System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Pedang Yang Sangat Tajam...


__ADS_3

DUAR!


Bangunan diseberang sana hancur dan luluh lantak oleh sebuah kekuatan api. Terlihat jelas bahwa api itu berwarna merah, membara dan meratakan bangunan hingga ketanah.


"Apakah ada yang membakar rumah itu?" Semua orang bertanya-tanya. Tak ada yang tahu pasti siapa pelakunya.


Suara ledakan yang keras sontak membuat Roderick terkejut, sampai sedetik kemudian dia baru menyadari ada yang aneh dengan dirinya.


Tiba-tiba dia merasakan sakit yang tak jelas. Namun dia langsung sadar, saat tangannya yang menggenggam leher Falmes sudah tak berfungsi seperti keinginannya.


"Ta- Tanganku!" Pekik Roderick. "Argh...! Siapa yang berani melakukan ini?!" Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, dia berteriak dan bereaksi bagai cacing kepanasan.


"Li- Lihat tangan orang itu! Tangannya tiba-tiba putus. Apakah tuan muda Falmes yang melakukannya?"


"Tidak mungkin! Bagaimanapun, orang itu bukan tandingannya."


Sekali lagi, semua orang kembali bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tampak terkejut, kejadian yang menimpa Roderick dan bangunan yang meledak, terjadi hampir secara bersamaan.


"Kurang ajar...! Jika berani, tunjukkan wajahmu dan hadapi aku!" Wajah Roderick terlihat memerah karena marah. Darah di lengannya terus mengalir deras. Sampai dia melakukan beberapa totok syaraf, barulah darah itu berhenti keluar.


Disisi lain, Falmes tak kalah terkejut menyaksikan kejadian didepan matanya. Meski hanya sepintas, dia tahu dari mana datangnya serangan itu.


Matanya melirik ke sosok yang berdiri di sudut sana. "Tuan Flyn!" Gumam Falmes. Matanya dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Kemampuan seperti ini, tak mungkin ada yang bisa melakukan kecuali seekor monster.


Dahi Falmes dipenuhi keringat dingin. Terbayang akan urusan yang belum terselesaikan dengan Zefier. "Bagaimana orang sekuat dia tunduk pada pemuda itu?" Batinnya, tak habis pikir.


Sementara itu, Roderick yang dari tadi sedang meratapi kesialan, sekarang sudah mulai tenang. Namun tampaknya dia sedang berdiskusi dengan seseorang.


"Ketua Mongge, aku minta keadilan! Aku menginginkan nyawa orang yang melakukan ini padaku!"


Roderick membungkuk pada seseorang tampak sudah tua. Dari caranya berbicara, tak salah lagi bahwa orang tua itu sangat dia hormati. Ternyata, selama ini dia tidak sendirian. Ada orang-orang yang menyamar sebagai penduduk biasa dan bersembunyi dibalik kerumunan tersebut.


"Roderick! Kau membongkar penyamaran kami, apa ini tidak terlalu sembrono?!" Wajah orang tua itu tampak santai, tapi tak sesantai kelihatannya. Lebih tepatnya, tak ada yang menyadari ekspresi gelisah dari orang tua tersebut.


"Ketua Mongge! Sudah dipastikan, Arez tak ada disini... Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun ada, dengan orang sebanyak ini mengurusnya hanya masalah kecil."

__ADS_1


"Baiklah...!" Ketua Mongge menyetujui. "Kalian semua, segera cari pelaku dan bongkar trik curang yang mereka lakukan. Jangan biarkan ada satupun yang meninggalkan tempat ini sebelum orang itu tertangkap." Perintah ketua Mongge.


"Siap, ketua...!" Ucap orang-orang yang ada dibelakang ketua Mongge. Mereka langsung mengelilingi para penduduk dan mengintrogasi mereka dengan sedikit ancaman.


"Jika kalian ingin selamat katakan segera, siapa yang melakukan perbuatan ini kepada tuan Roderick! Jika tak ada yang mengakui, maka kami akan memutus tangan kalian satu persatu." Teriak bawahan ketua Mongge, mengancam.


Semua orang langsung panik ketakutan. Mereka saling pandang, menebak-nebak siapa sekiranya yang mencelakai Roderick.


"Siapa yang melakukannya, cepat mengaku! Jangan timpakan kesalahan sendiri pada orang lain...!"


"Aku tak mau tanganku dipotong.... Ayo cari pelakunya!"


Tempat itu langsung ricuh, ribut bagaikan pedagang dan pembeli di pasar yang saling tawar-menawar harga. Ditambah lagi dibawah pengawasan tatapan tajam para bawahan ketua Mongge, mereka layaknya binatang ternak yang akan dipilih untuk disembelih.


"Aku...!" Teriak seseorang, sambil mengangkat tangan. Dengan perasaan marah, semuanya langsung melihat ke arah datangnya suara. Alangkah terkejutnya mereka, ternyata suara itu berasal dari Falmes.


"...Aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin kalian bisa menuduh orang yang tidak bisa apa-apa! Bukankah sejak awal, aku yang bertarung dengan dia?!" Falmes pura-pura mengaku, berusaha agar para penduduk tak terseret kedalam masalah ini.


"Tu- Tuan muda Falmes, apa yang anda lakukan?!" Seorang murid tampak sangat khawatir.


"Tapi, anda bukan pelakunya!"


"Sejak awal, kitalah yang berurusan dengan mereka. Jika bisa menyelamatkan orang, sebaiknya dilakukan dalam sekali jalan."


Murid tersebut terdiam. Memang, bagaimanapun merekalah yang harus menyelesaikan masalah ini. Bahkan mereka berani berdiri disisi Falmes, itu karena mereka sudah membulatkan tekad antara hidup dan mati.


"...Kalau mau mundur, sekaranglah saatnya. Aku akan berusaha melindungi kalian. Cepat susul ayah dan yang lain." Lanjut Falmes.


"Tidak, tuan muda! Maaf karena sudah meragukan sesaat. Bagaimanapun, kita akan berdiri dan terjatuh bersama."


Falmes tersenyum, meskipun senyuman itu hanya tindakan formalitas agar semangat para murid tidak padam. Padahal hatinya tetap saja kopong dan takut, membayangkan bagaimana hidupnya setelah ini.


"Anak muda, apa kau yakin?! Jika kau berbohong demi menyelamatkan orang-orang ini, mungkin nyawamu yang akan melayang." Mendengar pengakuan Falmes, Roderick bertanya untuk memastikannya. Meski keinginannya sangat besar untuk mengangkat Falmes sebagai murid pribadi, tapi tetap saja dia tidak terima atas perlakuan yang dia alami. Ya, nyawa adalah balasan paling ringan yang bisa dia berikan.


"Huh! Kalian terlalu naif...! Ini adalah perguruan ku. Tentu kami memasang beberapa jebakan untuk orang-orang seperti kalian!" Falmes berbohong. Tentu saja kalimat itu baru terpikirkan olehnya.

__ADS_1


Roderick marah bercampur kecewa. Memiliki seorang jenius di sisinya, tentu menjadi kebanggaan sendiri. Andai benar Falmes melakukan lalu berbohong dan mengingkarinya, mungkin dia hanya akan mengorbankan orang lain. Sekarang Falmes sudah terang-terangan menolak tawarannya.


"Pengakuan mu sangat tak masuk akal. Tapi, berhubung kau yang mengakuinya dan memang hanya itu kemungkinan yang terjadi, maka kematian mu tak bisa dihindari!" Sambil memberikan isyarat, Roderick menyuruh orang-orangnya untuk menangkap Falmes.


Dalam satu gerakan, sekarang mereka semua berjalan kearah Falmes, bermaksud untuk menangkapnya. Terlihat delapan orang berjalan sejajar, seakan tak memberi celah pelarian.


"Anak muda, kau terlalu keras kepala dan percaya diri dengan kemampuanmu. Sekarang, apa yang bisa kau lakukan?!" Salah satu bawahan ketua Mongge mencoba menghancurkan mental Falmes.


Falmes tak menjawab, dia hanya mengedarkan energinya, bersiap untuk melakukan pertarungan yang tak mungkin dihindari.


"Oh? Dengan orang sebanyak ini, kau masih berusaha melawan? Naif...!" Ucap orang itu lagi.


Semua bawahan ketua Mongge, juga menggunakan kemampuan mereka. Terdapat dua orang memiliki ranah yang setingkat dengan Falmes dan selebihnya masih diranah api besar. Tapi mereka sadar, walaupun menang jumlah, api mereka hanyalah api tingkat dua, api merah dan ungu. Takutnya, masih harus berhati-hati saat melawan api biru Falmes.


"Kalian semua, ikuti aba-aba-ku! Jangan ceroboh, jangan biarkan dia mendaratkan satupun pukulan pada kita!" Ucap orang yang berbicara tadi.


"Siap!" Jawab yang lain, serentak.


Setelah memaksimalkan kekuatan, mereka langsung membuat formasi penyerangan.


Tap, tap, tap...! Mereka bergerak dan melompat secara bersamaan. Dengan gabungan orang sebanyak itu, kemungkinan besar Falmes tak akan mampu menahannya. Tapi....


SLASH!


BRUK!


Bagai tersungkur sesuatu, kedelapan orang itu terjatuh secara bersamaan. Namun hal yang mengerikan terlihat setelah itu. Delapan tubuh kini sudah terbelah menjadi dua, terpisah antara atas dan bawahnya.


Tak ada teriakan, tak ada jerit kesakitan dan tak ada ekspresi kemarahan. Semuanya hening, hanya ada delapan badan yang bersimbah darah dan tak bernyawa, serta wajah-wajah ketakutan setiap orang yang menyaksikan kejadian itu.


Apa yang dialami kedelapan bawahan ketua Mongge, benar-benar terjadi dalam sekilas. Sayatan Jang begitu rapi, bagai terpotong pedang yang sangat tajam.


"A- Apakah ini nyata...? Tau aku sedang bermimpi?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2