System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Benang api dan sayap api....


__ADS_3

Zefier kembali pada Dan Dzik. Dengan gaya khasnya yang santai, dia bertingkah seakan tidak memilki beban, lebih tepatnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Walau kau sudah mengetahuinya ,tapi aku ingin mengingatkan lagi... Jangan pernah menganggap remeh perjanjian api." Zefier mengingatkan.


"Ya, aku tahu...." Jawaban Dan Dzik tampak tak bersemangat. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, dan itu terlihat sangat jelas.


"Apa yang kau ragukan...? Setiap kali bertindak, seharusnya kau sudah memikirkan resikonya. Jangan seperti ikan yang selalu terjebak umpan." Zefier memberi sebuah perumpamaan.


Dan Dzik menunduk, tampaknya ia belum siap menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Begitu menggiurkan, tapi juga mematikan. Itulah pelajaran yang dia dapat kali ini.


"Aku tidak bermaksud mengkhianati perjanjian. Tapi, bolehkah aku menebusnya dengan sesuatu yang lain?" Setelah berpikir sejenak, Dan Dzik mencoba untuk bernegosiasi.


"Kenapa?"


"Aku sudah berjanji pada ayah, untuk berlatih dan menjadi lebih kuat. Aku akan membayar bayar berap..." Dan Dzik memutuskan untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Untuk urusan uang sepertinya pemuda sebaya dihadapannya ini sangat tidak membutuhkan itu.


Terrr....! Terlihat ratusan batu energi berjatuhan dari kantong yang Zefier bawa.


"Sepertinya, kau salah sangka. Untuk urusan uang, aku yakin kau tahu berapa nilai semua ini." Ucap Zefier.


Mata Dan Dzik terbelalak. Dia tak mengira, puluhan batu yang tadi Zefier tunjukkan ternyata hanya sebagian kecil saja.


"Ma, maafkan aku...." Ucap Dan Dzik, karena telah salah menilai.


"Urusan kekuatan, aku berjanji... Kau tak akan menyesal ikut denganku. Aku bisa melatih kekuatanmu lebih cepat dari siapapun." Zefier coba meyakinkan.


Sebenarnya, dia tidak perlu mengatakan apapun dan langsung membawa Dan Dzik begitu saja. Perjanjian api pantang dikhianati sedikitpun.


Tapi Zefier hanya ingin tahu apa keinginan Dan Dzik sebelum dia benar-benar memutuskan. Dia tak ingin ada keluhan dibelakang hari dari orang-orang yang kelak menjadi pengikutnya.


"Baiklah, sudah aku putuskan..." Zefier tiba-tiba mengeluarkan seutas tali yang terbuat dari api. Kemampuan itu disebut dengan benang api.


Benang api berlahan memanjang. Menjalar dan mengikat tubuh Dan Dzik. Dan Dzik sampai dibuat terkejut akan hal itu.


"Sebenarnya, sejauh apa kekuatan orang ini. Penguasaan api yang mencapai tingkat kehalusan tinggi dan bervariasi, hanya pernah ku dengar dari cerita yang disampaikan ayah. Takutnya, tak ada satupun yang menyamainya." Batin Dan Dzik.


"Biasanya, penggunaan api akan berefek signifikan terhadap orang lain, tapi dia bisa mengatur hingga menjadikan api miliknya menjadi hangat dan nyaman." Batinnya lanjut.


Sebenarnya Dan Dzik merupakan salah satu anak yang beruntung, dapat membangkitkan kekuatan api di usia balita. Akan tetapi, dia merasa bahwa kemampuannya masih setitik debu jika dibandingkan dengan pemuda dihadapannya tersebut.


"Kau, namamu siapa...?" Pertanyaan Zefier membuyarkan Dan dzik. Sudah panjang lebar mereka berbicara, namun masih belum mengetahui nama masing-masing.

__ADS_1


"Dan Dzik...!" Balasnya.


"Namaku, Zefier... Kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun. Kata-kata buruk juga tidak masalah, asal kau senang."


"Mengapa?"


"Tidak ada alasan apapun. Aku hanya berpikir, selama kau senang dengan panggilan itu, berarti kau senang terhadap orang kau panggil. Hanya itu."


Dan Dzik tak berpikir sampai kesana. Menurutnya, bisa saja orang memanggil dengan kata-kata buruk karena benci. Tapi pemahaman Zefier tentang hal itu agak berbeda.


"Ya, baiklah... Aku akan memikirkannya dulu." Jawab Dan Dzik.


Zefier Ter senyum. "Baiklah... Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja." Lanjutnya.


"Berangkat? Kemana...?" Dan Dzik telah mendengar kalimat ini, tadi. Tapi masih belum paham apa maksudnya.


Dalam waktu singkat, sepasang sayap api terbentuk di punggung Zefier, membentang dan menampilkan keindahan layaknya burung Phoenix. Seperti benang api, sayap itu juga tidak mengakibatkan efek apapun selain keelokannya.


Entah apa lagi kalimat yang tepat untuk menggambarkan ekspresi Dan Dzik saat melihat kemampuan Zefier yang diluar nalar, secara beruntun keluar satu persatu. Rasa lelah hari ini, bisa dikatakan lelah karena terkejut.


Tapi tak dapat dipungkiri, dia yang awalnya cemas karena kesempatan untuk masuk ke akademi Xolfrods hilang begitu saja, sekarang mulai merasa tenang. Apalagi saat terngiang kata-kata Zefier yang akan membuatnya kuat lebih cepat.


Swushhh.... Dalam satu kepakan, Zefier dan Dan Dzik langsung melesat cepat. Berpuluh-puluh kali lebih cepat dari perahu terbang yang dianggap sebagai alternatif terbaik untuk mempersingkat perjalanan.


Tubrukan angin serasa seperti menampar-nampar wajah. Tapi pemandangan yang terlihat, spontan membuat lupa akan hal itu.


Perbukitan dan hutan terlihat seakan berjalan kebelakang. Anak-anak sungai serta air terjun, memang lebih nikmat jika ditatap dari atas.


Sesekali, Dan Dzik memejamkan mata, menghayati dan memastikan bahwa perjalanan yang diluar rencana ini tidak akan menimbulkan penyesalan, kelak.


Sementara itu, di perahu terbang...


Mata Doga dan Aregon terus saja terbelalak hingga saat Zefier dan Dan Dzik meninggalkan mereka. Apa yang dilakukan Zefier, tak henti-hentinya membuat mereka terkejut dan takut. Beruntung Zefier sudah memaafkan, jika tidak, tak ada persentase kemenangan jika harus berhadapan langsung dengan monster yang menyamar jadi orang miskin itu.


Memiliki ratusan batu, kemampuan yang tak pernah dilihat dan tak dapat dinilai, semua ini terlalu sulit dicerna. Terutama saat puluhan orang kehilangan kepala dalam waktu singkat, apakah ini waras?


Tapi melihat zefier masih memaafkan orang lain, setidaknya dia belum sepenuhnya menjadi iblis.


"Dengar...! Jika masih ingin hidup, kita hanya perlu menahan diri untuk tidak mengatakan apapun tentang orang itu." Nasehat Doga pada Aregon.


"Ba, baik ayah...." Jawab Aregon masih tidak bisa menghilangkan kegugupannya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali ke ruang istirahat. Sebisa mungkin, jangan terlibat dengan hal ini. Hindari saja jika ada yang bertanya."


Doga dan Aregon kembali ke ruangan khusus yang mereka sewa. Tempatnya bersampingan dengan milik Zefier sebelumnya.


Saat hendak masuk, tiba-tiba pintu ruangan yang mereka lewati, terbuka. Wajah orang yang keluar dari dari ruangan tersebut, tampak tak asing bagi Aregon.


"Ka, kau...!" Aregon yang hampir tenang, kini kembali tegang dan gugup.


Ya, dia adalah Leo. Sepeninggalan Zefier, dia memutuskan untuk berlatih. Kali ini perkataan Zefier cukup masuk akal baginya.


"Oooh, kau rupanya...! Tak disangka masih bisa bertemu." Leo langsung menunjukkan wajah mengintimidasi.


"A, ayah...! Dia orang yang sebenarnya menghabisi para pengawal ku." Ucap Aregon.


Tapi, bukannya mendapat pembelaan, Doga malah menampar Aregon.


Plak...! "Sebenarnya, berapa banyak orang yang kau singgung hari ini!" Bentak Doga. Setelah kejadian barusan, Doga mendapat sedikit pelajaran.


"Ayah..."


"Tutup mulutmu...! Jika sifat mu masih begini, jangan pernah memanggilku, ayah." Doga berkata tegas.


"Anak muda, mohon maafkan aku. Jika anakku telah menyinggung mu, aku harap kau bisa bermurah hati untuk kali ini saja. Aku berjanji akan memberinya pelajaran, nanti." Lanjut Doga, meminta maaf.


"Maaf? Sayang sekali... Padahal aku ingin mencoba kemampuan baruku." Ucap Leo. "Aku akan memaafkan dia jika bersedia menjadi samsak tinjuku hari ini." Lanjutnya.


Leo mulai memasang kuda-kuda. Aregon semakin gemetar dibelakang ayahnya. Sementara sebagai ayah, Doga bingung harus melakukan apa.


Jujur saja, Doga merasa permaafan Zefier merupakan rasa sukur terbesarnya sepanjang hidup. Baru saja dia ingin merubah diri, namun cobaan baru langsung datang menghampiri.


Api di tangan Leo sudah menyala, bersiap-siap melancarkan serangan. Tapi, baru saja mau bergerak, sebuah benang api tiba-tiba datang dan dengan melilitnya.


"A, apa ini...!" Leo terkejut. Dengan segenap kekuatan, dia mencoba memutuskan benang api. Tapi hasilnya nihil.


Seperti kuda yang ditarik paksa, Leo tiba-tiba tertarik dengan cepat. Tubuhnya bahkan tak sempat bereaksi untuk meraih sesuatu yang bisa dijadikan pegangan.


Swuttt...! Salam sekejap mata, Leo hilang dari pandangan Doga dan Aregon.


Sekali lagi, Doga berterimakasih pada Zefier. ini kali kedua Zefier menyelamatkannya. Dia tau pemilik benang api itu karena tadi sempat melihatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2