika suatu saat kamu menemukan kekurangan yangada pada diriku? Apakah kamu akan membenciku karena kekurangan ku? Jika iya, lebih baik kamu mundur sekarang1 aku tidak maus sakit hati saat hati ini nanti sudah terpaut padamu..." lirihnya begitu pelan hingga mmebuat jantung Syakir berdenyut ngilu mendengar ucapan Syakira.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjawabnya."
Deg!
Syakira mendongak melihatnya. Mata itu mengembun. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sedang aku tidak tau apa yang menjadi kekuranganmu. Katakan dulu, baru aku bisa menjawbanya. Jngan takut. Apapaun yang akan kamu katakan, akan aku dengarkan dan kita cari jalan keluarnya bersama." Lnjut syakir yang membuat air mata Syakira benar-benar terjun di pipi halusnya.
Syakira meremas kedua tangannya. "Maaf sebelumnya. Kamu boleh mundur saat aku sudah mengatakan hal ini kepadamu. A-aku.. A-aku.. Hiks.." Syakira terisak.
"Katakan saja Sya!" ucap Syakir yang semakin membuatnya merasa tidak enak.
"Hiks.. A-aku.. Su-sudah.. Hiks.. Tidak suci lagi... Hiks.. Hiks.."
Ddduuuuaaaarrrr...
"Apa? Bagaimana bisa? Astaghfirullahal'adhim.. Kasihan sekali kamu, Nak!" seru Bunda Zizi reflek saja Syakira bersimpuh di kakinya.
"Maaf.. Inilah yang menjadi alasan ku kenapa tidak ingin menrima Putra Bunda untuk menjadi suamiku. Karena aku sudaj\=h tidak suci lagi.. Maaf.."
__ADS_1
Syakir terpaku ditempatnya. Mata itu menatap dalam pada Syakira yang kini terus menangis dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa bisa paman? Kenapa?" tanya Bunda Zizi masih terkejut dengan fakta yang baru saja di dengarnya