
"A, apa kau bilang...?! Apa maksudmu menyerah?" Doga tak habis pikir dengan pernyataan Dan Dzik yang pasrah begitu saja.
Tak ada angin tak ada hujan, berita ini bagai petir disiang bolong. Dan Dzik mempertaruhkan diri demi membelanya. Dia bingung, bagaimana akan mempertanggung jawabkan ini pada Liam Dzik nantinya.
Sementara itu, Aregon tampak tersenyum. "Hmmm.... Sepertinya batu-batu itu memang ditakdirkan jatuh ke tanganku." Batinnya.
Aregon menghampiri ayahnya. "Ayah, bukankah ini kesempatan?"
"Apa maksudmu kesempatan, Aregon?" Doga semakin bingung mendengar pernyataan anaknya.
"Tentu yang ku maksud adalah merebut batu-batu energi itu.... Karena Tuan muda Dan Dzik sudah menyerah, kita hanya perlu mencari orang lain untuk mengajaknya." Terang Aregon.
Plak, plak, plak...!
Doga menampar keras anaknya hingga berkali-kali.
"Apa maksudnya ini, ayah!" Aregon meringis sambil memegang bekas tamparan di pipinya.
"Kau masih memikirkan hal itu.... Dan Dzik mempertaruhkan diri karena kita, jika kabar ini terdengar oleh ayahnya, kau pikir dunia ini masih aman untuk ditinggali?" Bentak Doga.
Melihat kemarahan ayahnya, "Ayah...." Aregon tak tau mau berkata apa. Tapi batu itu masih menjadi prioritas utama baginya.
Disisi lain, Zefier menggerakkan tubuh layaknya sedang pemanasan. Dia melakukan beberapa perenggangan pada bagian sendi.
"Sekarang, tinggal mengurus sisanya." Zefier menatap tajam pada ketiga orang yang sebelumnya bersama dan Dzik.
Melihat itu, dan Dzik langsung berlutut dihadapan Zefier. "Tolong, tolong jangan apa-apakan mereka. Bukankah aku sudah menyerah?" Dan Dzik memohon dengan sangat. Matanya terlihat begitu iba.
"Aku tidak tau apakah kau sengaja lupa. Sekali lagi aku katakan, isi perjanjian ku adalah mengalahkan kau beserta kelima orang lainnya. Melepaskan mereka, sama saja bunuh diri." Ucap Zefier.
"Kecuali..."
"Kecuali apa...!" Dan Dzik tampak bersemangat mendengar lanjutan kalimat Zefier.
"Ya, tentu saja jika mereka menyerah..."
"Ah, betapa bodohnya aku. Mengapa aku tak memikirkan jawaban ini." Gumam Dan Dzik. Dia segera menemui ketiga temannya seraya meminta agar mereka menyerah.
Pernyataan kontroversi itu membuat ketiga temannya merasa aneh hingga Dan Dzik langsung dihujani berbagai pertanyaan. Untungnya dia bisa meyakinkan dengan alasan yang dibuat-buat karena harus menutupi identitas Zefier.
Dan Dzik kembali dan melapor pada Zefier. "Mereka juga menyerah...!"
"Baiklah.... Sekarang hanya perlu membereskan dua orang lagi, maka urusan ini selesai." Ucap Zefier sambil berbalik badan. Matanya tertuju pada dua orang yang ada di ujung perahu. Mereka merupakan praktisi sewaan kapten.
__ADS_1
Selangkah demi selangkah, Zefier mendekati mereka. Hingga tinggal beberapa meter, Zefier berhenti. "Mengapa tidak kau panggil saja semua orang-orang mu?" Tanya Zefier pada kedua praktisi tersebut.
"Si, siapa yang kau maksud...!" Kedua orang itu tampak gugup.
"Hei, kau, bocah sialan...! Kau sudah membuat keributan disini. Sekarang malah berlagak seperti orang hebat." Suruhan kapten mendadak sok.
"Kau, siapa...?" Zefier mengalihkan pertanyaan pada bawahan kapten.
"Aku bawahan langsung, kapten. Mereka orang sewaan yang akan meringkus kesombongan mu." Jawab bawahan kapten.
"Apa kau yakin...? Sepertinya kau tidak tahu apa-apa." Zefier melihat kearah kedua orang itu. "Kalian hanya mempersulit ku jika datang satu persatu. Sebaiknya, keluar saja kalian." Dia berkata berkata lantang sambil menghadap kumpulan penumpang.
Tak ada yang paham maksud perkataan Zefier. Semua orang saling pandang dan merasa bodoh sendiri.
"Apakah dia sudah gila...? Pada siapa sebenarnya dia berbicara." Ucap mereka.
Semua prasangka mereka terus berlanjut hingga tiba-tiba beberapa orang mengasingkan diri dan maju kehadapan Zefier.
"Hahaha...! Benar saja, kau bukan seperti yang terlihat. Aku bahkan terkejut, kau menyadari keberadaan kami." Seseorang dengan kepala botak, berbicara penuh kesombongan.
Badan besar dengan mata tertutup sebelah layaknya bajak laut serta kapak besar yang bertengger di punggung membuat karakternya terlihat menakutkan. Lebih cocoknya orang itu digambarkan sebagai bos bandit gunung.
Semua orang terkejut. Mereka tak menyangka bahwa orang yang Zefier maksud benar-benar muncul. "Siapa mereka, mengapa mereka terlihat seperti penjahat?"
"Be, benarkah...? Bukankah seharusnya mereka tidak berada disini?" Semuanya mulai merasa gugup.
"Hahaha...!" Kepala preman itu kembali tertawa. "Tak disangka, ternyata aku cukup terkenal." Tawanya.
"Kalian, mengapa masih berdiri disana...?" Panggil kepala preman.
"Ah, maaf, bos Arong...! Kami terlalu terbawa suasana." Jawab kedua orang praktisi yang dibawa bawahan kapten seraya bergabung dengan komplotan preman.
Bawahan kapten mencoba memahami apa yang terjadi. "Apa maksudnya ini...!" Mau kemana kalian." Bentak nya, sambil berusaha menghadang mereka.
"Sudah jelas bukan...? Kami hanya menyamar. Kami juga bagian dari mereka." Jawab kedua preman yang menyamar itu.
"Berani-beraninya kalian menipu kapten. Kalian harus bertanggung jawab!"
Tapi bukan pertanggungjawaban yang didapat, melainkan sebuah pukulan telak di perut.
Bug...!
Suara pukulan itu terdengar cukup nyaring. Bawahan kapten langsung terduduk menahan sakitnya pukulan yang mengenai tepat di ulu hati.
__ADS_1
"Tanggung jawab...? Kau salah orang. Hahaha..." Tawa mereka, meninggalkan bawahan kapten begitu saja.
Arong menatap lekat Zefier. Dia tampak menyelidiki tubuh Zefier secara keseluruhan.
"Anak ingusan! Aku tidak tahu kau dapat darimana batu-batu itu. Jika kau menyerahkannya aku dapat menjamin kelangsungan hidupmu." Arong bernegosiasi dengan ancaman.
"Sudahlah...! Hari ini aku terlalu lelah karena selalu jumpa dengan orang seperti kalian. Lakukan apa yang kalian mau... Yang jelas, benda ini tidak gratis." Zefier membalas, sinis.
"Boleh juga kau anak muda. Aku ingin mempermudah, tapi kau malah mempersulit diri sendiri. Jujur, tidak ada informasi tentang kekuatanmu. Hanya saja, dengan jumlah sebanyak ini, kau pasti menjadi teri giling."
"Kalian semua, serang dia...!" Teriak Arong memerintahkan.
Tak khayal mengapa para preman ini sangat ditakuti dan disegani penduduk desa, melainkan mereka semua merupakan praktisi yang sudah berada di tingkat api kecil.
Semua bawahan Arong segera mengelilingi Zefier. Pertarungan berat sebelah pun terjadi dalam hitungan detik. Semua orang yang tak ingin terlibat, segera menjauhi tempat itu dan hanya memandang dari jarak jauh.
Jika diperhatikan, semua bawahan Arong cukup lihai saat memperagakan jurus-jurus dasar. Ini membuktikan bahwa mereka sudah berbekal pengalaman dari berbagai jenis pertarungan.
Semua preman-preman itu memiliki api yang sama dengan zefier. Yaitu api merah. Hanya Arong saja yang belum diketahui jenis apinya.
"Hiat, hiat, ha..." Satu persatu melancarkan serangan secara bergantian. Berbekal dari pengalaman sebelumnya, mereka melihat Zefier sangat hebat dalam hal menghindar. Jadi mereka hanya berusaha membuatnya lelah.
Sudah hampir setengah jam mereka melancarkan pola serangan tersebut berulang-ulang. Namun apa yang mereka dapati, diluar kenyataan. Merekalah yang terlebih dulu merasakan letih.
"Sialan...! Mengapa kau hanya menghindar. Serang saja jika kau ada kemampuan." Pinta salah satu preman, emosi karena kelelahan. Apalagi sejauh ini, tak satupun dari mereka yang berhasil mengenai Zefier barang sehelai rambut.
"Aku sarankan, kalian jangan memintaku seperti itu. Aku takut, kalian hanya akan menjadi daging panggang." Ejek Zefier, sedikit.
"Kau slalu membual. Ternyata kekuatanmu hanya ada di mulut. Apa itu faktor keturunan. Apakah orangtuamu yang mengajarinya?" Balas preman tadi.
Selesai berkata begitu, tiba-tiba semua yang menyerang berhenti mendadak. Mereka dikejutkan oleh fluktuasi energi yang muncul dari tubuh Zefier.
Meskipun energi itu tidak bermaksud mengintimidasi mereka, tapi Tampa sadar mereka merasakan tekanan yang luar biasa.
Api ditangan Zefier mulai menyala. Meski sesama pengguna api merah tapi warnanya dapat dibedakan hanya dalam sekali lihat. Terasa lebih berat dan padat.
"Kau.... Mungkin bisa berbicara sesuka hatimu tentang apapun. Tapi jangan sesekali menyinggung hal yang berurusan dengan orangtuaku." Berang Zefier dengan penuh kekesalan.
Bwuzzz...! Ledakan gelombang energi keluar dari tubuh zefier membuat orang-orang disekitar, terdorong.
"I, ini...! Ditingkatan ini, mengapa energi yang dihasilkan begitu besar?!"
Bersambung...
__ADS_1