System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Emosi Tak Terbendung...


__ADS_3

"Hahaha..." Arong tertawa keras. Entah apa yang ada dipikirannya kali ini.


"Goda...! Bukankah kau memberikan informasi yang salah, serta masih ada yang kurang?" Lanjut Arong.


"Egh.... A, aku melaporkan sesuai apa yang aku lihat di warung tadi. Ketiga anggota yang aku bawa, mereka juga menyaksikan hal yang sama. Be, begitu bukan...?" Melihat ekspresi Arong, Goda mencari pembelaan melalui ketiga anggota yang memanggilnya, bos.


"Be, benar...! Kami mengatakan yang sebenarnya. Ketiga anggota goda, tampak lebih ketakutan.


"Hemmm... Aku tak bermaksud menyalahkan. Kalian malah membuat aku senang."


"Masalah jumlah batu, bukankah makin banyak makin bagus...? Dan masalah kemampuan anak itu, aku rasa akan membosankan jika tidak ada perlawanan."


"Te, terimakasih atas pujiannya, bos." Goda akhirnya bernafas lega.


"Berbanggalah....! Jarang-jarang aku memberi pujian." Ucap Aron.


"Hehehe... Te, tentu saja, bos." Jawab mereka dengan tawa tak ikhlas.


Suasana semakin tegang. Tiupan angin kencang, sama sekali tak mengubah apapun. Aron sedikit bersemangat, merasa ada hiburan. Sedangkan Zefier, semakin panas karena tersinggung.


"Yo, anak muda. Aku sedikit menghormatimu karena berani melawan kami. Jika kau bisa menghiburku, aku akan menyisakan sedikit tubuhmu, agar orang tuamu bisa melakukan pemakaman yang layak." Dengan sombong, Arong berbicara tinggi.


Kali ini, setelah mendengar kalimat Aron, Zefier tak dapat lagi menahan kelu dihatinya. Dia sudah berusaha menahan diri, tapi perkataan Aron kembali membuat momentum dihatinya meledak.


Selangkah demi selangkah, Zefier berjalan kearah Aron. Setiap jejak yang ia tinggalkan menyisakan retakan yang mendalam hingga tenggelam, seakan dia sedang memikul gunung dipundaknya.


Mulutnya mendesis, matanya serasa membara, tangan di kepal dengan keras. Sepertinya dia mudah emosi mendengar kalimat-kalimat yang berhubungan dengan ayah atau ibunya.


Kurang dari satu meter, Zefier berhenti tepat dihadapan Arong. Tatapan tajam, membuat Arong sedikit bergidik.


"Yo, aku tau kau marah. Terus apa yang mau kau lakukan...? Arong berusaha terlihat tenang.


Tap...! Seperti menangkap lalat, Zefier menangkap leher Arong. Sontak membuat Arong sangat terkejut. Dia bahkan tak sempat bereaksi atas hal itu.


Arong berusaha melepas cengkraman Zefier. Rasa takut sontak menjalar ke sekujur tubuh saat mendapati Zefier tak bergeming sama sekali.


"Le, lepaskan aku...." Arong menyesal karena sudah lengah. Ia merasa, kepalanya seakan berada di mulut buaya.


Tapi, Zefier seperti orang yang berbeda. Dia tak lagi mendengarkan suara yang masuk ke telinga. Yang ada hanyalah kemarahan.

__ADS_1


Sebelah tangannya mulai mengeluarkan kekuatan api. Kecil, namun panasnya tak ada yang bisa menggambarkan. Aron sendiri merasa, mungkin itu adalah api langka dengan jenis berbeda. Jika tidak mana mungkin dia tak tahan dengan panasnya.


Melihat aksi Zefier, Aron merasa harus berbuat sesuatu. Dia yakin akan menjadi sasaran api panas itu.


Dengan segenap kekuatan. Aron mencoba melawan dengan kekuatan apinya.


Wuzzz...! Api kuning menyala di sekujur tubuh. Sambil memusatkan di tangan, dia memukul-mukul Zefier, meraih bagian yang bisa diraih. Namun sayang, semua itu tak berpengaruh sama sekali.Sedikitpun Zefier tak mengendorkan cengkeramannya.


Sampai akhirnya, Aron berkeringat dingin. Ternyata suhu api Zefier masih bisa meningkat ke suhu yang lebih intens. Hal yang tak pernah dia ketahui dan baru saja ia sadari, ternyata Zefier bukan orang yang bisa disinggung. Dan sayang, kesadaran itu sudah terlambat.


Puncaknya, Arong mulai melepuh, menahan panas yang tak sanggup ditahan dengan energi miliknya. Zefier pun sudah bersiap melancarkan pukulan padanya.


"To, tolooong...! Tolong selamatkan aku!" Tanpa sadar Arong meronta-ronta, berteriak minta tolong. Tingkahnya terlihat seperti anak-anak.


"Kalian semua, cepat tolong aku...!" Perintah Arong pada anak buahnya.


Semuanya hendak bertindak. Tapi yang terjadi, mereka bahkan tak sanggup menahan panas api yang ada ditangan Zefier.


Creshhh...!


Ibarat kata pepatah, jarum jatuh kedengaran. Suasana seketika sunyi. Tak ada yang berani berkata-kata. Pemandangan dihadapan mereka terlalu ngeri untuk disaksikan.


Kepalanya berada ditangan Zefier. Dengan suhu yang semakin meningkat, terlihat darah dan daging semakin mengering. Hanya menyisakan tengkorak yang juga mulai berubah menjadi abu, dampak dari panas api yang terlalu ekstrim.


Terlihat senyum kecil mengembang dibibir Zefier, hingga menampakkan beberapa gigi bagian samping.


"Hehe...!" tawanya singkat. Meski sekilas, anak buah Arong cukup sadar arti tawa kecil itu. Tandanya, Zefier masih belum puas.


Benar saja. Dalam hitungan detik, tak seorangpun menyadari semua kepala bawahan Arong sudah terlepas dari tempatnya. Hingga kepala itu berjatuhan, barulah orang-orang menunjukkan wajah kengerian.


"O, orang ini sudah gila.... Cepat tinggalkan dia!" Semuanya berlarian mencari perlindungan. Ada yang sempat berpikir untuk melompat dari ketinggian perahu, akhirnya mengurungkan niat, karena sama saja dengan bunuh diri. Ujung-ujungnya, mereka hanya pergi ketempat yang tak dapat dilihat oleh Zefier.


Tak berhenti sampai disitu, Zefier berjalan kearah Dan Dzik yang terpana dan terpaku melihat tragedi didepan matanya. Ingin rasanya dia lari, tapi lututnya sudah kepalang lemas.


Dengan ekspresi yang sama, Zefier berhenti dihadapan Dan Dzik. Mengangkat sebelah tangannya dan, "Fyuhhh...! Akhirnya lega...." Ucapnya sambil menghela nafas, tersenyum dan menggaruk kepala.


Hampir saja jantung Dan Dzik lepas. Dia sampai mengira bahwa ajalnya sudah tiba.


"Lalu, kenapa wajahmu seperti itu? Apa aku terlihat menakutkan?" Tanya Zefier pada Dan Dzik.

__ADS_1


["Tentu saja, tuan.... Siapa juga yang sanggup melihat anda yang dipenuhi lumuran darah."] Sela System.


["Be, benarkah...?! Sepertinya aku sudah berlebihan"]


["Bukan berlebihan lagi, tapi terlalu..."]


["Haha, hahaha..."] Zefier pura-pura tertawa, menanggapi system.


Jika bukan karena takut, ingin rasanya Dan Dzik mengatakan, iya. "Ah.... Ti, tidak! Aku hanya terkejut." Jawabnya.


"Syukurlah kalau begitu.... Sepertinya, kau sudah terbiasa dengan hal ini. Jujur, Ini pertama kalinya bagiku." Ungkap Zefier.


Dan Dzik tersenyum dengan artian lain. "Pe, pertama kalinya...? Tidak mungkin! Bagai mana hal sekejam ini bisa dilakukan oleh pemula." Batinnya tak percaya.


"Hahhhh...." Sekali lagi Zefier menghela nafas. "Aku sudah tidak nyaman di perahu ini, bagaimana kalau kita duluan saja."


Pernyataan Zefier menimbulkan tanda tanya. "Apa maksudnya duluan...? Kemana? Bagaimana caranya?"


"Kau tak perlu banyak tanya, nanti juga akan tau sendiri. Jika ada barang bawaan yang masih tertinggal, segera bawa kemari."


Setelah berkata begitu, Zefier berbalik badan. Dia berjalan menghadap Doga dan Aregon. Keduanya terduduk dengan kondisi celana yang dibasahi oleh air. Entah air apa, tak ada yang tahu.


Saat mendapati Zefier berjalan kearahnya, mereka semakin menggigil, jumlah kubikasi air meningkat drastis hingga lebih tampak seperti kubangan.


"To, tolong...! Tolong Ampuni kami. Ini hanya kesalahpahaman." Doga memohon sambil membanting jidat berkali-kali.


Zefier menatap mereka, tatapan itu sekali lagi menambah jumlah genangan air dibawah tempat mereka duduk.


"Beruntung kau memiliki hubungan baik dengan dia. Jika tidak, kau mungkin akan sama seperti mereka." Zefier menunjuk kearah gelimangan mayat tanpa kepala.


"Ke depan, cobalah untuk lebih bijak saat menghadapi masalah. Aku yakin, ada banyak orang yang terkadang tak dapat menahan emosi seperti diriku. Jika itu terjadi, hanya penyesalan yang akan kalian terima nantinya." Zefier sedikit memberi nasihat lalu pergi meninggalkan mereka.


"Te, terimakasih, anak muda. Aku berjanji, aku akan mengubah diri." Ucap Doga masih dalam posisi bersujud.


"Oh, ya, satu lagi... Kalian boleh menceritakan semua yang ada disini, tapi jangan menceritakan tentangku, apalagi sampai mencari tau."


"Te, tentu...! Kami tidak akan mengatakan apapun..." Jawab Doga


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2