
Api merah membakar ketua Mangge. Semua orang melihat dengan mata tak percaya. Dan Roderick yang berada disebelahnya, menatap kaku dengan penuh ketakutan.
"Ra- Ranah bumi...?! Sebenarnya, apa ranah orang tua itu, mengapa begitu mudah dikalahkan. Bukankah dia atasan orang itu?!" Gumam semuanya. Kalimat itu memang cocok menjadi sebuah pertanyaan. Tidak mungkin Roderick yang berada di ranah bulan, mau tunduk sama yang lebih lemah.
"Panas! Panas...!"
Ketua Mangge masih terus berteriak, dia bergerak kesana kemari seakan berusaha mematikan api yang membakarnya. Sayang, sekeras apapun usaha itu, tetap saja apinya tak mau padam.
"Orang tua itu, apakah dia akan mati begitu saja?!" Tanya seseorang
"Aku berharap begitu! Jika bukan karena tuan muda Falmes, mungkin kita akan menjadi korban buta." Jawab yang lainnya.
Murid-murid yang sedang mengkhawatirkan Falmes, juga tampak senang melihat kondisi ketua Mangge.
"Mampus saja kau sana! Siapa suruh berani macam-macam!" Umpat mereka, geram.
Ya, apa yang mereka harapkan, sebenarnya tak jauh beda dengan yang lain. Melihat perbuatan ketua Mangge yang menghakimi tanpa bukti, tentu tak ada yang suka dengan hal itu.
Semua mengutuk dan merasa senang dengan derita ketua Mangge, namun perasaan itu hanya sesaat. Itu karena...
"Hahaha!" Tetua Mangge yang tadinya berteriak kesakitan, sekarang malah tertawa lantang meskipun tubuhnya masih diselimuti api merah.
"Apakah dia gila, karena sudah melihat kematian yang didepan mata?!" Gumam semua orang. Apa yang mereka lihat, sontak membuat hati bergidik.
Tentunya sebagai sesama kultivator, para murid tahu bahwa insiden itu hanya pura-pura belaka. "Sial! Dia mempermainkan kita semua." Ucap para murid, saat menyadari kebenaran yang sesungguhnya.
Suara tawa itu terus berlanjut, hingga api yang membakar tubuh ketua Mangge menghilang tanpa jejak. Kini, semuanya kembali terkejut saat melihat ketua Mangge tak mengalami cedera sedikitpun. Pakaian, kulit maupun rambut, tak ada satupun kekurangan. Bahkan ketua Mangge terlihat semakin bugar.
Mendengar tawa ketua Mangge, Roderick juga ikut tertawa. "Hahaha...! Apa kau pikir itu nyata?! Kau bahkan sampai tertipu dua kali." Roderick menertawai Falmes yang sempat merasa lega melihat kemampuan Flyn. Dan setelah tahu kenyataannya, batinnya langsung mengeluh lesu.
__ADS_1
Sementara itu, Flyn tetap terlihat biasa saja, ekspresinya datar seperti sebelum-sebelumnya. Dia tak terkejut sama sekali meski mengetahui ketua Mangge tak mempan terhadap apinya.
"Anak muda! Sayang sekali kau tak menggunakan senjata rahasia mu, Jika tidak, seharusnya aku sudah mati.... Karena kau terlanjur menyinggung ku, maka kematian mu sudah pasti!" Ujar ketua Mangge.
"...Tapi, ini pertama kali aku melihat orang seperti mu. Kau bahkan tidak terkejut melihat api mu tak mempan terhadapku. Atau, jangan-jangan kau memang tidak punya ekspresi?!" Lanjut ketua Mangge.
Mendengar pertanyaan yang ditujukan pada Flyn, "Puwfff, hahaha...! Mungkin urat-uratnya sudah mati karena terlalu takut!" Sela Roderick sambil menahan tawa yang akhirnya meledak. Tapi tawanya tiba-tiba sirna saat tangannya yang sedang mencengkram leher Falmes terputus.
SRET!
"....?!" Semuanya hening. Sampai beberapa detik kemudian, Roderick berteriak sekencang mungkin. "Aaaa...! Tanganku!" Erangnya.
Tubuh ketua Mangge terpaku, dia tak percaya dengan matanya sendiri. Ya, dia tak percaya karena tak melihat senjata apapun yang digunakan Flyn. Bahkan, dia hampir tak dapat menangkap gerakan tangan Flyn yang sangat cepat.
"Senjata apa itu...! Sial, aku tak sempat melihatnya! Aku harus merebut senjata itu." Batin ketua Mangge. Dia tak tahu bahwa Flyn murni menggunakan kekuatan sendiri.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau...."
Roderick berteriak mengutuk Flyn, namun kali ini suaranya berhenti total. Tampak tubuhnya terbelah menjadi tiga bagian. Seperti delapan orang sebelumnya, Flyn bahkan lebih mengenaskan. Matanya melotot, seakan tak terima dengan kematian tragis yang ia alami.
"Aku sudah mengingatkan dan kalian yang memutuskan!" Flyn berkata tanpa perasaan.
Sekarang, ketua Mangge hanya tinggal sendiri. Dia terlihat seperti orang kebingungan yang tak tahu harus melakukan apa. Badannya bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang. Wajah tuanya yang putih, menjadi semakin pucat saat menyaksikan kemalangan Roderick.
"Se- Senior...! Ampuni aku!" Sambil berlutut, ketua mangge memohon pada Flyn. Tapi tak berhenti sampai disitu, dengan gerakan cepat, dia langsung memberikan serangan yang mengenai Flyn dengan telak.
"Jurus, cakar elang!" Teriak ketua mangge. Tiga jarinya yang sudah dilapisi dengan api kuning, menancap di dada Flyn.
"Ranah bulan?!" Semua orang terkesima saat baru mengetahui tingkatan ketua mangge.
__ADS_1
Falmes yang berada tepat di samping Flyn, merasa khawatir dan langsung memberikan serangan untuk melepaskan Flyn dari cakar elang ketua mangge.
Dengan emosi, Falmes mengarahkan pukulannya ketempat yang dapat dijangkau, namun usahanya sia-sia. Sebaliknya, dia malah terkena tendangan yang bersarang di ulu hati, terpental beberapa meter hingga akhirnya terduduk dan tak sanggup berdiri.
Dadanya sesak, nafasnya seakan tak mau keluar seperti biasa. "Ugh..." Erangnya, kesakitan. Beberapa detik kemudian, darah segar mengalir dari celah bibirnya.
"Tuan muda...!" Teriak para murid khawatir, sambil berlari kearah Falmes.
Melihat pengganggu sudah tak sanggup berdiri, ketua Mongge kembali menatap Flyn. Seperti sebelumnya, dia melihat Flyn masih tanpa ekspresi. "Ada apa dengannya, apakah syaraf sakitnya sudah putus?!" Tebaknya, bertanya-tanya dalam hati.
"...Kau, apakah memang tidak merasakan apa-apa?!" Tanya ketua Mongge terus terang.
Tapi bukan jawaban yang dia dapat, melainkan kekhawatiran dan ketakutan yang luar biasa. Sejak tadi dia berusaha melepas jarinya yang menancap di dada Flyn, namun sekuat apapun dia maksanya, jari-jarinya tetap tak mau lepas.
Sekali lagi ketua Mongge mencoba dan berusaha lebih keras. Dia sampai menekan tubuh Flyn yang bahkan tak bergerak sedikitpun. Bukannya terlepas, ketiga jarinya berlahan terasa panas. Meski sudah menyalurkan energi ke jarinya, panas itu tak kunjung mereda, bahkan semakin kuat dan dahsyat.
"Kurang ajar! Lepaskan akau!" Teriak ketua Mongge.
Karena kesal dan marah, ketua Mongge melancarkan serangan, Tapi serangannya terhenti saat di ketiga jarinya menyala api merah. Api yang awalnya kecil secara berlahan mulai membesar. Hanya saja, api merah itu tak sama seperti api sebelumnya. Warna api itu terlihat lebih gelap dan terasa jauh lebih panas. Bahkan dengan api kuning miliknya, ketua Mongge tak sanggup menahannya.
SWUZZZ!
Terulang kembali, api itu menyebar ke seluruh tubuh ketua Mangge. Kali ini teriaknya benar-benar nyata.
"ARGH...!" Erang tetua Mongge. Teriakannya benar-benar membuat pilu yang mendengarnya. Hingga akhirnya, suara ketua Mongge menghilang bersama hilangnya tubuh tua itu karena habis terbakar menjadi abu.
Disisi lain...
"Argh...! Api apa ini, mengapa apinya begitu panas!" Orang-orang tampak mundur beberapa langkah karena tak tahan dengan dahsyatnya panas api merah milik Flyn. Falmes juga sampai terkesima melihat dahsyatnya kekuatan api tersebut.
__ADS_1
Setelah sedikit tenang, falmes teringat kembali tentang pertarungannya dengan leo. "Jangan-jangan, ini kemampuan yang sama. Apalagi mereka tunduk pada orang yang sama." Batin Falmes, penasaran.
Bersambung....