
Ratusan orang terlihat panik mendapati mahluk yang diselimuti api merah, tiba-tiba marah. Segel perisai yang menjadi tameng utama dan tertanam di sana, faktanya masih tidak mampu meredam kekuatan mahluk itu.
Semua orang tampak tak sanggup menahan panas api merah yang terpancar. Apalagi mereka sedang berada di dalam sebuah ruangan, rasanya seperti terpanggang didalam oven.
"Argh...! A, apa yang harus kita lakukan! Aku sudah tidak tahan."
Hampir tak ada yang mampu untuk melindungi diri sendiri dari pancaran panas mahluk berwarna merah tersebut. Dan sebagian orang bahkan sudah berpikir melepaskan segelnya agar bisa meninggalkan ruangan dengan suhu yang kian meningkat. Padahal mereka sudah berusaha melindungi diri dengan kemampuan yang mereka miliki.
"Jangan gegabah! Jika kalian melepas segel pengikat, nyawa kalian lebih tak terjamin nantinya." Teriak tetua Braham, mengingatkan.
Mendengar itu, semua orang kembali mengukuhkan diri. Bahkan mereka lebih memperkuat segel pengikat dari sebelumnya. Sayangnya, mereka bagai berada didalam sebuah ruangan penyiksa. Walau berjarak puluhan meter dari mahluk itu, tapi panasnya tetap membuat kulit mereka berlahan melepuh.
"Tetua Je! Sekarang tak ada lagi alasan untuk tidak membunuh mahluk itu. Sebaiknya kita bertindak sebelum semuanya terlambat." Ucap tetua Braham pada tetua Je.
"Kau benar, tetua Braham... Aku akan bantu menahan. Sisanya, aku serahkan padamu." Balas tetua Je, setuju.
Tetua Braham mengangguk. Sesaat kemudian, dia menyelimuti diri dengan kemampuan api kuning miliknya ke sekujur tubuh dan menitik beratkan api tersebut ke satu sisi. Tumpukan api itu berubah bentuk menjadi pedang yang sangat besar, tampak mampu membelah apapun yang dipotongnya.
Sementara itu, tetua Je dengan susah payah menyelaraskan api ungu miliknya agar menyatu sempurna dengan api milik tetua Braham dengan tujuan untuk meningkatkan ketahanan dari pancaran panas mahluk itu, dan juga menambah daya serang pada jurus milik tetua Braham.
Tak diragukan lagi, tetua Braham dan tetua Je tampak seperti duo assassin. Mungkin mereka sudah banyak melakukan pertarungan bersama-sama. Jika tidak, apa yang mereka lakukan saat ini, tak mungkin bisa dipraktekkan hanya dengan sekali dua kali saja.
Disisi lain, ratusan bawahan sontak terkesima melihat duo tetua yang melakukan jurus gabungan. Semangat mereka kembali bangkit, walau dengan kulit yang mulai matang terpanggang.
"Wah, tingkat Neraka...! Tak heran mengapa tetua Braham dan tetua Je ditunjuk sebagai kepala pengawas tempat ini."
"Ya.... Takutnya, mahluk itu tak akan bertahan dengan serangan mereka."
__ADS_1
"Lagian siapa suruh memberontak. Itu hanya mempercepat ajalnya tiba."
Terlihat para bawahan bawahan memuji duo tetua seta mengutuk mahluk mengerikan tersebut.
"Tetua Je... Apa kau siap!" Tanya tetua Braham memastikan.
"Kapanpun!" Balas tetua Je.
Mendengar jawaban pasti, tetua Braham tampak begitu bersemangat. Aura membunuhnya terasa semakin kental. Tak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya.
"Aku mulai!" Teriak tetua Braham. Teriakan itu sekaligus memberitahukan kepada semua orang agar berlindung dari efek benturan api yang kemungkinan besar akan menimbulkan ledakan dahsyat.
"Pedang api raksasa...!" Teriak tetua Braham sekali lagi. Dengan cepat, dia bergerak kearah mahluk itu.
"Huh! Hanya api merah, mana mungkin mampu menahan api kuning milik tetua Braham." Gumam semua orang, optimis.
Kendati rasa optimis itu ada, tetua Je tetap menggunakan kemampuannya dengan maksimal. Bisa dibilang para bawahan bahkan mereka sendiri tidak mengerti sama sekali tentang mahluk tersebut. Tapi, setidaknya mereka tau bahwa mahluk itu tidak lebih lemah dari orang terkuat di dunia kedua.
Tapi saat pedang itu masih setengah jalan, tetua Braham menghentikan serangannya. Tiba-tiba tetua Braham merasakan aura besar nan mengerikan yang berasal dari tempat yang sangat jauh. Semakin dekat dan dekat, aura itu dengan cepat membuat mereka semua yang ada disitu semakin tertekan.
Semua orang sontak merinding, termasuk tetua Braham dan tetua Je. Bahkan keringat dingin sudah mulai membasahi kening mereka.
"Tetua Braham.... Jangan lengah! Itu mungkin bantuan mahluk ini. Cepat, habisi mahluk itu." Pekik tetua Je, mengingatkan.
Tetua Braham langsung tersadar dan mengerti maksud tetua Je. Tampa menunda waktu, tetua Braham sekali lagi mengayunkan pedang api raksasa.
Saat pedang raksasa itu benar-benar akan mengenai kepala mahluk tersebut, tiba-tiba sebuah api merah yang mirip bilah pedang, melintas tepat dihadapan tetua Braham dan memotong pedang raksasa miliknya hingga hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Tak berhenti sampai disitu, api merah yang mirip bilah pedang itu masih terus menghantam dan membelah bangunan tempat mereka berada, lalu menghantam bangunan-bangunan setelahnya hingga beberapa ratus meter.
Semua tercengang melihat bilah pedang yang datang tiba-tiba. Pedang besar tetua Braham yang hancur, menimbulkan ledakan dan menyebabkan luka pada dirinya sendiri. Beberapa murid yang berada tepat pada lintasan bilah pedang, langsung terbelah dan meregang nyawa saat itu juga. Beberapa segel rantai yang mengikat dan membelenggu mahluk aneh itu, putus begitu saja.
Tepat setelah itu, energi besar yang mereka rasakan sebelumnya tiba-tiba menghilang. Mahluk aneh yang seharusnya memiliki kesempatan lolos karena kematian beberapa orang yang mengekangnya, sekarang malah terlihat tenang.
"A, apa yang terjadi!" Semua orang bertanya-tanya dengan ekspresi ngeri. Mereka mendapati rasa frustasi yang mendalam.
"Semuanya, harap tenang! Jangan sampai kalian melepas mahluk itu." Bentak tetua Je, melihat bawahannya yang mulai tak terkendali.
Tetua Je bergegas menuju tetua Braham yang berusaha menyembuhkan dirinya. Tampak tetua Braham meneguk beberapa pil penyembuh untuk mempercepat proses penyembuhan.
"Tetua Braham...! Apa kau baik-baik saja?" Tegur tetua Je, menanyakan kondisinya.
"Jangan pedulikan aku! Segera pastikan situasi, apa yang yang sebenarnya terjadi." Pinta tetua Braham.
Tetua Je mengangguk dan langsung melompat kebagian tertinggi bangunan tersebut sambil memastikan situasi disekitar. Matanya terbelalak melihat jalur bilah pedang yang tak tampak pangkalnya, membelah dan membentuk garis horizontal pada bangunan besar itu.
"Siapa gerangan yang mampu melakukan ini." Gumam tetua Je, tak yakin dengan pikirannya sendiri. Hati dan pikirannya mulai gentar. Jelas ini adalah mahluk yang tidak bisa ditangani bahkan oleh semua orang di dunia pertama.
Sepanjang pengetahuannya, tak ada satupun manusia di dunia ini yang mampu menandingi kultivasi mereka berdua. Tapi jika dipikir-pikir, keberadaan mahluk yang saat ini mereka tawan, sedikit demi sedikit bisa menjelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Tapi... jelas tidak mungkin mahluk seperti itu bisa berada di dunia ini. Jika memang berasal dari dunia ketiga, mahluk itu harus melintasi dunia kedua, orang-orang disana tidak mungkin tidak ada yang menyadari keberadaannya." Lanjut tetua Je, berpikir keras.
Sembari berpikir, tetua Je hendak melompat turun dan memberikan laporan tentang penampakan mengerikan yang dia lihat.
Tapi....
__ADS_1
Deg...! Jantungnya berdetak kencang. Entah sejak kapan, tiba-tiba seorang pemuda sudah berdiri dihadapannya. Tatapan pemuda itu membuat bulu kuduknya berdiri. Nalurinya mengatakan, pemuda itu tampak seperti ingin menerkamnya.
Bersambung....