
Bohong bila merasa tak direndahkan, bohong tak merasa terhina. Sejak awal Leo hanya berusaha biasa saja setelah mendengar perkataan Zefier yang merendahkan.
Akan tetapi, bohong bila tak merasa ragu, bohong pula tak merasa takut. Sebab orang gila juga tahu apa itu bahaya.
Zefier memang terlihat acak-acakan tapi semua perkataannya terasa waras. Apalagi dia sempat membuat ayahnya yaitu orang paling dihormati di keluarganya merasa terancam.
Pertarungan kali ini Leo hanya ingin membuktikan bahwa Zefier tidak seperti apa yang ayahnya khawatirkan. Tapi disisi lain, perasaan sesaat juga tak boleh diremehkan.
"Siapa namamu...?" Sebelum bertarung, Leo mencoba berinteraksi. Dia mungkin akan mendapat petunjuk apakah Zefier orang yang patut diperhitungkan atau tidak.
"Zefier..." Jawabnya singkat.
"Melihat keberanian mu ini, sepertinya kau berasal dari latar belakang perguruan ternama. Apa namanya dan dimana tempatnya." Leo menggali lebih dalam.
"Aku tidak pernah belajar di manapun dan kepada siapapun. Aku hanya berlatih mandiri. Jadi, kau tak perlu takut kepada siapapun kelak. Aku juga pulang tipe orang yang suka mengadu."
"Kalau begitu, sangat disayangkan.... Aku mungkin tidak akan melukaimu dengan serius seandainya kau memiliki latar belakang yang kuat."
"Itu namanya kau terlalu percaya diri. Apa menurutmu bisa menilai seseorang hanya dengan percakapan singkat?"
"Haha, kau benar... Memang sebaiknya pembuktian itu dengan kekuatan bukan dengan ocehan. Kalau begitu, persiapkan dirimu. Melihat arogansi mu barusan, aku takkan segan...."
"Entah berapa kali harus aku katakan, bahkan menghadapi kalian sekaligus aku tak butuh persiapan." Jawab Zefier santai.
Mendengar hal itu, Leo tersulut emosi. Tapi dia memendam itu semua dan tetap berusaha tenang. Seperti katanya tadi, dia hanya butuh membuktikan.
Dengan konsentrasi tinggi, Leo mengalirkan energi ke kedua tangan dan kaki seperti yang dia lakukan sebelumnya. Tapi kali ini berbeda, energi yang digunakan terasa lebih pekat.
Meski Zefier terlihat seperti orang tak terawat, Leo dapat menilai bahwa Zefier tidak sekedar omongan belaka. Dan mungkin ini pertama kalinya dia begitu serius saat menghadapi lawan.
Melihat Leo yang sudah mengeluarkan jurus, Zefier tak serta merta panik. Sebaliknya, dia tetap terlihat santai dan biasa saja.
"Apa yang kau lakukan! Mengapa kau tak mengeluarkan jurus?" Tanya Leo, merasa tersinggung karena telah dianggap remeh.
"Apa perlu aku mengulangi perkataan ku tadi?" Ucap Zefier.
"Ah, tidak perlu...! Sepertinya kesombongan mu sudah tak tertolong lagi." Balas Leo.
Setelah berkata begitu, Leo menghilangkan jurusnya. Dia kehilangan niat bertarung yang tadi sudah menggebu.
__ADS_1
"Mengapa kau berhenti?"
"Huh...! Sepertinya aku sudah menganggap dan berharap lebih bertarung denganmu. Aku tidak niat bertarung dengan orang yang tak bisa apa-apa. Aku tak mau dibilang menindas yang lemah." Ucap Leo.
"Sudah aku katakan, aku ingin segera menyelesaikan perkara ini, tapi kau malah berhenti. Jika kau tidak mau melanjutkan, maka panggil saja mereka semua sebagai penggantimu."
"Tampaknya kau benar-benar ingin bertarung.... Begini saja, aku akan memberikanmu kesempatan memukul sebanyak lima kali, jika sebanyak itu kau sanggup melukaiku, maka aku akan menghadapi mu dengan serius. Bagaimana?" Tantang Leo.
"Apa kau yakin...?"
"Tentu saja."
"Apa kau sudah siap?"
"Kapanpun...."
"Maka, kau akan menyesal...!" Ucap Zefier.
Diiringi dengan perkataannya itu, dia bergerak dengan sangat cepat, semua orang bahkan seperti kehilangan sosoknya dalam sesaat.
Tapi itu bukan satu-satunya yang menjadi perhatian semua orang. Hal yang paling membuat terkejut adalah, saat ini tangan Zefier telah menggenggam batang leher Leo. Leo sendiri yang menjadi korban aksi tersebut, bahkan terlambat terkejut.
"Apa...?!" Mendadak orang orang melihat dengan raut tak percaya.
Tuan Kasra yang tadinya tidak terlalu memperhatikan, lebih terkejut lagi. Dia tidak menyangka, orang yang tadinya tak dianggap bahkan dijadikan sebagai kambing hitam sesaat, ternyata memiliki kemampuan yang tak disangka-sangka.
"Siapa anak itu sebenarnya....? Apa kau yakin dia bukan salah satu dari murid perguruan ini?" Tanya Kasra pada bawahannya, penasaran.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, tak ada satupun yang mengenal anak itu, tuan." Jawab bawahan tuan Kasra.
Disisi lain, terlihat raut terkejut berkepanjangan di wajah para pemimpin perguruan itu, termasuk Galga ayah Leo.
"Ba, bagaimana bisa.... Aku tak melihat dia menggunakan jurus api, bagaimana bisa dia bergerak secepat itu." Ucap ketua Momor.
"Ya, aku juga tidak yakin...." Jawab yang lain.
Sementara itu, rasa khawatir terlihat jelas di wajah Galga. Dia kini benar-benar yakin dengan perasaan was-was yang dirasakan dari Zefier. Tak salah lagi, Zefier adalah anak yang menghentikan serangan Alfert sebelumnya.
"Leo, mengapa kau diam saja...! Cepat lakukan perlawanan." Teriak Galga dari tempat duduknya.
__ADS_1
Sebenarnya, hampir saja di reflek bergerak ke atas arena menolong Leo. Tapi mengingat perkataannya tadi terhadap tuan Kasra, dia seperti menelan ludah sendiri.
Mendengar teriakan ayahnya, Leo yang terlalu terkejut dan tak sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba tersadar. Dia merasakan sebuah cengkraman keras pada lehernya. Tangannya langsung memegang erat tangan Zefier dan berusaha melepaskan cengkraman tersebut.
Namun sekeras apapun dia berusaha, cengkraman Zefier seperti tak mengendor sama sekali.
"Ka, kau.... Kurang ajar, beraninya kau menyerang diam-diam!" Teriak Leo.
"Apa kau menyesal dengan keputusanmu tadi...?!" Zefier berkata dengan tatapan tajam.
Leo tak menjawab, dia segera menyalurkan energi ke tangannya. Api menyala seakan membakar tangan Zefier.
Bukannya mengendor, Zefier malah terlihat seperti tak merasa panas dari api Leo yang membakar tangannya.
Tak berhenti disitu, tangan Zefier juga berlahan mengeluarkan api merah. Api itu tidak terlalu besar, tapi efeknya membuat Leo menjerit kesakitan.
"Arghhh...! Panas...! Lepaskan aku!" Terdengar teriakan Leo yang meraung kepanasan.
"Oh? Bukankah api mu api tingkat tiga? Bagaimana mungkin kalah dengan api merah yang tingkat satu ini?" Ucap Zefier.
"Kurang ajar...! Lepaskan aku, atau ayahku akan membunuhmu." Ancam Leo.
"Memang itu tujuanku...." Ucap Zefier.
Zefier kemudian memperbesar api ditangannya. Bersamaan dengan itu, Leo merasakan panas yang semakin meningkat. Api yang digunakannya untuk menahan api Zefier, tak berguna sama sekali.
Setelah beberapa detik, Leo akhirnya tak sadarkan diri. Terlihat wajahnya mengalami luka bakar. Rambutnya juga tak tersisa barang sehelai.
Tanpa rasa bersalah, Zefier melemparkan tubuh Leo keluar arena begitu saja.
Melihat anaknya tak lagi berdaya, wajah Galga terlihat merah, seakan semua darah naik ke kepalanya.
"Kurang ajar...! Berani sekali kau melukai anakku." Teriak Galga yang langsung mendatangi tubuh Leo.
"Aku tak mendengar kata menyerah dari mulutnya. Maka aku hanya bisa membuatnya pingsan." Tepis Zefier.
"Ka, kau...! Aku akan mencabut nyawamu, bangsat." Benyak Galga, lagi. "Alfert...!" Teriak Galga.
Dengan tanggap, Alfert langsung bergerak cepat. Dia tau apa yang harus dilakukan. Dia harus memberi pelajaran pada Zefier.
__ADS_1
Melihat hal itu, tuan Kasra berniat menghentikan tindakan yang melanggar peraturan tersebut. Namun sebelum kalimat protesnya terlontarkan, Alfert Sudah berada dihadapan Zefier dan siap melancarkan pukulan.
Bersambung....