
Tap...! Zefier dan Dan Dzik akhirnya menginjak anak tangga terakhir. Lama mereka menyaksikan pemandangan, menyajikan hiruk pikuk simpang perdagangan yang dipenuhi keramaian umat manusia.
Tak jauh dari area yang mirip pasar itu, terlihat bandar penerbangan. Perahu terbang raksasa terparkir rapi, berjejer mengikuti kelasnya. Ekonomi, VIP, bahkan super VIP, semuanya bisa dinaiki asalkan ada uang.
Yang lebih menakjubkan, barisan pasukan keamanan terlihat aktif mengintari setiap sudut perkotaan. Tampaknya, keamanan disini cukup terjamin.
"Menakjubkan...!" Ucap Zefier.
"Benar, meskipun aku sudah pernah kesini, tapi aku lebih menikmati yang sekarang." Dan Dzik ikut mengakui.
Selang menikmati tempat baru itu, sebuah kapal dengan ukuran sedang, tampak ingin menepi dan parkir. Seseorang di atas perahu memberikan kode kepada juru parkir dibawah.
Juru parkir membalas dengan isyarat, lalu menunjuk ke sebuah formasi aktif, menandakan perahu terbang itu bisa mendarat disana.
Mereka yang menyaksikan kedatangan perahu itu, sontak berbondong-bondong mendekat. Dekorasi luar dengan lambang naga yang diukir dengan sangat detail serta pewarnaan yang sangat eksotik dan rapi, membuatnya terlihat begitu indah.
"Cantik sekali...! Siapa pemilik perahu terbang itu, tampaknya itu tidak digunakan sebagai transportasi umum." Semua yang menyaksikan, tak sadar memuji keelokan perahu terbang tersebut.
Seorang pemuda terlihat berdiri di tepi perahu. Dia melompat saat perahu masih dalam memposisikan tempat. Pengawal yang ada dibelakangnya sampai terkejut menyaksikan hal itu.
"Tuan muda, apa yang anda lakukan!" Teriak pengawal itu, terkejut.
Tapi sudah terlambat, orang yang dimaksud sudah mendarat di tanah. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Hanya debu yang berterbangan akibat hentakan kaki yang menopang tubuh. "Hanya segini, anak kecil pun dapat melakukannya." Ucap pemuda itu pelan.
Tak lama kemudian, pengawal yang baru turun dari perahu terbang, segera mengejar pemuda tersebut.
"Tu, tuan muda Falmes...! Mengapa anda begitu ceroboh? Kami akan tamat jika sampai terjadi apa-apa kepada anda." Pengawal tampak gugup dan khawatir.
"Kalian terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin aku selemah itu... Atau kalian sudah merasa lebih kuat dariku?!" Falmes merasa diremehkan. Seketika, aura memancar dari tubuhnya dan mengintimidasi para pengawalnya.
Menyaksikan hal itu, semua orang sampai terkejut. "Pe, peringkat api besar...?!" Gumam mereka.
"Ah, ma, maafkan kami, kami hanya menjalankan perintah." Jawab pengawal.
"Perintah? Aku lebih terlihat seperti binatang ternak yang diawasi kemana-mana."
__ADS_1
"Bu, bukan itu maksud kami, tuan. Takutnya, ada orang yang berniat buruk pada anda."
"Huh...! Jika ada orang sekuat itu disini, mana mungkin pihak akademi mengundangku." Ucap Falmes ketus. Bukan bermaksud sombong, namun perkataannya ada benarnya juga.
Tak jauh dari tempat Falmes dan para pengawalnya berada, terlihat sebuah rombongan orang datang kearah mereka. Perhatian semua orang jadi teralihkan kepada rombongan tersebut.
"Bukankah itu seragam akademi Xolfrods? Dan orang tua itu, bukankah dia dekan.... Apa yang mereka perbuat disini." Ucap semua orang. Mereka tidak tahu, rombongan itu sebenarnya untuk menyambut kedatangan Falmes.
"Hahaha..." Seorang pria tua, tertawa gembira. Dia adalah salah satu wakil dekan yang sengaja datang untuk menyambut Falmes. "Benar-benar putra Gallax. Tak disangka, kemampuanmu sudah jauh meningkat saat terakhir kali bertemu." Ucap wakil dekan itu.
"Pa, paman...! Paman Ares, itu kau?" Falmes terkejut, melihat siapa yang datang. Dia segera mendekat lalu memeluknya.
Semua murid akademi Xolfrods sontak membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang mereka dengar dan lihat. "Paman...? Wakil dekan Arez adalah paman pemuda ini?" Gumam mereka tak percaya.
"Paman pikir, kau sudah lupa dengan wajah tua ini. Sepertinya kau tambah dewasa." Wakil dekan Arez membalas pelukan Falmes. Wajahnya terlihat gembira.
"Bagaimana mungkin aku lupa. Setiap kali pulang, paman yang selalu melatihku." Ungkap Falmes dengan raut tak kalah gembira.
Ditengah pelukan hangat itu, seorang pemuda yang sebaya dengan Falmes, datang menghampiri. Pemuda itu adalah Zefier. "Hei, kau... Aku tertarik padamu. Maukah kau menjadi pengikut-ku?" Ucapnya. Membuat semua murid akademi Xolfrods termasuk wakil dekan Arez dan Falmes terkejut.
Wakil dekan Arez bukan terkejut karena pernyataan Zefier, melainkan karena tak menyadari kedatangannya.
Di wilayah akademi Xolfrods, hal semacam ini sudah sering terjadi. Saat merasa tertarik dengan orang kuat, mereka tak segan-segan mengatakan sesuatu seperti yang Zefier ucapkan.
"Maaf saja, aku tak tertarik terhadap sesama lelaki." Balas Falmes sambil melepaskan pelukannya dari dekan Arez.
"Bukan itu maksudku. Aku ingin menjadikanmu sebagai bawahanku. Sebagai gantinya, aku akan memberikan apapun yang kau mau." Zefier tidak basa-basi.
Mendengar itu, Falmes agak merasa tersinggung. Seumur hidup, ini pertama kalinya dia dimintai hal yang mencoreng wajahnya.
"Menjadikan kau sebagai budak pun aku tak tertarik, apalagi sebaliknya." Ujar Falmes, menolak.
Situasi menjadi canggung. Ini bukan karena Zefier ditolak, tapi karena dia selalu tak bisa memulai pembicaraan yang pantas. Sembarang merekrut dengan kalimat seadanya.
Sementara itu, mata Falmes tertuju pada seseorang yang dari tadi melambai-lambaikan tangan, seakan memberikan isyarat padanya dan membuatnya menjadi bingung. Orang itu adalah Dan Dzik yang berusaha meyakinkan Falmes agar mau mengikuti Zefier.
__ADS_1
"Hmmm... Siapa pemuda itu, apakah dia temannya orang ini?" Gumam Falmes.
"Ada apa, Falmes?" Dekan Arez bertanya, menyadari gelagat aneh Falmes.
"Ah, tidak ada, paman." Jawab Falmes singkat.
"Kalau begitu, ayo kita kembali." Ajak wakil dekan Arez. "Kedepannya, mungkin akan lebih banyak lagi hal seperti ini terjadi." Lanjutnya.
"Baik, paman..."
Mereka lalu berbalik arah dan berniat kembali ke area utama akademi Xolfrods. Tapi...
"Tunggu...!" Zefier menahan mereka.
Rombongan itu tak jadi pulang.
"Anak muda, kau hanya orang biasa. Jagan salahkan aku sampai melakukan sedikit kekerasan." Wakil dekan Arez mulai tak sabar.
"Bukan itu maksudku..." Zefier lalu memanggil dan Dzik. Dan Dzik segera mendekat.
"Apa kau tak tertarik dengan orang ini...?" Ucap Zefier, tapi bukan kepada wakil dekan Arez, melainkan pada Falmes.
Tapi seiring kedatangan Dan Dzik,buat dekan Arez sedikit terkejut. Dia sejak awal merasakan ada sebuah kekuatan yang melebihi orang-orang disitu. Tak disangka, orang itu adalah orang yang Zefier panggil.
Mata dekan Arez berbinar. Dia seperti mendapat dua burung dalam satu jerat. Meski masih dibawah keponakannya, tapi dia masih sangat pantas disebut sebagai seorang jenius. Apalagi saat mendapati dia masih seusia Falmes.
"Anak muda, apa kau tertarik berlatih di akademi-ku? Kau sepertinya cukup berbakat. Aku berjanji akan membimbing mu menjadi orang kuat." Wakil dekan Arez langsung memotong perhatian Zefier.
"Tunggu dulu, pak tua... Mengapa kau malah menyerobot?" Zefier tak mau kalah. "Aku hanya ingin mengatakan, tidakkah kau tertarik melihat orang setingkat dia mau menjadi pengikut-ku?" Ucap Zefier, kembali bertanya pada Falmes.
Falmes bingung dengan pernyataan Zefier. Hingga saat ini, dia masih belum sadar dengan apa yang Zefier maksud.
"Gini-gini, dia sudah di ranah api sedang. Aku berjanji akan menjadikan kalian sangat kuat jika mau menjadi pengikut-ku." Tawar Zefier lagi.
"Anak muda... Sepertinya kau sangat hebat dalam hal membodohi orang lain. Sebaiknya, kau serahkan saja dia pada akademi kami. Aku akan memberimu bayaran setimpal." Wakil dekan Arez, balik menawar.
__ADS_1
Wakil dekan Arez memang tak mempertanyakan bagaimana mungkin orang berbakat seperti Dan Dzik bisa menjadi bawahan Zefier. Dia langsung yakin saat melihat Dan Dzik jinak begitu saja ketika Zefier memanggilnya.
Bersambung...