System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Kita Sedang Berburu....


__ADS_3

Di langit timur, tampak sesosok burung besar yang terbang menggagahi luasnya angkasa, meliuk menghindari awan tebal. Kehadirannya bagai dewa binatang yang merajai sebuah wilayah.


Meski seluruh tubuhnya terbuat dari api, tapi dia bukan burung Phoenix atau burung langka dan sejenisnya. Dia adalah jelmaan Flyn yang merubah wujud menjadi seekor burung. Dalam cengkraman cakarnya, ada Falmes yang tampak menantang kengerian. Sejak sadar di tengah perjalanan, jantungnya langsung seperti mau copot. Untung Flyn masih bisa berbicara walau dalam wujud itu dan membuat Falmes sedikit lebih tenang.


Tak dapat dipungkiri mengapa Flyn tak menaruh Falmes di punggungnya. Itu karena hanya Zefier seorang yang memenuhi syarat tersebut.


"Kemana kita akan pergi?!" Dengan wajah yang tak berbentuk karena terpaan angin yang sangat keras, Falmes masih berusaha mengajak Flyn berbicara.


"Tentu saja, kembali ketempat master berada." Jawab Flyn singkat.


Banyak yang ingin Falmes tanyakan, tapi dia terlalu enggan. Seperti bagaimana Flyn bisa berubah wujud, tingkat kultivasi Flyn, dan bahkan dia ingin menanyakan mengapa manusia sekuat dia mau tunduk kepada Zefier.


Mengingat pertanyaan itu terlalu menjurus kepada area pribadi, Falmes memutuskan untuk mencari tahu secara berlahan.


Ditempat lain, tampak Zefier telah berkumpul dengan seluruh bawahannya. Sesuai rencana, sekarang mereka akan mengadakan acara penutup dari latihan yang berlangsung selama satu bulan.


"Hari ini, aku ingin kalian mempraktekkan latihan yang sudah aku berikan dalam sebuah perburuan." Ucap Zefier mulai membuka suara.


"Acara ini akan berlangsung selama dua Minggu. Selama waktu itu, aku ingin kalian menyusuri hutan, mencari bahan obat-obatan serta mencari inti binatang."


Awalnya, Zefier ingin acara perburuan ini berlangsung selama seminggu. Namun setelah dipikir-pikir, waktunya terlalu singkat, jadi dia menggenapkan menjadi dua Minggu. Itu juga sangat bagus untuk membuat semua orang menjadi lebih berpengalaman dan matang.


"Karena pembagian sudah ditentukan, maka kalian akan pergi sesuai kelompok masing-masing. Tapi sebelum itu, kita perlu menunggu seseorang yang sebentar lagi akan tiba." Sambung Zefier.


Kelompok perburuan dibagi menjadi tiga. 12 orang mantan bawahan tetua Braham, dibagi menjadi dua kelompok dan di kepalaku oleh tetua Braham sendiri dan tetua Je.


Sedangkan kelompok ketiga, ya itu terdiri dari Dan Dzik, Livy dan Leo. Yang dikawal langsung oleh Zefier. Meskipun dapat dipastikan bahwa perannya mungkin tak akan dibutuhkan.


Tak berselang lama, yang ditunggu akhirnya tiba. Namun kehadiran yang ditunggu malah membuat gempar semua yang ada disana kecuali Zefier.


"Ugh...! Burung apa itu!" Ucap semua orang terkejut. Namun keterkejutan mereka hanya sampai tahap waspada. Mereka segera tenang saat melihat Zefier sama sekali tidak menanggapi kehadiran binatang yang membuat mereka merinding setengah mati.


Burung alias Flyn, berlahan menurunkan Falmes. Setelah itu, sedetik kemudian dia berubah kebentuk manusia yang selama ini digunakannya.

__ADS_1


"Master...!" Sapa Flyn, seraya menundukkan kepala dan membungkukkan badan.


Melihat itu, Falmes juga segera mengikuti Flyn. "Tuan muda...!" Ucap Flyn. Dia tahu, sebelumnya, begitulah semua orang memanggil Zefier.


Zefier melihat Falmes. Dia membalas dengan senyum bersahabat.


"Kalian datang tepat waktu. Berhubung kalian telah tiba, maka kau.... Bergabunglah dengan mereka!" Ucap Zefier pada Falmes agar bersatu dengan Dan Dzik dan yang lain.


"Baiklah.... Sekarang, kita akan memasuki hutan. Berhati-hati dan tetap waspada. Jangan pernah bertindak sendiri dan Jagan sampai terpisah." Pesan Zefier lagi.


"Siap, tuan muda...!" Ucap mereka serentak.


Mereka lalu membubarkan diri dan pergi bersama kelompok yang telah ditentukan. Tetua Braham dan tetua Je, pergi ke kanan dan ke kiri. Sedangkan Zefier, menyusuri bagian tengah.


Sepanjang perjalanan, Zefier selalu berada dibelakang. Keberadaannya terlalu berbeda dengan keempat pemuda yang ada didepan. Namun, sebagai orang yang masih sebaya, dia juga ingin memanfaatkan itu sebagai pendekatan.


Falmes yang baru tiba, tentu saja kebingungan dengan apa yang akan mereka lakukan. Apalagi dia belum akrab terhadap siapapun. Masih merasa asing dan agak susah menyesuaikan diri terhadap orang yang bahkan baru saja bermusuhan dengannya.


"Kau tampak tak tenang, apa kau tak enak badan?!" Tanya Dan Dzik pada Falmes.


"Begitu rupanya.... Perkenalkan, aku Dan Dzik!" Ucap Dan Dzik, memperkenalkan diri terlebih dahulu.dan berjabat tangan. Lalu disusul oleh Livy.


Falmes membalas jabatan tangan Dan Dzik. "Aku Falmes...!"


Namun, saat tiba giliran Leo, Falmes sedikit grogi. Setelah adu kemampuan saat itu, diam-diam dia menaruh sedikit kekaguman pada Leo. Dia bahkan selalu membayangkan bagaimana cara Leo melakukan jurus yang diluar nalarnya.


"Aku tahu, kau mungkin menaruh dendam padaku, tapi sekarang kita berada dibawah naungan orang yang sama." Ucap Falmes.


"Jika itu dulu, mungkin iya. Namun setelah bertemu tuan muda, aku membuang sifat itu jauh-jauh." Leo dengan berkata dengan santai.


Mendengar pengakuan tersebut, Falmes langsung merasa aneh. Dia tak pernah menemukan seseorang yang begitu mudahnya mempengaruhi sifat orang lain. Mungkin baru kali ini.


Dalam hatinya, dia benar-benar penasaran dengan sosok Zefier. Apa yang dia inginkan, mengapa dia repot-repot mengumpulkan pemuda seperti mereka. Jika menginginkan kekuatan, bukankah sebaiknya langsung mencari orang yang jauh lebih kuat dari mereka.

__ADS_1


Beberapa puluh meter dibelakang, Zefier terus memperhatikan mereka. Walau dia tak mendengar apapun, tapi dia yakin, sedikit banyaknya pembicaraan itu menyinggung dirinya.


Beberapa jam menyusuri hutan....


"Berhenti!" Ucap Dan Dzik tiba-tiba. Hal serupa dilakukan oleh Leo dan Livy. Hanya Falmes yang tak sigap dengan situasi itu.


Falmes tertegun. "Ada apa?!" Ucapnya penasaran.


"Sepertinya ada tiga ekor." Ucap Livy.


"Ya, tapi mereka cukup kuat." Sambung Leo.


Falmes menggaruk kepalanya yang tak gatal, pertanyaan yang dia lontarkan, sama sekali tak ada yang menanggapi. Dia juga bingung, apa yang sedang dibahas ketiga orang dihadapannya itu.


"Mengapa kalian berhenti tiba-tiba? Apakah ada yang ketinggalan?!" Wajah lugu Falmes, membuat Dan Dzik dan yang lainnya tersenyum.


"200 meter di depan sana, ada tiga ekor binatang buas yang kemungkinan besar sudah mencapai ranah tahap api sedang. Kita harus menyusun rencana sebelum melakukan penyerangan. Jelas Livy.


Falmes sangat terkejut, namun sedetik kemudian dia tertawa. "Hahaha.... Meskipun baru berkenalan, kalian tidak sungkan bercanda." Ucapnya.


"...Menangkap binatang buas yang memiliki batu inti?! Walaupun bercanda, tapi itu mustahil! Dan lagi, kalian berbicara seperti ini, memangnya tahu dari mana ada binatang buas didepan sana?!" Lanjut Falmes.


Leo, Dan Dzik dan Livy saling berpandangan.


"Apa kau tidak merasakannya sama sekali?!" Tanya Livy.


"Mana mungkin aku tau...! Dan lagi, jika benar ada, mengapa malah menyerang dan bukannya menghindar?!


"Jagan-jagan, kau tidak tahu apa yang sedang kita lakukan saat ini!" Ucap Dan Dzik.


"Memangnya, kita sedang apa...?!"


Plok! Dan Dzik menepuk keningnya sendiri. Dia juga baru sadar, saat Falmes tiba, dia langsung bergabung tanpa diberi penjelasan apapun.

__ADS_1


"Kita sedang berburu!"


Bersambung....


__ADS_2