
...........
Keesokan harinya....
Sesuai janji, Flyn akhirnya dipertemukan dengan Harold di ruangan pribadinya. Flyn menceritakan masalah yang Zefier alami sesuai perintah Zefier.
Mendengar cerita itu, Harold tampak terkejut. Dia mengenang masa lalunya saat masih menjadi bawahan ayah Zefier. Matanya berlahan berair saat menerima sebuah benda dari Flyn.
"Ayah, ada apa?!" Falmes yang baru datang, kebingungan melihat ayahnya yang berlutut di hadapan Flyn sambil menangis. Terlihat ayahnya sedang memegang sebuah plakat berbentuk bintang.
"... Apa yang terjadi pada ayahku. Apa yang kau lakukan!" Teriak Falmes pada Flyn. Walaupun Flyn telah menolong bahkan menyelamatkan nyawanya, Falmes tak merasa seperti orang yang berhutang Budi.
"Diam kau!" Bentak Harold tiba-tiba.
Falmes terkejut. Dia bermaksud peduli, namun malah mendapatkan amarah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Ayah...."
"Diam...!"
Melihat kemarahan ayahnya, Falmes tak kuasa untuk melanjutkan dan akhirnya terdiam seribu bahasa.
"Apakah benar apa yang kau ceritakan barusan...?" Tanya Harold dengan suara rendah, setelah merasa lebih tenang.
Flyn mengangguk. Sesuai pesan Zefier, dia hanya perlu menjawab menurut apa yang dia ketahui.
"Jika ketua Zavion dan seluruh orang-orangnya telah mati, lalu bagaiman dengan tuan muda Zefier, bagaimana kehidupannya dan dimana dia tinggal?!" Banyak yang ingin Harold tanyakan, tapi di lebih mengkhawatirkan Zefier, putra ketua Zavion.
Tentunya Harold mengenal Zefier saat berkunjung menemui ayahnya Zavion. Saat itu usia Zefier masih satu tahun, tepatnya setahun sebelum Falmes lahir. Walupun kedatangannya hanya sebagai pelepas rindu, tapi semua masih segar dalam ingatan. Apalagi tentang masa-masa jaya mereka dulu yang penuh dengan kenangan.
Menurut Harold, hubungan antara dia dan ketua Zavon haruslah tetap dirahasiakan. Itu adalah janji dan tekad yang mereka buat untuk menyelamatkan dunia ini dan mereka sendiri dari orang-orang dunia kelima.
Hanya saja, dia tak menyangka ternyata Zefier mengetahui identitas mereka. Apakah ketua Zavion yang memberitahunya atau tidak, dia juga tak ingin berkomentar.
"Untuk satu tujuan, master ingin mengumpulkan kekuatan. Aku tak bisa menceritakannya, untuk itu, aku meminta kau agar membiarkan pemuda ini ikut bersama master." Pinta Flyn, agar Harold mengizinkan Falmes.
Karena kalimat itu jelas ditujukan padanya, Falmes menjadi harap-harap cemas. Tadinya dia bermaksud memprovokasi ayahnya agar Flyn diusir paksa. Tapi faktanya, ayahnya malah terlihat tunduk dan bahkan memarahinya.
__ADS_1
"Jika memang itu keinginan tuan muda, aku tak keberatan menyerahkannya. Anggap saja ini sebagai bentuk pengabdian terakhirku kepada ketua Zavion. Aku tak mau dianggap sebagai bawahan yang tak tau diri. Apalagi, berkat dialah kami bisa hidup tenang hingga saat ini." Jelas Harold panjang lebar.
Mendengar itu, Falmes benar-benar terkejut. Sebagai anak semata wayang, dia tak menyangka ayahnya membiarkannya begitu saja. Padahal selama ini dia selalu menjadi anak berbakat dan kebanggaan.
"Ayah.... Kenapa kau menyetujuinya begitu saja?" Batin Falmes dalam diam. Masih tak berani untuk mengeluarkan suara.
"Tapi, dengan satu syarat...." Harold tampak mengajukan sesuatu.
"Katakan..."
"Aku ingin kau menunjukkan kekuatan aslimu.... Bukannya tidak rela, tapi jika kemampuanmu tidak memenuhi harapanku, tentunya aku tidak akan tenang. Setidaknya, sementara ini Falmes akan baik-baik saja sampai dia bisa menjadi orang kuat, kelak." Ucap Harold.
Flyn sebenarnya ingin menolak persyaratan tersebut. Namun, mengingat itu untuk urusan yang harus diselesaikan, akhirnya dia menyanggupi.
"Apa kau yakin...?! Takutnya, semua yang ada disini tidak akan baik-baik saja." Flyn coba mengingatkan. Dia tau, tak ada satupun orang di lingkup perguruan itu yang mampu menahan tekanan yang dihasilkannya nanti.
"Setidaknya, kau tahu batasan ku. Aku tak akan menuntut apapun jika memang terjadi apa-apa."
"Baik! Kalau begitu, bersiaplah...!"
BUZZZ!
Hanya beberapa detik saja, tapi aura yang Flyn keluarkan bagai bencana yang melanda perguruan bintang timur.
Tak seorangpun yang berada di lingkup perguruan mampu menahan tekanan aura dari energi itu. Hanya tinggal Harold sendiri yang masih sadarkan diri, itupun dengan kondisi yang memprihatinkan. Terlihat jelas, ekspresinya seakan sedang melihat dan berhadapan dengan malaikat kematian.
Berlahan matanya menatap Falmes yang sudah tak sadarkan diri di sebelahnya. Meskipun ranah mereka dalam tingkatan yang sama, akan tetapi pengalaman tetap menjadi penentu kemampuan seseorang.
"Ba- Bagaimana kau bisa sampai ketingkat ini?! Apa kau juga yang melatih tuan muda Zefier?" Harold bertanya dengan suara berat. Dia tak percaya dengan kekuatan yang hanya dimiliki orang-orang dari dunia asalnya dulu.
"Aku harap, ini sudah cukup menjadi bukti bahwa anakmu akan baik-baik saja." Ucap Flyn, tak menjawab pertanyaan Harold.
"Ah, ya... Tentu saja ini sudah lebih daripada cukup."
"Kalau begitu, aku akan membawanya sekarang juga."
".... Dan terakhir, master menitip pesan, jika satu waktu perguruan bintang timur ada kendala, jangan sungkan untuk memberitahukannya." Setelah menyampaikan pesan itu, Flyn langsung mengangkat tubuh Falmes yang terkulai.
__ADS_1
Harold hendak menahannya agar berangkat besok, namun Flyn tidak ingin menunda lebih lama dan membuat Zefier menunggu. Dan sebelum kepergiannya, dia meninggalkan dua kantong Zel besar, berbagai macam pil serta beberapa kotak bahan obat-obatan yang berkualitas tinggi.
"Ci- Cincin penyimpanan?!" Seru Harold, kaget saat melihat barang-barang keluar dari cincin yang ada di jari Flyn. Dia memang pernah memiliki cincin seperti penyimpanan sebelumnya, namun di dunia ini, dia bahkan tak pernah mendengar orang membicarakan tentang cincin itu.
"Ini hanya cidera mata dari Master. Semoga bisa sedikit membantu perekonomian kalian." Flyn tak menanggapi keterkejutan Harold dan meninggalkannya begitu saja.
"Terimakasih, tuan muda Zefier." Ucap Harold tanpa memeriksa isi dari pemberian tersebut.
...........
Kembali ke waktu tempat pelatihan Zefier....
Tiga orang pemuda akhirnya kembali dari pedalaman hutan. Tubuh mereka dipenuhi banyak luka, namun mereka tampak membawa banyak binatang hasil buruan.
"Bayar...! Kau jangan mengingkari janji!" La'o terus memaksa, tak rela atas kecurangan Moran.
"Itu hanya sebuah kebetulan, bagaimana bisa dihitung sebagai hasil?" Balas Moran.
"Tapi, tetap saja tebakanku benar!" ucap La'o tak terima.
"Neber datang bukan karena keinginannya, tapi karena dikejar oleh gerombolan serigala merah ini." Moran coba membuat pembelaan dan pembenaran.
Tampak belasan jasad serigala merah sedang diikat dan dirajut jadi satu. Entah sudah berapa kilo mereka menarik serigala merah yang masih teraliri darah segar tersebut.
Disebelahnya, tampak Neber sedang menjinjing seekor rusa badai. Saking senangnya dengan hasil tangkapan itu, siulannya bahkan tak pernah berhenti bahkan sejak mereka memutuskan kembali.
Ya, saat Moran dan La'o sibuk membuat taruhan, Neber tiba-tiba lewat dihadapan mereka sambil mengejar rusa badai. Namun ternyata Neber tak hanya berdua dengan rusa itu, melainkan sedang dikejar-kejar oleh rombongan serigala darah.
Karena mereka tak mampu berlari secepat Neber, akhirnya mereka memutuskan untuk bertarung melawan para serigala tersebut, dan Neber meninggalkan mereka begitu saja.
Pertarungan dengan serigala merah merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Jika melihat jenisnya, itu bukanlah serigala sembarangan. Nama itu disematkan karena di matanya selalu menyala api merah. Artinya, serigala itu sudah menguasai kemampuan api yang bahkan sudah memiliki inti energi.
"Pokoknya, aku tak terima kecurangan ini. Aku akan melaporkannya pada tuan muda Zefier." Macam La'o."
"Laporkan saja! Memangnya, tuan muda mau menanggapi orang seperti kau?" Ucap Moran, tak takut sama sekali.
Bersambung
__ADS_1