System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Kemampuan Diluar Dugaan...


__ADS_3

Melihat tetua Je yang mati-matian menahan tekanan darinya, tetua Braham secara pribadi mengumumkan kemenangan dirinya pada tetua Je. Tapi apa yang tetua Je lakukan selanjutnya, sungguh membuat tetua Braham terkejut.


Wuzzz!


Tangan kanan tetua Je secara mengejutkan mengeluarkan sebilah pedang api. Memang tidak sebesar pedang api milik tetua Braham, namun pedang itu sudah cukup memberi serangan kejutan yang menjadi penentu kemenangan.


"Du- Dua...?! Kau bahkan sudah mampu menggunakan zona api dan menciptakan dua senjata sekaligus!" Ucap tetua Braham, tanpa menyembunyikan keterkejutannya.


"Tentunya, aku berlatih keras untuk dapat melakukan ini." Balas tetua Je. Terlihat ekspresi bangga di wajahnya. Ini kali pertama dia bisa sombong dihadapan tetua Braham.


"Pantas...! Aku sedikit heran saat mendapati perisai yang kau buat terasa lemah dan rapuh. Ternyata tujuannya untuk ini."


"Pedang Api....!" Tetua Je meneriakkan jurusnya. Pedang itu dia ayunkan dari arah samping, memilih sisi yang tak terlindungi.


Namun diluar dugaan, ternyata tetua Braham juga dapat melakukan hal yang sama. Dengan sisa energi yang dia miliki, tetua Braham membuat perisai api. Untungnya belum terlambat.


Booom!


Lagi-lagi terjadi ledakan akibat benturan antar pengguna api. Hantaman itu sempat membuat tetua Braham sedikit terhuyung, namun kembali stabil setelah berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


Sekarang, keduanya tampak saling menyerang, menekan dan bertahan. Hingga yang menentukan kemenangan itu, tentu yang zona apinya lebih kuat.


Krek...! Terdengar suara retakan.


Tak salah lagi, akhirnya mulai terlihat retakan pada perisai tetua Je. Hingga sebelum perisai itu benar-benar hancur, tetua Je segera mengambil langkah mundur dan menghindar, lalu terduduk lemas seperti orang kehabisan tenaga.


Di lain pihak, pedang besar tetua Braham juga berlahan menipis dan menghilang. Namun dia masih mampu berdiri meskipun kelelahannya juga tak kalah dari tetua Je.


"Hahaha.... Kau benar-benar berbahaya." Ucap tetua Braham. Meskipun begitu, kalimat yang dia ucapkan tentu saja sebagai pujian.


"Tapi, aku masih tetap kalah darimu, tetua braham."


"Kalah menang itu biasa. Yang terpenting, pertarungan ini sungguh telah membuka wawasan baru bagiku."


"Tidak...! Pertarungan kalian juga telah membuka mataku." Zefier tiba-tiba datang kehadapan mereka.

__ADS_1


"Tuan muda...." Ucap tetua Braham dan tetua Je bersamaan.


"Pertarungan yang bagus! Kemampuan kalian patut diacungi jempol. Minumlah, dan segeralah istirahat. Hari ini kita cukupkan sampai disini saja." Zefier memberikan mereka sebutir pil pemulihan. Hanya dalam hitungan detik, kedua tetua kembali bugar seperti tak pernah mengalami apapun.


"Sungguh pil yang luar biasa! Meski sudah berapa kali aku menerimanya dari tuan muda, aku masih tak percaya bahwa pil ini benar-benar beraksi dan memberikan efek yang spontan." Puji tetua Je.


"Ya, kami berharap bisa mempelajari kemampuan membuat pil seperti anda, tuan...." Sambung tetua Braham.


"Tenang saja.... Aku takkan merahasiakan apapun kepada kalian. Bagiku, memiliki orang kuat seperti kalian, takkan cukup jika hanya dibayar dengan uang dan beberapa kemampuan saja. Selagi kalian mampu, aku takkan pernah berhenti melatih dan memastikan semuanya menjadi kuat."


"Tuan muda.... Anda sungguh dermawan."


"Tak perlu sungkan! ini belum seberapa. Bahkan aku sendiri masih harus mengarungi lautan duri untuk mengetahui puncak kekuatan di dunia ini."


Mendengar perkataan Zefier, mereka seakan tak percaya bahwa kalimat itu keluar dari anak berusia enam belas tahun. Sungguh kemurahan dan kerendahan hati yang tak pernah mereka temukan. Di dunia ini, sedikit saja ada kemampuan, sombongnya sudah menebus langit ketujuh. Untungnya, tuan muda mereka sangat berbeda dari yang lain.


Setelah berbincang singkat, Zefier mengintruksikan semua orang untuk menyudahi pelatihan hari itu. Beberapa orang yang mendapat giliran menyediakan perbekalan, tampak memasuki pedalaman hutan untuk berburu, mencari berbagai buah-buahan serta binatang yang bisa dijadikan santapan siang sekaligus persediaan untuk malam.


Di pusat hutan seperti ini, mencari bahan pangan memang sangat mudah. Namun bahanya juga tidaklah kecil. Bahkan bisa dipastikan, diantara para binatang, sudah ada yang mencapai tahap Bulan, tahap dimana binatang sudah memiliki batu energi atau inti energi.


Kemampuan binatang tidaklah lebih lemah dari manusia. Hakikatnya, binatang memang sudah kuat sejak awal. Kemampuan fisik yang terlatih sejak dini, ketajaman naluri, keahlian dalam berburu dan yang lebih mengerikan, para binatang secara alami dapat menyerap energi sekitar tanpa harus mereka lakukan sendiri, meskipun bisa dibilang prosesnya cukup lambat.


Tapi, sekelompok orang yang Zefier bawa tentunya sudah berbeda dari yang sebelumnya. Bisa dikatakan, meski tak ada peningkatan ranah dasar pada diri mereka, namun semuanya sudah jauh lebih kuat dari yang dulu.


Selain peningkatan pada kekuatan fisik, kekuatan energi mereka juga terasa jauh lebih padat dari sebelumnya. Untuk melawan binatang dengan batu inti tingkat satu? Tak ada lagi yang perlu ditakutkan.


Ditengah tengah hutan, tepatnya di tempat ketiga pemuda yang mendapat giliran berburu...


"Hei, La'o...! Apa yang kau lakukan?! Cepat kejar rusa itu!" Teriak Moran dari belakang.


Setelah berkeliling mengintari hutan, akhirnya mereka menemukan rusa badai. Rusa yang terkenal dengan dagingnya yang super enak. Hanya saja, rusa itu sangat langka dan sulit didapat. Bertemu saja sudah sukur, namun geraknya yang cepat, sering kali membuat para pemburu kehilangan jejak.


"Bodoh! Mengapa kau malah berteriak?! Kau malah mengagetkannya!" Balas La'o kesal. Rusa yang sedang asik mencari makan, akhirnya menyadari keberadaan mereka. Hanya dalam kedipan mata, rusa itu berlari dengan cepat lalu menghilang dibalik pepohonan dan semak.


Akibatnya, terjadi perdebatan diantara mereka....

__ADS_1


"Habisnya, kau hanya mengintip dan tidak melakukan apa-apa!"


"Apa kau tidak lihat, aku sedang mengecek jenis kelaminnya!" La'o memberikan jawaban yang tak masuk akal.


"Konyol...?! Untuk apa kau melakukannya?! Kau juga bisa melihat setelah berhasil menangkapnya."


"Jika rusa itu betina, maka tak ada gunanya kita menangkapnya."


"Apa hubungannya dengan jenis kelamin?!"


"Aku dengar, jika kita ingin mengkonsumsi daging binatang, haruslah yang sesama jenis. Kau akan mendapatkan kegagahan yang serupa seperti binatang itu."


"Haduhhh...! Darimana kau mendapatkan informasi tak jelas itu, apa kau juga akan memilih ikan jantan untuk dikonsumsi?"


"Tergantung...."


"Maksudmu....?"


"Kalau ikannya punya tit**, baru aku mau memakannya." Jawab La'o, membuat Moran semakin kesal.


"Ah, sudahlah! Berdebat denganmu hanya akan membuatku semakin stres...!" Ucap Moran, namun tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang kurang. "Kemana perginya Neber? Bukannya tadi dia bersama kita?" Tanyanya, lanjut.


"Ah, kalau dia, aku melihatnya mengejar rusa badai itu." Jawab La'o.


"Kau, mengapa baru bilang sekarang? Seharusnya kita bisa membantu." Tampak Moran semakin kesal.


"Biarkan saja, paling dia hanya tertarik mengadu kecepatan."


"GLEK...!" Moran menelan ludah saat mendengar jawaban yang membuat hatinya semakin dongkol. "Ah, ya.... Aku baru sadar, sejak dulu tak ada satupun dari kalian yang beres."


"Hahaha.... Memang seperti itulah kelebihan orang-orang seperti kami." La'o tertawa bangga.


"Aku tidak sedang memujimu!"


"Tenang! Aku sedang memuji diri sendiri."

__ADS_1


Sekali lagi, Moran memegang kepalanya yang serasa mau pecah. Tak satupun perkataannya yang tersampaikan. Dia baru terpikirkan dan mencoba mengingat-ingat, sudah sejak kapan mereka bersama dan sejak kapan mereka sedekat ini.


Bersambung....


__ADS_2