System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Membakar Habis...


__ADS_3

Urat-urat Roderick terlihat tegang. Matanya melotot, tak percaya dengan apa yang dia saksikan. Sakit dan perih di lengannya seakan hilang begitu saja, akibat rasa terkejut yang sangat berlebihan.


Jantungnya berdegup semakin kencang, menyaksikan pemandangan mengerikan yang hanya beberapa meter di depan matanya. Darah segar yang mengalir dari kedelapan bawahan ketua Mangge, bak air yang tumpah dari ember, membasahi tanah dan membuat sedikit genangan.


"A- Apa yang...." Mulutnya tak sanggup mengeluarkan suara dan kata-kata.


Disisi lain, ketua Mangge langsung beranjak dari tempat duduknya. Kali ini, dia tak mungkin tertipu, sekalipun matanya tak berkedip melihat kejadian itu. Tak ada jebakan maupun perangkap, jelas sekali dia merasakan sebuah aura yang timbul saat serangan mematikan itu dilancarkan.


Hanya saja, wajahnya terlihat seperti orang yang kebingungan. Aura yang dia rasakan, tak lebih tinggi dari semua bawahannya yang mati. Tapi, serangan itu terlalu dahsyat untuk seorang yang berada di ranah tersebut. Bahkan dia sendiri mustahil dapat melakukannya.


Mata ketua Mangge bergerak liar, mencari dan menerawang semua orang. "Si- Siapa gerangan, yang bersembunyi dibelakang ini semua." Batinnya, gugup. Membayangkannya saja, sudah membuat bulu kuduknya merinding.


"Senior...! Aku tau kau ada disini. Kami tak ada urusan denganmu, tapi bisakah kau menunjukkan diri?!" Ketua Mangge berteriak lantang. Suaranya nyaris terdengar ke telinga semua orang.


Tak ada respon dan jawaban atas perkataan ketua Mangge. Semua orang menjadi bingung dan bertanya-tanya, siapa orang yang dimaksud dan dia ajak bicara.


Roderick yang masih terlihat sock, berjalan kearah tetua Mangge dan membisikkan sesuatu. "Jangan-jangan, ini adalah perbuatan Arez...!" Ucapnya, menduga-duga.


"Tidak mungkin! Jika dia memang ada disini, dia pasti sudah keluar sejak kau melukai Harold." Bantah ketua Mangge.


"Ah, ya... Benar juga!" Roderick tampak tak bersemangat. "Lantas, siapa pelakunya?" Tanyanya, lanjut.


"Aku kurang yakin... Yang pasti, dia bersembunyi diantara kerumunan orang-orang. Kemungkinan besar dia menggunakan senjata pusaka yang sangat kuat. Kita harus lebih berhati-hati!"


"Kenapa ketua bisa seyakin itu!"


"Aku tak merasakan ranah seseorang yang lebih tinggi dariku. Akan tetapi sesaat sebelum serangan itu dilancarkan, samar-samar aku merasakan seseorang yang berada di ranah bumi." Jelas ketua Mangge.


"Artinya, hanya menunggu orang itu ketemu, aku bisa dengan mudah membunuhnya." Ucap Roderick geram, sambil mengepalkan tinju.


"Ini hanya siasat saja, kau jangan sampai menunjukkan niat buruk mu atau kau akan menjadi incaran selanjutnya." Bisik ketua Mangge, menasehati Roderick.


Roderick mengangguk paham. Dengan akting yang terencana, dia berpura-pura menyesalkan kejadian yan baru saja terjadi. Masih dengan ekspresi shock, dia berjalan kearah Falmes.

__ADS_1


"Anak muda! Aku tahu tindakan kami sudah berlebihan, tapi kami juga mendapatkan kerugian besar. Bagaimana jika kita akhiri sampai disini saja!" Roderick coba memberi solusi.


Mendengar itu, Falmes tertawa dalam hati. Ingin rasanya dia mengejek Roderick, tapi takut permasalahan yang mulai mencari akan panas kembali.


"Baru segini, apa kalian sudah ketakutan?! Jujur saja, jika bukan karena membahayakan warga disana, aku ingin menuntaskan permasalahan ini sampai ke akar-akarnya. Tapi, untuk kali ini saja, aku akan memberi kalian wajah." Dengan sedikit kesombongan, Falmes menyelipkan kata-kata yang akan membuat Roderick berpikir kembali jika ingin mengulang perbuatan seperti ini.


Antara Roderick dan Falmes, mereka sama-sama berwajah dua. Roderick langsung mengutuk Falmes didalam hati. "Sialan kau anak muda! Tunggu sampai orang yang kami menemukan orang yang kami cari, kau juga tak akan lolos!"


"Kalau begitu, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kali ini." Lanjut Roderick, berpura-pura tulus.


"Pergilah.... Anggap saja ini sebagai pelajaran buat kalian!" Usir Falmes.


Roderick segera berbalik badan. Jika bukan karena rencana itu, dia sudah membenamkan kepala Falmes kedalam tanah. Untungnya saat ini dia masih bisa menahan diri, demi menghindari serangan yang tak kenal ampun tersebut.


Baru beberapa langkah berjalan, tampak seorang pemuda tampan menghampiri Falmes...


"Karena permasalahan ini telah usai, mari segera bertemu ayahmu." Ucap sebuah suara yang tak asing. Dia adalah Flyn.


Dengan kecepatan ketua Mangge, Flyn sama sekali tak sempat bereaksi dan menghindar dari tangan ketua Mangge yang mengincar lehernya. Meskipun begitu, dia tampak tetap tenang dan tidak melakukan perlawanan.


"Tertangkap juga kau...!" Ekspresi seram ketua Mangge, seakan sedang memendam dendam kesumat.


"Ka- Kalian... Apa maksudnya ini!" Bentak Falmes kebingungan. Padahal, baru beberapa detik yang lalu mereka menyepakati perdamaian.


"Huh! Meski kau menyembunyikan energi mu, tapi aku masih bisa merasakan sisa aura yang persis dengan orang yang menyerang kami secara diam-diam." Ujar ketua Mangge.


"Jika tidak punya bukti, jangan menuduh orang sembarangan!" Bentak Falmes lagi. Tapi...


Hup!


Falmes dikejutkan dengan Roderick yang juga menangkap lehernya. Meski tersisa satu tangan, untuk menghadapi Falmes bukanlah hal yang sulit baginya.


"Nah, anak muda...! Aku ingin mendengar, apa kau bisa mengulang lagi kata-katamu tadi?" Wajah Roderick terlihat lebih bengis dari sebelumnya. "Jujur saja, perkataan ku barusan hanyalah sebuah akting. Tujuan kami sebenarnya hanya untuk menangkap tikus yang bersembunyi." Lanjut Roderick.

__ADS_1


Falmes seketika sadar, bahwa dia telah dibohongi. Jelas-jelas hal seperti itu tak mungkin terjadi begitu saja, tapi dia malah terlalu mudah percaya.


"Si- Sialan kalian!" Kutuk Falmes lemas, menahan rasa sakit cengkraman Roderick.


"Hahaha.... Marahlah sepuas mu. Jika tak ada kejadian seperti ini, aku mungkin masih bisa memaafkan dan menjadikanmu sebagai murid ku. Tapi sekarang, persetan dengan semua itu!"


Perasaan yang mengganjal di hati Roderick seakan lepas. Wajahnya tampak kembali seperti semula. Tapi dia tak menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan ketua Mangge.


Ekspresi ketua Mangge kebalikan dari Roderick. Tangannya memang menggenggam leher Flyn. Tapi entah mengapa, butiran keringat mulai timbul di wajahnya. Bahkan sudah ada beberapa yang menetes dan membasahi bajunya.


Berkali-kali, wajah ketua Mangge menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Dia seperti sedang berusaha melakukan sesuatu. Dia mengencangkan cengkeramannya, tapi Flyn tak menunjukkan tanda-tanda kesakitan atau terancam. Flyn hanya menatap mata ketua Mangge dalam-dalam.


"A- Ada apa dengan anak ini..." Batin ketua Mangge gugup. Dia tak percaya usahanya tak memberikan efek apapun, melainkan dia sendiri yang merasa terintimidasi.


"Orang tua! Apa kau bisa melepas tanganmu? Aku mendapat perintah dari master untuk melindungi anak itu. Kau bisa berurusan lagi denganku nanti." Tanpa ekspresi, Flyn meminta ketua Mangge agar melepaskannya.


"... Jika anak itu sampai terluka, kau juga menjadi target yang harus aku musnahkan!" Lanjut Flyn.


DEG!


Jantung ketua Mangge berdetak keras. "Mengapa dia begitu santai, apakah dia merasa mampu mengalahkan aku?" Batinnya lagi.


Yakin bahwa itu hanya bulan belaka, ketua Mangge bersikeras untuk tak melepas Flyn. Sementara itu, Falmes terlihat semakin menggemaskan dibawah cengkraman Roderick. Tampaknya, Roderick berniat menyiksanya secara berlahan.


"Ini peringatan terakhir, setelah perkataan ku selesai, maka tak ada pilihan selain membakar kalian sampai habis!"


Usai berkata begitu, Flyn melakukan sesuai perkataannya. Tepat di kata terakhir, tiba-tiba api merah menjalar dari tubuhnya, menyambar tangan ketua Mangge lalu menyelimuti seluruh tubuh orang tua itu.


Wuzzz!


"Argh...!" Terdengar sebuah teriakan yang menyayat hati.


Bersambung...!

__ADS_1


__ADS_2