
Api putih merupakan api terpanas yang pernah dikenal manusia. Namun karena keberadaannya yang sangat langka, api terpanas saat ini adalah api biru. Meski keberadaan api biru juga tergolong langka, namun masih dapat dijumpai pada satu atau dua orang.
Semua orang terpana dan ternganga, menyaksikan api langka yang ada pada Dan Dzik. Pantas saja dia disebut sebagai seorang jenius, selain api langka terpanas, dia juga sudah mencapai ranah api sedang. Hanya dalam satu gebrakan lagi, mungkin dia akan beranjak ke ranah api besar.
"Apakah ini nyata...? Aku belum pernah melihat api langka tingkat empat ini."
"Ya, aku hanya pernah mendengarnya saja. Tak disangka aku bisa menyaksikannya secara langsung."
Laju perahu pada awalnya membuat hawa terasa dingin dan sejuk, tapi panasnya api biru, seakan mengubah cuaca secara drastis. Semua orang langsung menggunakan energi untuk menahan panasnya. Sedangkan yang tidak mampu bertahan, mereka pergi berlindung dibalik dinding perahu.
Tapi hal itu tetap pengecualian bagi zefier. Sepertinya dia tidak merasakan seperti yang dirasakan orang lain. Syaraf pada tubuhnya mungkin sudah tidak berfungsi.
"Tunggu dulu...!" Zefier menahan Dan Dzik yang sudah bersiap.
"Ada apa...? Apa kau berubah pikiran?" Dan Dzik balik bertanya.
"Bukan begitu... Kau belum menyetujui persyaratan aku tawarkan."
"Oh? Kau tampak terlalu percaya diri." Dan Dzik melihat keyakinan teguh Zefier.
"Tidak ada hubungannya dengan itu. Hanya saja, hidup ini terkadang membosankan jika tanpa taruhan."
"Hahaha, kau benar... Anggap saja aku setuju, apa yang aku terima jika kau kalah?" Dan Dzik mulai terbawa arus.
Zefier berpikir sejenak, dia memang harus memberikan sesuatu yang jauh lebih menarik.
"Hmmm... Bagai mana jika aku memberikan semua ini padamu." Sambil tersenyum, Zefier mengeluarkan sesuatu. Hal itu hampir membuat pikiran semua orang meledak.
"Ba, batu energi...?! Tidak, maksudku bagaimana dia punya batu langka sebanyak itu?"
Pikiran semua orang mendadak liar. Batu energi bukanlah hal yang mudah didapat seperti mencari emas di bawah gunung berapi.
Batu energi hanya bisa didapat dari binatang yang sudah mencapai usia serta kekuatan tertentu. Bahkan untuk menghadapi binatang buas yang sudah memiliki batu energi tentu tidak dapat dilakukan seorang diri dalam tingkatan yang sama.
Tapi Zefier memiliki jumlah batu energi yang cukup banyak. Memiliki satu saja sudah merupakan hal yang mustahil bagi seorang praktisi. Mengumpulkan sebanyak itu, takutnya hanya bisa didapat dari berburu ke pedalaman hutan.
__ADS_1
Disisi lain, Aregon membelalakkan mata melihat batu energi tersebut. Dia tak menduga ternyata Zefier memiliki batu energi yang banyak.
Batinnya cukup menggebu-gebu melihat jumlah tersebut. Bahkan batu itulah penyebab pertarungan hari ini terjadi. Namun cukup disayangkan, benda itu menjadi alat taruhan terhadap Dan Dzik yang tentu tidak akan jatuh ke tangannya jika Dan Dzik memenangkan taruhan...
"Da, darimana kau mendapatkan benda itu..." Dan Dzik tak kalah terkejut.
"Aku pikir kau akan langsung setuju. Ternyata..."
"Te, tentu saja aku setuju...!" Dan Dzik langsung memotong Zefier dengan semangat.
"Kalau begitu, Aku ingin kita melakukan kontrak api." Ucap Zefier.
"Ko, kontrak api?" Dan Dzik kembali terkejut. Hari ini entah sudah berapa kali dia dikejutkan oleh Zefier.
Dia memang pernah mendengar kontrak api dari ayahnya. Menurut perkataan ayahnya, kontrak api bertujuan melakukan perjanjian bagi dua belah pihak. Mereka yang mengingkari kesepakatan akan terbakar oleh api sendiri.
Tapi yang lebih mengerikan, jika pembuat kontrak yang mengingkari, maka akan merasakan dampak siksaan berkali-kali lipat.
Namun, membuat kontrak api bukanlah hal yang bisa dilakukan semua orang. Hanya ranah tertentu yang bisa melakukannya.
"Tenang, aku bisa." Ucap zefier.
Dia kemudian mengangkat sebelah tangan. Beberapa detik kemudian, beberapa lingkaran formasi muncul membentuk sebuah segel yang dihiasi dengan bara api merah. Lalu formasi itu berputar dengan ritme tertentu.
"Sekarang, masukkan energi api mu kedalam segel ini." Pinta Zefier Pada Dan Dzik.
Dari situ, perasaan takut pada diri Dan Dzik semakin menjadi-jadi. Dia tahu, pemuda yang ada dihadapannya ini sudah bukan lagi berada dilevel yang sama dengannya. Jika tak salah ingat, orang yang mampu membuat kontrak api, setidaknya berada di ranah Langit atau bahkan lebih tinggi.
Tapi, "Apa ini...?!" Batin Dan Dzik. Lagi lagi dia tak habis pikir, dia hanya dapat merasakan ranah Tingkat dasar pada Zefier. "Sudah di level apa dia sebenarnya? Aku yakin dia sedang menyembunyikan ranah. Aku hanya pernah mendengar hal itu melalui cerita ayah." Batinnya lanjut.
Ingin rasanya dia membatalkan taruhan itu. Tapi apa mau dikata, jika pemuda dihadapannya ini mau, menjungkirbalikkan sebuah kota bukanlah masalah baginya, apalagi hanya menundukkan dirinya seorang. Memikirkan itu, membayangkan dirinya bisa lari dari masalah ini tentu hal yang mustahil.
Setelah berpikir lama, ujung-ujungnya Dan Dzik tetap tidak bisa menolak. Impian menjadi murid di akademi Xolfrods, sekarang tinggal angan belaka.
Dengan menahan getaran pada tubuhnya, Dan Dzik berusaha tetap tenang dan menyalurkan energi apinya pada segel formasi yang telah disiapkan Zefier.
__ADS_1
Prosesnya cukup singkat, namun akibatnya sangat mematikan. Hingga saat ini, tak ada yang tahu apa yang terjadi selain Zefier dan Dan Dzik.
"Apa yang mereka lakukan...?" Gumam semua orang. Mereka kecewa melihat Dan Dzik yang hanya seperti main-main saja.
"Baiklah, aku sudah bersiap. Serang aku kapanpun kau mau..." Ucap Zefier.
Awalnya semua orang mengira akan terjadi benturan energi. Tapi setelah mendengar ucapan zefier, " Oh...! Ternyata tadi hanya salam perkenalan saja." Ucap semuanya, kembali semangat.
Setelah mendengar kesiapan Zefier, kini Dan Dzik terlihat patah semangat. Kepalanya tertunduk, badannya lesu seperti orang kekurangan gizi.
Zefier yang sudah bersiap, terpaksa dibuat menunggu. "Ada apa...?" Tanya Zefier, heran.
"A, apakah aku boleh menyerah...?" Tanya Dan Dzik tak semangat.
Melihat perilaku Dan Dzik, pikiran Zefier dipenuhi tanda tanya. "Sepertinya kau memahami sesuatu..." Tebak Zefier sambil berbisik.
Dan Dzik mengangguk. "Ya, aku tahu sedikit.... Setelah melihat itu, aku tahu kau bukan lawan yang sepadan. Perbedaan kita terlalu jauh." Jawabnya.
"Aku awalnya akan memberitahumu nanti, tapi sepertinya tidak perlu... Apa kau mau merahasiakan hal ini untukku? Ah, maksudku, apa kau mau merahasiakan segala hal yang kau ketahui tentang diriku?"
"Mengapa...? Bukankah kau hanya akan diremehkan?"
"Tidak apa-apa...! Aku hanya ingin seperti ini saja." Jawab Zefier.
"Mulai sekarang, tidak ada yang bisa kukatakan tanpa persetujuan mu." Ucap Dan Dzik.
Di sisi lain, Doga melihat perilaku aneh Dan Dzik. Dia melihat Dan Dzik seperti binatang jinak dihadapan Zefier.
"Dan Dzik, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Doga penuh kekhawatiran.
"Maaf, paman.... Aku sudah menyerah."
Bersambung....
"
__ADS_1