System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Surat Untuk Livy....


__ADS_3

"Wooo...! Ternyata wakil dekan Razen." Semua orang takjub melihat kecepatannya. Kendati demikian, ternyata orang tua itu masih bisa menghindari serangannya.


"Kakek...! Akhirnya kau datang juga. Cepat selamatkan aku, kek." Teriak Megion sambil menahan kesakitan.


"Diam...! Kau terlalu sering membuat masalah Tampa memikirkan akibatnya. Kau lebih sering menyusahkan aku dari pada membuatku senang." Balas Wakil dekan Razen yang ternyata kakek Megion.


Wakil dekan Razen adalah orang kedua di akademi Xolfrods. Bukan hanya jabatan, eksistensinya sebagai orang terkuat setelah dekan Eldrick, bukanlah isapan jempol. Posisi itu bahkan tak pernah tergoyahkan sejak dia mendudukinya.


"Saudara ini, ternyata cukup berpengalaman. Mampu menghindari serangan dari posisi buta, aku sungguh kagum dengan kemampuan saudara...." Puji wakil dekan Razen. Sebagai orang yang sebaya, dia memanggil dengan sapaan yang terdengar akrab.


"Ya.... Lebih dari siapapun di akademi ini." Jawab orang tua itu tak bersahabat.


Sebagai orang yang diperhitungkan serta terpandang, wakil dekan Razen merasa tersinggung mendengar jawaban yang enak itu.


"Huh! Sebaiknya kau jaga ucapan mu itu, ini bukan tempat orang sombong sepertimu!" Sapaan sopan yang sempat terucap oleh wakil dekan razen, kini lebih terdengar seperti permusuhan.


"Dimana-mana, sikap tamu selalu mencerminkan sikap tuan rumah. Apa kalian berharap mendapat rasa hormatku setelah apa yang sudah kalian perbuat?"


"Apa maksudmu!"


"Kau masih bertanya? Padahal semuanya ada didepan matamu!" Jawab orang tua itu.


Wakil dekan Razen tampak bingung. Dia coba berpikir sejenak maksud dari kata-kata orang tua tersebut.


"Ohhh, aku paham! Mungkin yang kau maksud adalah kedua pemuda itu? Tentu saja mereka pantas mendapatkannya."


"Pantas...?! Kalian hanya menghakimi Tampa tahu kebenarannya. Kalian beruntung, kali ini aku yang ditugaskan mengurusi kalian. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika tuan muda sendiri yang turun tangan." Ucap orang tua itu. Perkataannya tampak serius dan penuh ancaman.


"Hanya gertakan belaka, kau salah tempat...! Disini bukan tempat orang lemah seperti yang kau bayangkan."


"Benarkah...?! Aku jadi tidak sabar menguji kemampuan orang-orang disini."

__ADS_1


Orang tua itu lalu melemparkan Megion hingga terpental beberapa meter. Seketika itu, Megion seperti merasa baru terbebas dari himpitan beban berat yang mengekang batang lehernya. "Orang tua sialan, orang tua kurang ajar...!" Umpat Megion dengan nada penuh emosi.


Setelah melempar Megion, orang tua itu langsung menghadap wakil dekan Razen. Fisik tua tak menghalangi kegagahan jiwa mudanya yang haus akan pertarungan.


Namun sebelum orang tua itu benar-benar siap, tampak seorang tua lainnya turun dari atas perahu.


"Tetua Je.... Ada apa? Apa tuan muda...." Orang tua yang tak lain dan tak bukan adalah tetua Braham, tampak sedikit tegang saat menyaksikan kehadiran tetua Je. Dia mengira bahwa dia telah gagal dalam tugas ini, hingga mengirim tetua Je.


"Ah, tidak.... Tetua Braham tenang saja. Aku hanya ingin mengantarkan sesuatu yang tertinggal." Jawab tetua Je. Tetua Je tampak membawa sebuah gulungan yang terikat rapi menggunakan pita khusus.


Mendengar itu, tetua Braham langsung merasa lega. Kulit tuanya akhirnya kembali mengendur setelah sempat mengencang.


"Pita dan simpul itu...." Dari samping, tampak Livy seperti mengenal barang yang dibawa oleh tetua Je. Ya, itu karena beberapa keluarga memiliki kode tersendiri dalam hal surat menyurat. Hal ini bisa dengan mudah diketahui dari jenis bahan pita serta simpul khusus yang digunakan.


"Oh? Tampaknya, kau mengenal surat ini, wanita muda." Tanya tetua Je.


Livy mengangguk. "Mungkin.... Aku melihat, pita dan simpul itu sangat mirip seperti milik keluarga kami." Jawabannya.


"Apakah namamu, Livy....? Jika iya, maka surat ini memang ditujukan untukmu."


"Itu adalah titipan tuan muda, Zefier.... Tuan muda menitipkannya padaku sehari yang lalu." Jawab tetua Braham memotong pembicaraan Livy dan tetua Je.


"Tuan muda...?" Livy coba mengingat-ingat siapa tuan muda yang dimaksud, dan apa hubungan yang keluarganya miliki dengan tuan muda itu. Tapi, setelah dipikir-pikir, hanya ada satu orang yang ada dalam benaknya Itupun menurutnya, orang itu tak pantas disebut sebagai tuan muda.


Disisi lain, mendengar nama Zefier, Dan Dzik dan Leo langsung mendongakkan kepala yang sebelumnya tergantung lemas seperti ayam yang disembelih. "Zefier...?!" Batin mereka, serentak.


"Tetua...! Apa kau baru saja menyebut nama Zefier? dimana orang itu sekarang?" Tanya Dan Dzik, tampak bersemangat.


Mendengar suara Dan Dzik yang penuh bergairah seperti tidak mengalami apapun, semua mata langsung menatap kearahnya.


"Ternyata kalian sudah sadar.... Maafkan orang tua ini tak segera membantu, masih ada sedikit kendala yang harus dibereskan terlebih dahulu." Ujar tetua Braham. "Tetua Je...." Lanjut tetua Braham memberi isyarat.

__ADS_1


"Serahkan mereka padaku.... Aku akan segera membawanya." Balas tetua Je, seakan paham maksud tetua Braham.


Tetua Je ingin melepas ikatan yang membelenggu Dan Dzik dan Leo, tapi nampaknya tidak berjalan semudah itu. Terlihat wakil dekan Razen mencoba menghalangi.


"Hei, kalian.... Jangan pernah mencuri ikan orang lain, atau kalian akan mendapatkan akibatnya." Sergah wakil dekan Razen.


Dengan cepat wakil dekan Razen berlari menuju tetua Je, namun dihalangi oleh tetua Braham. Gerakan cepat mereka, hampir tak mampu diikuti mata para murid disana.


"Sialan...! Tampaknya, hanya kekerasan yang bisa menegur kalian!" Wakil dekan Razen terlihat marah.


Setelah berkata begitu, terlihat aliran energi yang sangat kuat, menyelimuti wakil dekan Razen. Bersamaan dengan itu, api berwarna kuning turut membara di sekujur tubuhnya.


"Wah! Selama ini, aku hanya mendengar cerita saja. Ternyata benar, wakil dekan Razen benar-benar berada di ranah bintang tingkat menengah...." Puji para murid.


Swushhh...! Sedetik kemudian, bola api besar terbentuk di kedua telapak tangan wakil dekan razen. Bola api itu terlihat sangat mendominasi dan mematikan. Panasnya saja membuat para murid sampai mundur beberapa langkah.


"Rasakan ini, dasar tamu tak diundang!" Teriak wakil dekan Razen. Dengan percaya diri, dia melompat dan mencoba mendaratkan serangan itu pada tetua Braham.


Bukannya ketakutan atau menghindar, tetua Braham terlihat santai dan tidak melakukan pergerakan apapun. Namun saat bola api wakil dekan Razen akan mengenainya, akhirnya tetua Braham menunjukkan kemampuan aslinya.


Swush...! Buf...! Terlihat jelas, hanya dengan sedikit gerakan, tetua Braham berhasil membuat api miliknya membentuk sebuah pedang. Dengan pedang itu, tetua Braham menangkis bola api dengan sangat mudah.


"Ti- tingkat neraka...?!"


Semua orang terkejut saat mengetahui ranah tetua Braham. Ya, belum pernah ada diantara mereka yang pernah menyaksikan seorang praktisi tingkat tertinggi atau ranah neraka tersebut. Sebelumnya mereka merasa cukup bangga, wakil dekan Razen sudah cukup untuk membuat tamu asing itu bertekuk lutut. Tapi setelah tahu kenyataannya, mereka bahkan sampai lupa untuk bernafas.


Tapi, tentunya bukan hanya itu yang mengejutkan semua orang....


"Pe- pedang api...?!" Terlihat wakil dekan Razen lah yang paling terkejut melihat kenyataan itu.


"Bagaimana orang ini bisa melakukannya? Bukankah kemampuan api hanya sebatas kekuatan yang menempel pada tubuh? Apakah masih ada seni beladiri yang tersembunyi di dunia ini." Batin wakil dekan Razen, bertanya-tanya.

__ADS_1


Tampaknya, pengetahuan tentang kemampuan beladiri api yang ada di dunia ini sangat dangkal. Mereka hanya tau bahwa semakin tinggi ranah seseorang, maka semakin kuat pula orang itu. Tak ada yang ada yang benar-benar terbuka pikirannya sampai mereka menyaksikan pedang api milik tetua Braham.


Bersambung....


__ADS_2