System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Terlalu meremehkan...


__ADS_3

Ada sebuah pepatah mengatakan, petarung hebat selalu menilai situasi dan kon disi untuk memperhitungkan kemungkinan yang terjadi.


Tapi hal itu berbeda dengan Alfert, walau dia termasuk salah satu jawara terbaik dari keluarga Galga, tampaknya dia masih belum memenuhi syarat sebagai petarung hebat dan terkesan gegabah.


Wushhh...!


Dengan percaya diri, Alfert berlari bak tiupan angin kearah Zefier. Dia langsung menyerang tanpa melakukan perhitungan.


Tuan Kasra berniat menghentikan, namun kata-katanya terhenti seketika. Kata-kata tuan Kasra berhenti bukan disebabkan Alfert yang bergerak terlalu cepat, melainkan apa yang dilihatnya saat ini sungguh diluar perkiraan.


Siapapun yang melihat kejadian di atas panggung, pasti tak akan percaya dan merasa mereka sedang berhalusinasi.


Ya, yang mereka saksikan saat ini adalah, kepala Alfert sedang berada dalam genggaman Zefier.


Aneh bukan? Tapi memang itu faktanya. Pemuda yang tadinya tak dianggap, ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.


"A, apakah ini nyata...?!" Semua orang mempertanyakan penglihatannya sendiri.


Galga yang sedang sibuk meratapi nasib anaknya, langsung mengalihkan perhatian dan terkejut saat melihat Alfert.


"Alfert, apa kau masih berniat main-main sedangkan keponakanmu sedang mengalami kemalangan? Hentikan lelucon ini...!" Teriak Galga.


Alfert mendengar teriakan kakaknya, tapi tampaknya Alfert tidak sedang dalam kondisi bisa memenuhi perintahnya. Menyelamatkan kepalanya yang serasa hampir remuk adalah prioritas utama.


"Oh? Apa hanya segini kekuatan orang yang dipercaya untuk menyerang aku?" Ucap Zefier. Sembari menekan Alfert hingga berlutut. Penampakan itu seperti seorang tuan yang sedang menghukum budak.


"Argh...!" Erang Alfert. "Aku terlalu meremehkan mu. Aku jadi sadar mengapa tadi kakak Galga mengingatkanku tentangmu."


"Lalu, apa yang akan kau perbuat?"


"Kau terlalu meremehkan ku, anak muda..." Ucap Alfert.


Alfert kemudian mengeluarkan kekuatan sejatinya. Dia kemudian memfokuskan diri, lalu dalam sesaat seluruh tubuhnya langsung diselimuti api ungu.


Wuzzz...!

__ADS_1


Api ungu milik Alfert langsung mengubah suhu di area tersebut. Membuat semua orang harus bertahan menggunakan energi masing-masing.


"Ugh...! Apa ini kekuatan orang yang berada di ranah Api sedang. Sungguh dahsyat." Batin semua orang yang ranahnya masih dibawah.


"Meski sempat membuat keajaiban karena mengalahkan tuan muda Leo, sepertinya orang gila itu akan habis kali ini." Ucap orang-orang Galga.


Api ungu yang merupakan api dengan tingkat panas kedua setelah api merah. Tapi Zefier selaku pengguna api merah, tampaknya tidak terpengaruh dengan keganasan api ungu Alfert.


Seharusnya semua orang akan lebih terkejut seandainya mereka sadar akan Zefier yang masih sanggup menahan api Alfert meski tanpa kekuatan api. Tapi mereka terlalu fokus pada Alfert dan tak menyadari itu.


Berbeda dengan Alfert yang menghadapi secara langsung menghadapi Zefier. Dia terkejut bahkan sampai memujinya.


"Hebat juga kau anak muda.... Aku akui, kau memiliki fisik yang kuat. Tapi apa kau berniat membiarkan tubuhmu terbakar ketimbang melepaskan aku?" Selain memuji, terselip aura mengancam dalam kalimat Alfert.


Alfert memegang tangan Zefier, lalu meningkatkan suhu panas apinya.


Tanpa menggunakan kekuatan api, bohong jika Zefier tidak merasa apa-apa. Sejatinya api memang harus dilawan dengan api. Tak ada sejarah yang pernah mencatat kekuatan fisik dapat melawan api.


"Hmmm..." Zefier tersenyum tipis. Tampak senyum itu meremehkan Alfert. "Sepertinya kau mulai serius...." Ucapnya.


"Argh...?" Erang Alfert sekali lagi. Kali ini dia yakin bahwa tengkorak kepalanya akan benar benar hancur. Tak hanya itu, Darah segar sudah mulai mengucur dari kedua lubang hidungnya.


Tak ada yang tahu persis kejadian apa yang sebenarnya terjadi dipanggung. Posisi tubuh Alfert yang saling berhadapan, kebetulan menutupi pandangan semua penonton yang terbentuk menjadi dua kelompok. Mereka hanya mendengar suara kesakitan alfert yang sesekali keluar.


"Alfert, apa yang kau lakukan....! Cepat habisi anak kurang ajar itu." Teriak Galga, lagi.


Kali ini Alfert bukan hanya tak bisa melakukan perintah kakaknya. Dia bahkan sudah tak mendengar lagi suara hiruk pikuk dunia ini, alias pingsan.


Setelah teriakan Galga barusan, Zefier langsung melempar tubuh Alfert ke hadapannya.


Mendapati hal itu, Galga sontak kaget dan marah besar. Bagaimana mungkin seorang pengguna api merah dapat mengalahkan api ungu. Bahkan Galga merasakan ranah Zefier yang hanya di ranah dasar, meskipun itu sudah ditahap maksimal, alias tahap pemahaman.


Seperti halnya Leo, Alfert mendapatkan luka bakar yang sama, ya itu dibagikan kepala. Namun apa yang menimpa Alfert bahkan jauh lebih histeris. Darah segar yang keluar dari hidungnya sampai membuat baju basah. Pemandangan tersebut membuat orang merasa ngeri dan ketakutan.


"A, apa yang terjadi...! Mengapa bisa begini? Anak itu.... Sepertinya memiliki beberapa trik." Batin Galga penuh kewaspadaan.

__ADS_1


"Anak gila sialan...!" Kali ini Galga benar-benar diluar batas dapat menahan emosi. Tangannya di kepal, Sorot matanya tajam kearah Zefier, layaknya hewan buas sedang mengintai mangsa.


Melihat kemarahan Galga, tuan Kasra segera mengambil tindakan. Dia tak mau hal yang tak diinginkan terjadi. Dia segera melompat dan berdiri membatasi antara Zefier dan Galga.


"Galga, mau apa kau...!" Tuan Kasra coba mencegah.


"Ini bukan urusanmu, Kasra...!" Galga semakin emosi melihat Kasra yang coba menghalangi niatnya.


"Galga, selain orang-orang mu telah melanggar aturan, kau sendiri bahkan ingin ikut-ikutan?" Kasra coba mengingatkan.


"Apa kau bilang...?! Setelah melukai dan hampir membunuh dua orang terdekatku, kau pikir aku bisa membiarkan hal itu?!"


"Bukankah itu ada dalam kesepakatan? Salah satu dari mereka bahkan tidak ada yang menyatakan menyerah, maka tindakan anak muda itu tidaklah salah."


"Huh, kau bahkan tidak mengenal siapa dia. Mengapa kau melindungi anak kurang ajar itu?" Tanya Galga semakin emosi.


"Dia berdiri di pihak ku, maka wajar aku membelanya." Balas tuan Kasra.


Mendengar pembelaan Tuan Kasra, Galga semakin tak dapat menahan diri. Dia kemudian berbalik menghadap kelima pemimpin perguruan seraya memberi hormat salam antar perguruan.


"Kelima ketua.... Seperti perjanjian kita sebelumnya, Kalian berjanji akan membantuku. Aku hanya meminta kalian menahan orang ini disaat aku menghabisi anak itu." Ucap Kasra sedikit melembut, mengingat itu adalah permohonan.


"Hemmm, baiklah.... Asal kau tidak lupa menambah imbalan selain yang telah disepakati." Ucap para ketua tersebut.


"Si, sialan...! Ternyata benar, kalian telah bersekongkol." Mendengar percakapan Galga dan para ketua lainnya, tuan Kasra menjadi marah.


Namun tiba-tiba Zefier melompat dari arena dan mendarat tepat di samping tuan Kasra.


Tampa banyak bicara, Zefier mengeluarkan api dijari telunjuknya. Api itu membesar dan menghasilkan panas yang luar biasa.


Tak hanya tuan Kasra, Galga dan kelima tetua serentak melompat hanya untuk menghindari panasnya api buatan Zefier.


Itu hanya api merah ditingkat dasar. Kali ini Zefier meningkatkan panas api menjadi dua kali lipat. Panas itu membuat para ketua kembali melompat mundur. Panasnya terasa seperti saat mereka masih didekat Zefier sebelumnya.


"Apa...?! Ranah api kecil?" Ucap mereka, terkejut. Namun bukan itu yang menjadi permasalahan, melainkan hanya di ranah api kecil, tapi panasnya sangat dahsyat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2