System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Pengabdian Livy....


__ADS_3

Zefier berdiri di hadapan Dan Dzik dan Leo yang tengah terbaring lemah di kasur empuk. Melihat kondisi dua orang yang tampak mengenaskan, padahal hanya ditinggal dalam waktu satu minggu saja.


Meski dengan tubuh penuh luka dan memar, namun perasaan Dan Dzik dan Leo saat itu sudah seperti di surga. Tentu saja, itu karena sebelumnya mereka selalu menerima siksaan sepanjang hari.


Namun dibandingkan perasaan nyaman itu, mereka lebih ingin bertemu dengan Zefier. Sebenarnya sejak awal mereka sudah memutuskan untuk mengikutinya. Hanya saja mereka tidak tahu harus berkata apa agar bisa berinteraksi dengan alami.


"Tuan muda... Apakah kami harus memanggilmu 'tuan muda' agar bisa menjadi pengikutmu?" Leo berbicara dengan suara parau.


Mendapat pertanyaan itu, Zefier hanya diam dan tak berkata apa-apa.


"Tetua Je... Tolong jaga mereka sebentar." Pinta Leo sambil pergi meninggalkan tempat itu. Terlihat raut kekecewaan di wajah Leo dan Dan Dzik saat melihat Zefier tak merespons pertanyaannya.


Tak berapa lama kemudian, Zefier kembali dengan beberapa bahan obat di tangannya. Dengan bahan-bahan itu dia membuat sebuah pil tanpa menggunakan tungku pembakaran seperti yang selalu digunakan para alkimia.


Tak ada yang percaya melihat apa yang Zefier lakukan. Tangannya lihai, menciptakan beberapa gumpalan api dengan suhu yang berbeda-beda. Secara bertahap, terlihat setiap bahan mengeluarkan cairan inti dari tanaman obat tersebut. Lalu dengan cekatan dia melakukan pembakaran ulang hingga hasil yang didapat benar-benar murni.


Sejurus kemudian, dia menggunakan teknik rumit untuk menyatukan cairan-cairan dan membakarnya dengan suhu yang lebih tinggi dan konsisten. Tak berapa lama kemudian, cairan tersebut terlihat menyatu sempurna dan mengeras.


Hanya butuh sedikit waktu, obat yang dibuat oleh Zefier akhirnya jadi. Warnanya yang mengkilap bahkan seperti menghasilkan cahaya, membuat siapa saja akan ter-sugesti dan merasa sehat sebelum meminumnya. Belum lagi aroma wangi yang menyebar memenuhi udara ruangan tersebut seakan menghipnotis setiap orang.


"Luar biasa!" gumam Tetua Je, kagum. Sejak awal kekagumannya terus meningkat saat melihat Zefier melakukan semuanya dengan sangat cakap.


Sepintas, pembuatan pil yang Zefier tunjukkan terlihat sangat simpel. Tapi dibalik itu semua, ada beberapa hal tak kasat mata yang dia lakukan dan juga tidak diketahui oleh siapapun, yakni penyuntikan energi ke dalam pil.


Penyuntikan energi merupakan salah satu hal tersulit yang jarang bisa dilakukan oleh alkimia manapun. Jika tidak berhati-hati, penyuntikan energi dapat mengakibatkan ledakan yang membuat semuanya jadi tak berguna. Meskipun berhasil, terkadang ada kendala di mana energi yang disatukan dengan obat malah merubahnya menjadi sebuah racun yang mematikan.

__ADS_1


Itulah sebabnya kebanyakan alkimia selalu menggunakan tindakan terpisah, khusus untuk menyuntikkan energi yang juga masih sering gagal.


"Minumlah..." pinta Zefier pada Leo dan Dan Dzik, seraya memberikan dua butir pil berwarna hijau.


Tanpa banyak tanya, mereka berdua langsung meminum pil tersebut. Tak ada keraguan apakah itu racun atau tidak, mereka hanya meyakinkan diri bahwa tindakan Zefier sama sekali takkan pernah membahayakan mereka.


GLEK...!


Hanya beberapa saat setelah meminum pil itu, seluruh luka dan memar yang ada pada tubuh mereka tampak berangsur pulih dengan kecepatan yang mengagumkan. Jelas itu hal yang tak mungkin ada di dunia nyata. Selama ini, mereka selalu menunggu berjam-jam hanya untuk merasakan efek awal dari obat yang digunakan. Tapi sekarang, efek obat tersebut langsung terlihat dan sangat nyata.


"Bahannya masih kurang berkualitas. Jika tidak, mungkin kalian akan langsung siap tempur." jelas Zefier.


Mungkin itu sebabnya Leo dan Dan Dzik masih merasa seperti kekurangan tenaga. Tapi mendapati hasil seperti ini merupakan hal paling luar biasa yang pernah mereka alami.


Tapi tindakan Zefier tidak berhenti di situ, dia memegang tangan mereka berdua, lalu melakukan sesuatu layaknya mentransfer energi. Terlihat ekspresi keduanya seakan menikmati rasa nyaman yang perlahan merasuki tubuh.


Zefier melepas tangannya dari Leo dan Dan Dzik. Proses penyembuhan sudah selesai. Semua yang dia lakukan tidak sesulit yang dibayangkan.


"Baiklah, karena kalian baru saja pulih, sebaiknya…" Zefier ingin menyarankan pada mereka agar beristirahat. Tapi, belum selesai dia berbicara, tiba-tiba mereka berdua langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung bersujud.


"Tuan muda...! Tolong bawalah kami, jadikan kami sebagai pengikutmu yang setia." ucap Leo dan Dan Dzik secara tiba-tiba.


"Hehehe..." Zefier tertawa kecil. "Padahal, aku ingin memohon pada kalian setelah ini. Tapi... Mengapa kalian memanggilku seperti itu?" lanjutnya.


"Tidak... Tidak ada yang lebih pantas selain memohon dan menghormati anda sebagai tuan muda kami!"

__ADS_1


"Hemmm... Memang benar! Akan lebih merepotkan jika kalian memanggilku guru, atau kakek guru, atau eyang guru atau..." Zefier terdiam sesaat. "Intinya, aku akan menjawab keyakinan kalian dan memastikan kalian tidak akan pernah menyesal telah mengikutiku." balasnya, mantap.


"Terima kasih, tuan muda...!" ucap Dan Dzik dan Leo, penuh semangat.


"Simpan dulu terima kasih kalian, ini masih belum saatnya. Sekarang istirahatlah dulu, tubuh kalian masih kelelahan." ucap Zefier.


Mereka lalu beranjak dari tempatnya dan mengikuti saran yang Zefier berikan. Jika bukan karena perintah Zefier, mungkin mereka ingin segera menunjukkan semangat menggebu yang mereka pendam saat ini.


Di sisi lain, Livy memperhatikan semua kejadian itu dari belakang tetua Je. Sesuatu yang jarang terjadi, biasanya seorang wanita cantik yang didambakan akan sering jual mahal, tapi dia tak segan-segan berkali-kali menunjukkan ekspresi kagum dan kaget secara terang-terangan. Beruntung tak ada yang memperhatikannya, sehingga dia tak perlu malu tentang itu.


Terakhir, dia sangat terkejut melihat perubahan sikap Leo yang drastis. Bertahun-tahun dia hidup dalam bayang-bayang kejaran Leo yang ingin menikahinya, tak sedetikpun dia bisa tenang jika membayangkan masa itu. Paksaan dan paksaan, Leo bahkan hampir setiap hari mengunjunginya tanpa memberinya kesempatan untuk bersantai.


Namun, apa yang dia lihat saat ini sungguh bukan seperti Leo yang dulu. Sejak pertemuannya di bawah, Leo seakan cuek dan tak mempedulikannya. Terasa aneh, tetapi itu nyata. Apalagi saat melihat sosok Leo, orang yang selalu ingin dipuji dan menyombongkan diri, sekarang rela bersujud dan memohon dijadikan bawahannya. Tentu saja ini adalah fenomena langka yang harus dicatat dalam sejarah.


"Hei...! Apa kau sudah membaca surat itu?" Zefier sedikit meninggikan suaranya. Sudah dua kali dia bertanya, tetapi wanita di hadapannya tampak terdiam dalam lamunan.


"Eh, ya, apa...?" Livy tampak kebingungan ketika pertanyaan Zefier akhirnya menyadarkannya. "Maaf, tuan muda! Apa yang Anda tanyakan barusan?" Akhirnya Livy dapat mengendalikan dirinya.


Ya, Livy tidak salah memanggil. Isi surat dari ayahnya, Tuan Kasra, memanggil Zefier dengan sebutan "tuan muda". Setelah membaca dua kali, dia mengerti bahwa surat itu menyuruhnya mengabdikan diri pada Zefier. Tak ada keraguan tentang keaslian surat itu. Segel keluarga, pita pengikat, dan simpul khusus yang digunakan pada gulungan surat itu, jelas tak ada yang mengetahuinya selain keluarga mereka sendiri.


"Hamba siap mengabdikan diri, tuan muda...!" Lanjut Livy dengan lembut, dia menampakkan sisi wanitanya yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun.


"Ehem...!" Zefier berdehem. "Aku bukan raja atau pangeran.... Hamba? Sepertinya itu berlebihan." Zefier sedikit tersipu, menyaksikan sisi feminim Livy yang baru kali ini dia saksikan dari seorang wanita.


Livy juga merasa sama. Wajahnya sedikit merona, malu atas sikapnya yang kurang pantas. Beruntung hanya Zefier dan mungkin tetua Je saja yang melihatnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2