System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Aku adalah pemilik perguruan ini...


__ADS_3

Leo yang bergerak cepat di atas arena, membuat semua orang terpukau dengan aksinya. Murid yang menantang bahkan telah memprovokasinya, kini mungkin akan menjadi ajang bulan-bulanan.


"Bagaimana...? Apa kau sudah siap?" Tanya Leo.


"Ka, kau hanya berlari sana-sini saja. Apa yang perlu ditakutkan?" Murid tersebut berbicara dengan gugup. Dia sebenarnya ingin menyerah, tapi menyerah tanpa perlawanan, semua itu terlalu melukai harga dirinya dan juga harga diri perguruannya.


"Sepertinya, bukan aku yang menguji iman mu, melainkan kau yang menguji kesabaran ku. Kalau begitu rasakan ini...!"


Leo kemudian memusatkan kekuatan api ditangan kanannya, semakin lama api itu semakin besar dan panas. Bahkan semua yang menonton sudah merasakan perubahan suhu di area tersebut, terutama murid yang menjadi lawannya.


"Hiaaat...!" Leo bergerak dengan cepat bergerak kearah murid tersebut dengan melancarkan serangan mematikan.


Melihat aksi yang sangat beresiko itu, tuan Kasra berniat untuk naik keatas panggung dan menyelamatkan muridnya. Namun tindakannya itu segera dihadang oleh Galga.


"Hei, Kasra.... Jangan ikut campur urusan panggung. Bukankah ada wasit yang menjadi juri? Murid mu saja belum menyerah, nikmati saja dulu."


Mendengar kalimat Galga, tuan Kasra terhenti. Dia yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk. "Hei, kau...! Menyerah saja. Jangan bahayakan dirimu." Teriak tuan Kasra.


Akan tetapi hal itu sudah terlambat. Leo benar-benar sudah berada dihadapan muridnya. Dalam hitungan detik, tangan yang diselimuti api dengan hawa panas itu, langsung menghantam murid tersebut tanpa ampun.


Boom...!


Sebuah ledakan terjadi. Meski sedikit terlambat karena takut, namun murid tersebut berhasil membuat pertahanan api. Tapi hal itu tidak mengubah fakta bahwa murid itu tetap mendapatkan dampak yang sangat besar.


Alhasil, murid tersebut terlempar dengan tubuh terbakar. Hanya dengan satu pukulan, murid itu sudah tak mampu lagi meneruskan pertarungan.


Wasit memberikan isyarat kemenangan bagi Leo.


"Huh.... Hanya segini saja, bahkan melayani kalian sekaligus, bukan masalah bagiku." Tantang Leo, sombong.


Perkataan Leo benar-benar merendahkan perguruan tuan Kasra. Tapi faktanya, setelah melihat kekuatan Leo bahkan tak satupun dari muridnya yang menunjukkan wajah semangat bertarung seperti diawal.


Melihat hal itu, tuan Kasra semakin khawatir. Dia juga tahu bahwa diantara murid-muridnya ini, memang tidak ada yang mampu menghadapi Leo. Itu karena perguruan mereka baru berdiri sekitar 2 tahun lalu. Dengan waktu sesingkat itu, tentu mereka belum memiliki praktisi yang lebih kuat.


Tuan Kasra memang sudah menimbang kemungkinan yang akan terjadi di sepanjang pertandingan, namun tidak menduga akan mendapat lawan yang tak mampu dihadapi satupun dari murid-muridnya.


"Kasra.... Tidakkah kau dengar, putraku tidak masalah jika melawan murid mu sekaligus." Sindir Galga, membuyarkan tuan Kasra yang kebingungan.

__ADS_1


Jika tidak punya malu, dia mungkin akan melakukan perkataan Galga. Meskipun begitu, tetap saja murid-muridnya tidak akan mampu melawan Leo dikarenakan perbedaan ranah.


Berbeda satu ranah saja sudah membuat keunggulan jauh. Tapi mereka memiliki perbedaan hingga dua tingkat. Sebanyak apapun mereka, tidak akan ada perubahan yang berarti.


Ditengah kebingungan itu, Zefier berdiri. Berjalan dengan santai menuju panggung arena.


Semua orang yang ada disitu menjadi heran dan bingung. Sebab tidak ada yang mengenali Zefier sebagai salah satu dari mereka. Apa lagi mereka memandang Zefier sebagai seorang berandal yang tidak mengenal dunia.


Pakaian yang dikenakan Zefier terlihat compang camping. Wajar orang-orang menilainya begitu, karena dia tidak pernah mengganti pakaian selama tiga tahun berlatih didalam hutan.


"Hei, kau siapa...?" Tanya seorang murid yang kebetulan Zefier lewat disampingnya.


Namun Zefier tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia terus berjalan keatas panggung hingga berhadap-hadapan dengan Leo.


Wasit yang seharusnya memberi aba-aba agar pertarungan segera dimulai, tapi tak kunjung memberikan aba-aba. Karena dia wasit tersebut merupakan bagian dari salah satu murid tuan Kasra, dia menunggu apakah tuan Kasra menyetujui orang yang tak dikenal tersebut.


"Apa yang kau lakukan...!.Disini bukan tempat orang gila bermain. Kau jangan menambah malu wajah perguruan kami." Teriak murid lain, mengingatkan Zefier.


Sekali lagi, Zefier tak menanggapi perkataan mereka. Dia tetap diam sambil menunggu aba-aba wasit.


Tuan Kasra yang sedang menunduk karena berfikir, tak menyadari keikutsertaan Zefier yang sudah berada di arena.


"Apa? Siapa dia...?" Tuan Kasra balik bertanya.


"Tidak tahu tuan.... Para murid juga tidak ada yang mengenalnya. Sepertinya dia orang gila yang tak sengaja menyasar dan ikut-ikutan."


"Kalau begitu, biarkan saja dia. Setidaknya dia akan memberikan aku waktu untuk berpikir sejenak."


"Baiklah, tuan...." Ucap bawahan Kasra, lalu memberikan isyarat pada wasit bahwa taun Kasra telah menyetujuinya.


Setelah mendapat isyarat, wasit langsung memberikan aba-aba agar pertandingan dimulai.


Namun sebelum itu, Leo protes.


"Hei, apa-apaan ini...? Bukannya menghadirkan orang yang lebih kuat, kalian bahkan menumbalkan orang gila. Sepertinya perguruan ini memang berisikan orang-orang lemah." Terlihat raut kecewa di wajah Leo.


Selaku bagian dari salah satu murid disitu, wasit merasa tidak senang mendengar ejekan Leo. Tapi apa boleh buat, dia hanya menjalankan perintah.

__ADS_1


"Hei, kau... Apa kau masih waras...? Apa kau tidak sadar sedang dijadikan kambing hitam oleh orang-orang ini?" Tanya Leo pada Zefier.


"Memangnya, seperti apa aku terlihat?"


"Hmmm... Melihat tanggapan mu, sepertinya kau memang masih waras. Aku hanya mengingatkan sekali saja, sebaiknya kau turun dari arena ini atau kau akan terluka."


"Aku tidak bisa."


"Apa maksudmu...?"


"Sudah aku katakan, aku adalah pemilik sah perguruan ini. Aku tak mau perguruan ini sampai jatuh ke tangan orang tak tahu diri seperti kalian." Jawab Zefier.


"Hahaha...." Leo tertawa. "Sepertinya aku harus menarik kembali kata-kataku tadi. Pemilik...? Jelas hanya orang gila yang bisa berkata begitu." Ucap Leo.


Para murid juga setuju dengan perkataan Leo. Mereka semakin yakin bahwa Zefier adalah orang gila. Jika tidak, bagai mana mungkin dia berani mengakui sesuatu yang mustahil untuk diakui.


Namun Leo tiba-tiba teringat sesuatu...


"Tunggu dulu...! Sepertinya aku tadi melihatmu di gerbang. Jangan-jangan kau orang yang menghentikan pukulan paman Alfert."


"Jika maksudmu adalah orang lemah yang hanya ranah api sedang itu, maka itu aku." Jawab Zefier.


Leo terkejut. "Lemah...? Ternyata bicara besar juga. Jika itu memang kau, maka beda cerita. Aku malah menjadi semangat ingin bertarung denganmu."


"Kau tau mengapa...? Kau mungkin orang pertama yang membuat ayahku waspada." Sambung Leo.


"Aku tidak tertarik dengan pendapatmu. Sebaiknya kau panggil semua orang-orang disana agar permasalahan ini cepat selesai."


"Ho? Ternyata kau orang yang tidak sabaran. Terutama, hadapi dulu aku. Jika kau membuktikan kemampuanmu, mungkin ayahku akan memikirkan permintaanmu yang konyol itu."


"Jika syaratnya adalah mengalahkan mu, mengapa tidak langsung dimulai saja. Aku malas berlama-lama." Ucap Zefier.


Meski kesal dengan perkataan Zefier, Leo juga sudah tidak sabar untuk bertarung dengannya. Dia juga meminta wasit agar pertandingan itu segera dimulai.


"Pertarungan, mulai...!" Teriak wasit.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2