System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Harimau Angin...


__ADS_3

Pertarungan melawan tiga ekor macan putih masih terus berlanjut. Di awal-awal mereka terlihat dapat mengimbangi binatang buas itu, tapi hingga satu jam kemudian, mereka baru sadar bahwa binatang itu sedang berusaha membuat mereka kelelahan.


Tak butuh waktu lama, sekelompok murid yang berjumlah sebelas orang itu akhirnya mulai kewalahan. Alur pertarungan semakin didominasi oleh para macan putih. Sedikit-demi sedikit, satu persatu mereka mulai mendapat luka cakaran.


"Argh..." Teriak seorang murid, menahan sakit.


"Jangan menyerah dulu...! Kita semakin terpojokkan." Teriak yang lain.


"Apa rencana selanjutnya? Tenaga dan energiku sudah mulai habis. Tampaknya para binatang buas sialan ini cukup pintar."


"Benar, aku juga sama."


"Aku juga, aku juga..."


Kepanikan terjadi diantara mereka. Tak ada yang dapat berpikir jernih dalam situasi itu untuk mengatur suatu rencana.


Sesekali mereka memangku sebelah tangan di atas lutut, berusaha menahan tubuh yang kelelahan sambil terus mengarahkan pedang ke depan, setidaknya untuk memberi sedikit ancaman pada macan putih.


"Apa ini akhir dari kita? Aku tak percaya...."


"Susah payah aku masuk akademi, tapi malah berakhir menyedihkan. Ini tidak sebanding."


Ditengah rasa putus asa, mereka hanya bisa menyesali keputusan yang mungkin mereka anggap salah. Menjadi kuat memang sebuah impian, tapi apa yang didapat dari impian itu? Sekarang tinggal angan belaka.


Ini detik-detik lentera kehidupan mereka mulai padam. Tak ada lagi semangat seperti dulu, saat pertama kali mereka masuk akademi ini. Yang tinggal hanyalah harapan yang tak terpenuhi.


Namun, ditengah keputusasaan itu menuju puncak, tiba-tiba secercah harapan datang.


Seseorang wanita dengan anggunnya tampak turun berlahan dari langit seperti Dewi khayangan. Tanpa disadari dalam kondisi memprihatinkan itu, kesebelas murid masih sempat merasa terpesona akan kehadirannya.


"Se, senior Livy...? Mengapa ada di sini?" Semua tampak tak percaya dengan penglihatan sendiri.


"Lihat itu... Bukankah itu plakat khusus yang digunakan para senior pembimbing?"


"Aku tidak terkejut... Sebelumnya aku mendapat bocoran, bahwa setiap kelompok memiliki satu pengawas dari senior pembimbing." Ucap salah satu dari mereka.


"Pantas saja, kau tak terlihat panik."


"Tentu saja aku panik! Bahkan dalam kondisi separah ini, senior tak kunjung menampakkan diri."


Ditengah obrolan mereka yang mulai bersemangat, satu gerakan dari wanita cantik itu, langsung merobohkan ketiga macan putih.


Wush...! Gerakannya lembut bak tiupan angin, namun kecepatannya masih tidak mampu ditangkap mata para murid.

__ADS_1


Bug, bug, bug...! Ketiga macan putih, terpental seketika. Membuat para murid semakin kagum padanya.


"Wah... Senior Livy memang hebat." Puji mereka.


"Tentu saja hebat, aku dengar, senior Livy baru masuk akademi, tahun lalu. Artinya setahun di atas kita."


"Benarkah...? Dan sekarang senior Livy sudah masuk jajaran senior pembimbing? Hanya orang berbakat dan jenius tingkat dewa yang bisa melakukan itu."


"Ya, bukankah tadi senior Livy hanya menggunakan energi biasa untuk mengalahkan macan? Bagaimana jika senior sampai menggunakan kemampuan api, aku sampai sulit membayangkannya."


Semuanya mengangguk setuju. Jika saja Livy menggunakan kekuatan apinya, tentu akan membunuh ketiga macan dalam sekejap.


Di tengah percakapan mereka, Livy datang menghampiri.


"Kalian harusnya tau, kedatanganku tanda akhir ujian kalian. Tak perlu kecewa, kalian sudah melakukan yang terbaik." Ucap Livy.


Semua terdiam, mereka fokus mendengar suara indah Livy yang terlontarkan terlontarkan.


"Apa kalian mendengar-ku...?" Ulang Livy.


"Ah, ya...! Tentu kami tahu. Senior, terimakasih sudah menyelamatkan kami." Ucap mereka dengan tulus.


"Itu memang sudah tugasku. Sekarang kembalilah, aku akan terus mengawasi kalian hingga ketitik pertemuan awal."


Mereka kemudian memutuskan untuk berbalik arah. Tak ada kata berhenti, ini sudah terlalu jauh ke pedalaman hutan. Takutnya, ancaman baru akan datang.


Namun,


Trek...! Terdengar suara ranting patah seperti terinjak sesuatu. Semak-semak bergoyang seperti sedang dilalui seseorang.


Grrr...! Sosok yang keluar dari balik semak, sungguh menyajikan penampakan yang mengerikan.


"Ha, harimau angin...! Ranah Api kecil?!" Mereka semua terkejut sembari ketakutan saat melihat sosok itu.


"Mundur semuanya! Jangan ada yang terpisah....Harimau ini termasuk salah satu binatang licik, menyerang mereka yang lemah dan terpisah." Ujar Livy memberitahukan.


Kendati demikian, Livy masih tetap tenang. Entah apa strateginya, dia seakan tak memiliki kekhawatiran.


Harimau tampak bersiap melakukan serangan, di keempat kakinya terdapat fluktuasi api yang tidak terlalu besar. Artinya, tanpa sadar harimau itu sudah memahami sedikit cara kerja energi api.


Ya, pada dasarnya binatang memang tak punya akal, akan tetapi nalurinya akan selalu membimbing kejalan dimana mereka akan semakin kuat dan ganas. Setiap kali mereka mendapatkan sebuah kekuatan atau pertahanan, disitulah naluri mereka bermain. Tampa sadar para binatang akan selalu membiasakan diri dengan kemampuan baru mereka.


Tap, tap...! Wush...!

__ADS_1


Harimau bergerak zig-zag. Seperti namanya, gerakan harimau itu sangat cepat seperti angin.


"Ba, bagaimana ini...! Dapatkah senior Livy menghadapi harimau itu?" Keraguan mereka timbul saat melihat kecepatan harimau tersebut. Meski mereka sudah melihat kecepatan Livy sebelumnya, tapi jika diadu, itu masih belum sebanding.


Ditengah keraguan mereka, tiba-tiba fluktuasi energi di tubuh Livy meningkat pesat. Api miliknya menjalar ke seluruh tubuh, membentuk jubah pelindung.


Beberapa bagian bahkan terasa lebih kental, seperti di bagian kaki dan tangan. Hal itu tentu untuk meningkatkan fleksibilitas dan kecepatan gerakan.


"A, api biru...?!"


"Ranah api besar...?!


Siapa diantara mereka yang tidak terkejut dengan tingkatan Livy saat ini. Bahkan meski belajar bertahun-tahun lebih lama, mereka belum tentu mencapai ranah tersebut. Apa lagi tingkat kelangkaan api yang dimiliki Livy, membuat siapapun gentar jika berhadapan secara langsung.


"Mimpi, kah? Tau ini benar-benar nyata?"


"Tak heran senior Livy dipercaya sebagai pengawas ujian, tentu karena ini."


Para murid yang awalnya sempat mengkhawatirkan Livy, sekarang bahkan tak mampu menilai hanya dengan kata-kata.


Tik...! Ibarat teleportasi, Livy menghilang dari pandangan mereka.


"Sangat cepat...!" Batin mereka bersamaan.


Belum usai mata berkedip, tangan Livy sudah mencengkram mulut harimau. Segera melakukan kuda-kuda, lalu melancarkan pukulan telak di pundak kiri harimau.


Buggg...! Suara pukulan terdengar padat dan kedap. Biar tak menimbulkan dampak bantingan, itu sudah cukup melumpuhkan harimau tersebut.


Tak ada sedikitpun gerakan, sesudahnya. Harimau itu terdiam dan berlahan tumbang. Seperti ketiga macam putih, harimau angin hanya pingsan.


Sekelompok murid itu tak henti-hentinya mengungkapkan kekaguman mereka dengan ekspresi maupun kata-kata.


"Sangat, hebat...! Kapan aku bisa seperti senior Livy." Puji mereka.


"Apakah seperti ini kehebatan ranah api besar? Ataukah karena tingkat api langka yang dimilikinya?"


Setelah mengalahkan harimu angin, Livy kembali menghimbau para juniornya agar segera kembali.


"Jangan hanya diam, segera kembali." Perintah Livy. "Beruntung harimau ini bertemu aku.... Takutnya, beberapa pembimbing masih harus kewalahan menghadapinya." Lanjut Livy.


Mendengar itu, tak henti-hentinya para murid mengucapkan rasa sukur karena Livy yang menjadi senior pembimbing mereka. Jika tidak, tak tahu akan seperti apa nasib mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2