System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Perisai Api Tetua Braham...


__ADS_3

Takjub!


Ya, tetua Braham merasa takjub sendiri melihat perisai api yang baru pertama kali dia gunakan. Sejak meninggalkan kantor pusat duta keuangan, Zefier mengajarinya cara menggunakan perisai tersebut.


Sebagai pemula, bohong jika tetua Braham tak mengalami kesulitan. Namun, berkat ketekunan dan kegigihannya, dia akhirnya mampu melakukan dalam dua hari meski hanya versi terlemahnya saja.


"Hahaha!" Tetua Braham tertawa lepas, bangga akan kemampuannya itu. "Tak disangka, aku bahkan langsung menggunakan kemampuan ini" Lanjutnya.


Tapi, sebenarnya itu bukan kemampuan dalam waktu sesingkat itu. Sebenarnya, sudah sejak awal dia mempersiapkan energi untuk membuat perisai api. Lagian, siapa juga yang tidak menyadari aura membunuh yang menyebar dari tubuh wakil Arez. Dia hanya pura-pura tidak sadar saja. Dan sesuai harapannya, demi menguji coba kemampuan barunya itu, dia rela menerima serangan mematikan wakil Arez. Dan hasilnya, dia terdorong beberapa meter.


Syuuut...! Perisai api tetua Braham mulai menipis, lalu menghilang Tampa bekas. "Benar saja, ternyata hanya bertahan sebentar. Aku akan meningkatkan levelnya, sesuai arahan tuan muda Zefier." Gumam tetua Braham, sambil memegang janggutnya yang pendek.


Disisi lain, wakil dekan Razen terlihat semakin ketakutan, keringatnya mulai bercucuran di sekitar wajah, badan dan seluruh sendinya tak kunjung berhenti bergetar.


"Wakil Arez, bisakah kita selamat jika kita bekerja sama?" Wajah pucat wakil Razen tampak semakin memutih.


"Tenang saja, wakil dekan serta guru-guru lain sudah mendengar kabar ini. Mereka akan tiba sebentar lagi!" Wakil Arez terlihat percaya diri.


"Itu yang ingin kutanyakan.... Jika semua guru di akademi ini bersatu, apakah kita dapat mengalahkan orang dengan ranah neraka itu?!"


"Dia hanya sendiri! Seperti yang kau lihat, meski dia kuat, tapi dia tidak terlalu berpengalaman. Aku bahkan dapat memberi pukulan Tampa dia sadari."


"Benarkah...?!" Ucap wakil Razen, tampak ragu. Namun wakil Arez hanya menjawab melalui tatapan yang meyakinkan.


Benar saja, tak lama setelah itu, terlihat puluhan guru akademi Xolfrods datang beriringan. Dan salah satu diantara mereka adalah dekan Eldrick atau pimpinan akademi tersebut.


Saat semua guru tiba disana, tiba-tiba terjadi hal yang terpikirkan oleh semua orang....


"Mohon maaf, saya terlambat menyambut Anda, senior....!" Tampak dekan Eldrick merendah dihadapan tetua Braham. "Apa kiranya yang membuat orang dari duta keuangan mendatangi akademi kami?" Lanjut dekan Eldrick. Semua yang menyaksikan, sontak terkejut sekaligus tak percaya melihat kenyataan itu.


"Oh?! Tampaknya, kau pemimpin ditempat ini!" Tebak tetua Braham.


"Benar, senior. Perkenalkan, aku adalah Eldrick. Dekan akademi Xolfrods."


"Hemmm.... Kau benar-benar menunjukkan sifat seorang pemimpin. Kau cukup sopan dan teliti. Tidak seperti beberapa orang disana."

__ADS_1


Mendengar pernyataan tetua Braham, dekan Eldrick langsung sadar maksud dari ucapannya.


"Junior ini mohon dengan sangat.... Tolong maafkan sikap lancang dan ketidak Tahuan mereka! Senior bisa menghukum ku sebagai gantinya." Dekan Eldrick bersujud, membuktikan bahwa permintaannya tulus dari hati.


"Hahaha...." Suara tawa tetua Braham menggema memasuki telinga setiap orang. "Kau sangat tulus, juga sangat berpengetahuan. Tenang saja, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini. Tapi ada dua permintaan yang harus kalian penuhi...." Tetua Braham terdiam sesaat.


"Permintaan apa yang anda maksud, senior?"


"Satu.... Patahkan kaki dan tangan anak itu!" Ucap tetua Braham, menunjuk kearah Megion. "Dua.... Tuan mudaku sedang mencari seseorang di akademi ini...." Saat tetua Braham baru menyampaikan sepenggal kalimat kedua, benang api yang sebelumnya menarik Livy tiba-tiba kembali muncul. Benang api itu dengan cepat melilit tubuh pemuda yang sedang bersama Megion, keponakan wakil dekan Arez, alias Falmes.


Wakil Razen yang mendengar syarat tetua Braham serta wakil Arez yang melihat Falmes diambil dihadapannya begitu saja, mereka berdua reflek melakukan tindakan pembelaan.


"Orang tu.... Senior! Apakah tidak ada cara lain? Kami siap membayar berapapun yang senior inginkan!" Ucap wakil Razen, memohon.


"Apa yang akan anda lakukan terhadap keponakanku.... Kumohon, tolong kembalikan dia! Aku juga akan memberikan berapapun yang kalian mau!" Wakil Arez terlihat memelas.


"Berbicara uang, apa kalian tak memperhatikan lambang itu...?" Tetua Braham menunjuk ke lambang yang ada di badan perahu. Lambang sebesar itu, tak mungkin tidak terlihat meski tampa menggunakan alat bantu.


"I- Ini...!" Wakil Arez, terkejut. Dia kembali teringat akan perahu terbang raksasa yang melintas tepat di atas mereka satu Minggu yang lalu. Membayangkan hari itu, dia bahkan tak mampu menggerakkan badannya sedikitpun.


"Tapi...!" Meski sudah mengetahui siapa tetua Braham, namun wakil Razen dan wakil Arez masih bersikeras untuk protes. Tapi sebelum mereka berbicara, tiba-tiba tetua Braham mengeluarkan energi nya yang secara khusus menekan mereka berdua.


Seperti dihimpit oleh beban yang sangat berat, tampak wakil Razen dan wakil Arez berusaha mati-matian menahan tekanan aura yang secara khusus mengintimidasi mereka.


"Argh...!" Pekik mereka bersamaan.


"Hanya kehancuran akademi ini yang bisa dijadikan kompensasi atas permintaan tuan muda. Jika ada yang keberatan, dengan senang hati aku akan meratakan tempat ini dengan tanah!" Ancam tetua Braham.


Mendengar ancaman yang begitu serius, dekan Eldrick kembali bersujud dan memohon. "Senior.... Tolong tenangkan diri anda! Aku sendiri yang akan memberi mereka pelajaran. Anggap saja tidak ada apapun yang terjadi hari ini."


Setelah berkata begitu, dekan Eldrick segera pergi menuju wakil Razen dan wakil Arez yang masih dalam keadaan tekanan aura tetua Braham.


BRUAK...!


Dekan Eldrick memegang kepala kedua wakilnya tersebut dan menghantamkannya ke lantai.

__ADS_1


"Kalian, meminta maaflah...!" Ujar dekan Eldrick.


"Se- Senior.... Tolong maafkan kami....!"


Mohon wakil Razen dan wakil Arez dengan nada yang dipaksakan.


Setelah mengucapkan permintaan maaf tersebut, aura energi yang menekan mereka berdua berangsur menipis dan menghilang.


"Huh! Seharusnya kalian melakukannya sejak awal!" Ucap tetua Braham, ketus.


Setelah beberapa saat, situasi berangsur tenang. Sejak kedatangan dekan Eldrick, seluruh murid bahkan guru-guru yang datang bersamanya seakan tak berani memperdengarkan hembusan nafas mereka. Semuanya seperti menegang dan menahan diri.


Untungnya dekan Eldrick mampu menciptakan titik terang, meski dengan tindakan yang memalukan. Tapi hal itu wajar, siapapun akan melakukan hal yang sama jika mereka benar-benar berada pada situasi yang gawat.


Hup...!


Ditengah-tengah keheningan itu, tetua Je kembali turun dari perahu terbang. Ditangannya terdapat tiga buah kantong dengan ukuran yang berbeda-beda.


Tampa berbicara sepatah katapun, tetua Je berjalan menuju Megion. Lalu menginjak empat persendian tangan dan kakinya.


KRAK...! Terdengar suara patah tulang yang membuat ngilu telinga.


"Argh...!" Megion yang sedang tak sadarkan diri, berteriak kesakitan. Melengking bagaikan binatang yang tersakiti. Semua yang melihat dan mendengarkan, nyaris membuat ekspresi yang berbeda-beda.


Setelah itu, tetua Je menghampiri Tetua Braham."Tetua Braham.... Ini adalah kompensasi yang tuan muda berikan. Anda yang mengetahui kepada siapa yang berhak mendapatkannya." Ucapnya.


Tetua Braham mengambil ketiga kantong itu, lalu mendatangi dekan Eldrick dan kedua wakilnya.


"Ini ada beberapa puluh ribu Zel besar serta beberapa batu energi sebagai kompensasi karena secara sepihak telah merugikan kalian!" Ucap tetua Braham sambil memberikan kantong paling besar pada dekan Eldrick.


Saat memberikan kantong yang jauh lebih kecil pada wakil Razen dan Arez, tetua Braham melemparkannya begitu saja. Tak sengaja membuat tali pengikatnya lepas.


Kricik, kricik...! Uang yang sepenuhnya terbuat dari emas tersebut, berhamburan. Setidaknya, ada dua ribu Zel besar yang diberikan pada wakil Arez, dan seribu Zel besar pada wakil Razen.


Semuanya langsung melotot. Belum lagi melihat batu energi yang hampir tak pernah mereka temui selama hidupnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2