
Dalam lilitan benang api, Dan Dzik terus memperhatikan Zefier. Ia sedang memikirkan, apa kiranya yang Zefier lalui hingga membuatnya begitu kuat. Seumur hidup, dia tidak pernah menyaksikan orang yang lebih kuat daripadanya.
Dalam kecepatan tinggi, Zefier tiba-tiba berhenti. Raut wajahnya seakan menunjukkan kejanggalan.
"Ada apa...?" Dan Dzik bertanya, seakan menyadari keanehan pada Zefier.
"Sepertinya, ada yang kurang." Ucap Zefier sambil memegang dagu, layaknya orang yang sedang berpikir.
"Apa itu? Apakah ada yang tertinggal di perahu?"
"Aku pikir juga begitu...!"
"Bukankah sebaiknya kita kembali?"
"Sebentar...! Aku ingat-ingat dulu. Mungkin saja kita tak perlu kembali." Jawab Zefier. Sambil terus berusaha mengingat.
["Tuan, anda meninggalkan Leo..."] Ucap sistem, membantu ingatan Zefier.
"Aha, Itu dia...!" Zefier sedikit berteriak saat system menyadarkannya.
"Apakah sudah ingat?" Tanya Dan Dzik sedikit terkejut.
"Ya...! Ternyata, aku melupakan seseorang."
"Seseorang...? Teman?" Dan Dzik bertanya-tanya. "Kalau begitu, ayo kita kembali, takutnya dia akan panik." Lanjutnya.
"Tidak perlu...!" Jawab Zefier, singkat.
Seperti yang dia lakukan sebelumnya, namun hal ini lebih gila lagi. Zefier mengeluarkan benang api yang sangat panjang, benang api itu terus menjalar jauh seakan tidak ada habis-habisnya.
Membayangkan waktu perjalanan dan jarak yang ditempuh, takutnya dengan kecepatan terbang mereka kemungkinan besar perahu sudah tertinggal belasan kilo meter.
"Yang benar saja...! Mengeluarkan benang api saja merupakan hal yang diluar nalar. Jangan bilang dia akan menjemputnya dengan benang api ini. Terlalu gila...!" Batin Dan Dzik. Ingin rasanya dia terkejut sekali lagi, tapi sepertinya dia sudah kebal.
Benang api masih terus menjalar. Sementara itu, ekspresi Zefier terlihat biasa saja. Dalam kondisi ini, dia tidak terlihat seperti orang yang kehilangan atau kehabisan energi.
"Jangan bercanda...! Sebenarnya, sebanyak apa energi orang ini? Mengapa tak kunjung habis?" Batin Dan Dzik, lagi. Dia semakin tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ada apa...? Apa kau juga memiliki sesuatu yang tertinggal?" Tanya Zefier, menyadari tatapan Dan Dzik yang tak biasa.
"Ah, tidak...! Aku hanya penasaran, sebenarnya sejauh apa kultivasi-mu."
"Asal kau tak berniat kabur dariku, kau akan tau sendiri, nanti.
__ADS_1
"Hmmm, sepertinya kau suka membuat orang lain penasaran." Dan Dzik tersenyum tipis.
"Mungkin..." Ucap Zefier singkat.
Setelah beberapa menit menunggu, samar-samar terdengar sebuah teriakan layaknya seseorang yang jatuh dari tebing atau jurang.
"Huaaaa...!" Teriakan itu semakin jelas. Ya, itu adalah suara Leo yang jantungan kerena ditarik benang aneh dengan sangat cepat.
Setelah sampai, tarikan benang itu berhenti. Leo akhirnya bisa menarik nafas lega.
"Sialaaan...! Siapa yang berani melakukan ini padaku." Leo berteriak kesal dengan nafas tersengal. Dia masih tak menyadari keberadaan Zefier dan Dan Dzik.
"Yo! Akhirnya kau tiba. Maaf, aku hampir melupakanmu." Perkataan Zefier membuat Leo terkejut.
"I, itu kau...?!" Sebenarnya Leo terkejut. Dia hanya mencoba bersikap biasa.
"Apa kau sudah lupa...?"
"Brengsek...! Tidak bisakah kau melakukannya lebih lembut?" Umpat Leo.
"Ah, maaf...! Aku akan melakukannya lain kali." Ucap Zefier. "Aku akan melanjutkan perjalanan, mohon diam agar tidak mengganggu fokus-ku. Atau kita akan terjatuh." Lanjutnya.
Setelah itu, Zefier melanjutkan perjalanan. Tampa memberi aba-aba, dia terbang seperti melakukan hentakan. Hal itu hampir membuat Leo kembali berteriak, namun segera menahannya karena malu.
Dan Dzik seolah sadar, Leo tidak menyadari bahwa benang api itu milik Zefier. Itu artinya Zefier sendiri yang mencari keberadaan Leo.
"Apakah kekuatan seperti ini, nyata? Dia bisa dengan jelas merasakan keberadaan seseorang dari jarak sejauh ini?" Batin Dan Dzik, tak habis pikir.
.........
Di akademi Xolfrods.
Arah selatan, lima kilo meter dari area pusat akademi Xolfrods, tepatnya di sebuah pulau di tengah danau Matia. Pulau itu dinamakan pulau taring.
Dinamakan pulau taring, karena bentuknya memang seperti itu. Hutan lebat serta beberapa bukit menjadikan pulau ini cocok untuk mencari pengalaman. Ditambah lagi jalanan terjal, jurang dan beberapa kondisi tertentu menjadikannya cukup menantang.
Area yang masih menjadi kawasan akademi Xolfrods ini, beberapa hari lalu mengadakan sebuah ujian bagi para murid akademi tersebut.
Ratusan murid di bagi menjadi beberapa kelompok. Dikarenakan kawasannya cukup berbahaya, maka terlalu riskan jika membiarkan mereka sendiri-sendiri.
Ujian ini diadakan hanya untuk meningkatkan semangat latihan para murid, namun tetap dengan beberapa kriteria penilaian. Jika syarat terpenuhi, mereka akan mendapat tambahan sumberdaya dalam batas waktu tertentu.
"Cepat, bentuk formasi...! Jangan gegabah, mungkin ini adalah masa terberat kita selama beberapa hari terakhir."
__ADS_1
Tiga ekor macan putih, tampak berhadapan dengan sekelompok murid. Selama ini mereka hanya bertemu binatang buas yang menyendiri. Tapi saat ini, susah dikatakan apakah mereka sedang buntung atau untung.
Menurut peraturan ujian, para murid hanya diperbolehkan mengambil kuku binatang yang mereka lawan untuk dijadikan bukti. Mereka tidak diperkenankan menyakiti secara berlebihan, apalagi sampai membunuh.
Keberadaan binatang buas itu sendiri, memang sengaja di budidayakan lalu dilepas disana hanya untuk tujuan ujian seperti ini.
Ya, tiga ekor macan putih. Dalam segi penilaian, binatang ini memang menjadi buruan terfavorit, karena dapat menghasilkan poin besar. Tapi secara logika, semakin besar poin yang didapat dari binatang buruan, artinya semakin berbahaya binatang tersebut.
Tiga ekor, mungkin para murid itu sedang sial. Bagaimanapun, untuk menaklukkan satu ekor saja, mereka harus melakukan usaha ekstra. Apalagi membunuh merupakan hal yang dilarang. Tentunya dalam kondisi seperti ini mereka merasa dilema...
Angin di hutan mendadak berhenti bertiup. Suara alam yang bising, mendadak sunyi. Binatang kecil seakan lenyap mencari perlindungan. Atau mungkin, itu hanya perasaan belaka karena terlalu fokus menghadapi situasi didepan mereka.
"Semuanya, situasi saat ini, meski kita mengerahkan kekuatan maksimal, belum tentu kita selamat." Ucap salah seorang dari mereka.
"Ya, kita harus berhati-hati. Kelengahan adalah musuh utama."
Tegang, was-was, takut dan cemas, setidaknya, itu yang mereka rasakan saat ini. Bahkan untuk bernafas, mereka harus memilih waktu yang tepat.
Situasi saat ini, seperti sedang menunggu sebuah pemicu. Jika ada gerakan sedikit, takutnya pertempuran akan dimulai.
Walaupun rata-rata binatang buas di pulau taring hanya memiliki ranah dasar, tapi yang namanya binatang buas tetap tidak bisa diremehkan. Selain insting buas, tentunya mereka menjalani hidup keras.
Apalagi setelah mereka telah memasuki tahap dasar, tentu kekuatannya akan bertambah berkali lipat.
"Hei, ternyata kalian disana...!" Terdengar seseorang berteriak kearah sekelompok murid tersebut. Sepertinya, dia orang yang terpisah dari rombongan.
Karena terlalu tegang dan fokus, mereka sampai terkejut saat temannya itu menyapa.
Deg...! Sontak getaran tubuh mereka menjadi aba-aba. Tiga ekor macan putih, langsung maju menerjang.
Meski terlambat, untungnya mereka sudah bersiap dengan situasi tak terduga. Serangan cepat itu tak membuat mereka lupa untuk menyalurkan energi ke beberapa bagian tubuh yang membutuhkan pertahanan dan kekuatan.
Tapi tetap saja, mereka hanya murid yang berada di ranah api kecil. Meski setingkat lebih tinggi dari binatang buas, kekuatan dan pengalaman mereka masih belum cukup untuk menandingi ketiga macan putih tersebut.
Trang, tring...! sesekali terdengar suara dering benturan antara kuku macan dan pedang sekelompok murid tersebut.
"Hei, apa yang kau lakukan, cepat bantu kami...!" Teriak seseorang pada temannya yang baru datang tadi.
Teriakan itu segara membuyarkan benak temannya itu yang berusaha memahami kejadian tak terduga tersebut.
Sementara itu, disisi lain. Terlihat seseorang sedang memantau situasi para murid dari pohon besar dan tinggi.
Orang itu terlihat sedang menunggu sebuah momen. Mungkin dia salah satu guru yang bertugas menjamin keselamatan peserta ujian tersebut.
__ADS_1
Bersambung....