System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Tujuan sebenarnya....


__ADS_3

Meski mereka takut bola-bola api itu akan dilemparkan pada mereka, tapi para tetua sudah bertekad untuk tidak beranjak dari sujud sampai Zefier memaafkan mereka.


"Memalukan bukan...? Kalian malah termakan kekonyolan sendiri." Ucap Zefier.


"Harta dan kekuasaan memang bisa dicari dengan cara apapun. Namun sayangnya kalian mengesampingkan kenyataan bahwa nyawa jika sudah menghilang, maka apa yang kalian usahakan sama sekali tak ada gunanya."


"Beruntung jika keluarga dan keturunan kalian berada dijalan yang benar, jika sampai mereka sama seperti kalian, itu artinya kalian sedang mewariskan keburukan tujuh turunan." Sambung Zefier menasehati. Kata-kata bijak yang dia ucapkan baru muncul begitu saja. Entah mereka paham atau tidak, dia juga tak terlalu peduli.


Tik...!


Zefier menjentikkan tangan. Seketika semua bola api menghilang. Semua orang lega, panas bagaikan mata hari yang didekatkan, kini berganti hawa sejuk angin sepoi yang bertiup. Meski sangat disayangkan, beberapa furnitur serta kursi dan meja yang ditempa dengan sangat apik, hangus terbakar.


"Sudahlah, Kalian pulang saja... Aku memang kecewa melihat persatuan kalian untuk keburukan dan bukan kebaikan, tapi asal kalian mau berbenah diri, aku takkan mempermasalahkannya." Zefier berbicara panjang lebar.


Mendengar pengakuan Zefier, kelima ketua tersebut langsung merasa lega. Tapi mereka tetap tak beranjak sesuai perintah zefier.


"Tapi, tuan...!" ketua Momor seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Sudah, sudah...! Aku memaafkan kalian. Jadi, cepat pulang sana dan jangan ulangi." Zefier seperti menasehati anak kecil."


"Te, terimakasih tuan...!" Ucap mereka serentak.


Zefier hanya mengangkat sebelah tangan, tak peduli dengan ucapan terimakasih mereka.


Para ketua juga baru berani berdiri, dan berniat meninggalkan perguruan tuan Kasra. Namun, baru hendak berbalik...


"Tunggu...!" Tahan Zefier.


Bulu kuduk kelima ketua tersebut, kembali merinding. Hanya sepotong kata, sudah cukup membuat mereka berpikir yang bukan-bukan.


"Aku harap, kalian dapat merahasiakan apa yang kalian lihat barusan." Ucap Zefier seraya berjalan meninggalkan mereka.


"Fuhhh...! Ternyata itu. Aku pikir ada masalah baru." Batin para ketua, bernafas lega.


Meski Zefier tak memperhatikan, "Baik, tuan...!" Ucap mereka sembari merunduk.


Akhirnya mereka benar-benar dapat meninggalkan ruangan tersebut setelah sebelumnya mereka seperti berhadapan dengan malaikat maut.

__ADS_1


Di sisi lain, Galga terlihat berlutut diantara tubuh Leo dan Alfert. Jantungnya berdebar kencang saat melihat Zefier yang melangkah semakin dekat.


Dia sedang berpikir, entah nasib sial apa yang sedang menimpanya kali ini. Rencana yang disusunnya dengan matang selama ini, hancur oleh seorang pemuda berusia 16 tahun.


Takut, ya jelas takut. Bahkan dia sudah berniat menyerahkan nyawanya tanpa diminta. Yang penting anak dan adiknya selamat.


Mungkin ini akan menjadi pelajaran paling berharga bila ada kehidupan kedua setelah ini.


Tap...!


Terdengar langkah terakhir berhenti dihadapan Galga. Kepalannya tertunduk, dia tak berani menatap pemuda yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Paman...!" Zefier menyapa dengan sopan. Apa kau masih mau meneruskan pertikaian kita?" Lanjutnya, lembut.


"Di matamu, mungkin aku tidak pantas meminta ampun. Jika harus menghukum, bunuh saja aku. Tapi tolong lepaskan kedua orang ini." Tukas Galga tampa ragu.


"Aku tak pernah mengatakan menghukum apalagi membunuh. Aku hanya bertanya, apa kau mau lanjut atau tidak, paman?" Ulang Zefier.


Galga tertegun mendengar kata-kata itu. Entah itu rekayasa atau tidak, dia melihat Zefier tulus mengucapkannya. Dia tak menyangka, sebagai seorang pemuda seharusnya emosi Zefier lebih tidak stabil. Apa lagi mulutnya sempat melontarkan kata-kata ancaman.


Tapi, apa yang didapatinya sungguh berbeda dengan kenyataan. Sikap Zefier sungguh dewasa, kebalikan dari dia yang sudah tua.


"Kalau begitu, apa paman keberatan jika aku suruh kembali ketempat asal mu?"


"Tanpa kau minta, aku memang akan melakukannya, jika Kasra mau melepaskan aku."


"Tenang saja... Masalah itu, aku yang akan mengurus. Tapi untuk menebus semua kesalahan ini, aku akan meminta sesuatu, apa kau keberatan?" Ucap Zefier.


"Benar saja.... Mana mungkin aku bisa pergi begitu saja tanpa tebusan. Sebutkan sebesar apa harga yang kau inginkan, aku akan berusaha memenuhinya." Jawab Galga.


"Tidak banyak.... Aku ingin kau meninggalkan pemuda itu." Ucap Zefier, menunjuk Leo.


"Apa...?! Anakku tidak melukaimu sama sekali, mengapa kau menginginkannya? Jika kau mau nyawa, ambil saja nyawaku." Tolak Galga. Meskipun dia tidak berani bertarung dengan zefier, tapi demi keluarga dia berani mempertaruhkan nyawa.


"Tidak, bukan begitu.... Aku hanya ingin menjadikannya sebagai pengikut mulai hari ini. Paman harusnya bersyukur, Aku tertarik untuk membimbing anakmu saat melihat talentanya." Jawab zefier.


Awalnya Galga ragu untuk menyerahkan Leo. Namun setelah dipikir-pikir, sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat ada orang yang lebih berbakat dan lebih kuat dari Zefier.

__ADS_1


"Baiklah... Tapi berjanjilah satu hal padaku...."


"Tenang saja.... Aku akan menjaga keselamatan serta memenuhi semua kebutuhannya." Potong Zefier seakan tahu apa yang Galga pikirkan.


"Nah, kalau begitu.... Aku akan menitipkannya padamu." Jawab Galga, pasrah meski dengan sedikit keraguan.


Setelah berbicara panjang dan berujung sebuah negosiasi, akhirnya Galga memutuskan untuk kembali. Kali ini, selain dia menyadari apa arti sebuah kekuatan, dia juga sadar akan keburukan sifatnya. Tak seharusnya semua ini terjadi hanya karena menginginkan seorang perempuan.


Disisi lain, tampak Zefier menghampiri tuan Kasra. Disana tuan Kasra sudah menunggu bersama bawahannya dan murid-murid yang sempat melarikan diri karena takut terkena dampak api milik Zefier.


Beberapa murid mulai gemetar, melihat Zefier yang berlahan mendekat. Mungkin mereka adalah murid yang sempat merendahkan Zefier sebelumnya.


"System, Apa kau yakin itu adalah kuburan orang tuaku...?" Tanya Zefier. yang sejak tadi berbicara dengan system.


Dia menerima pemberitahuan tentang jasad kedua orang tuanya, dan itulah tujuan sebenarnya mengapa dia datang kesini.


"Tentu saja, tuan.... Penilaian ku tak mungkin salah. Dua kuburan yang ada di ruang belakang sana, masih meninggalkan jejak energi yang sama seperti tiga tahun lalu."


"Baiklah... Kalau begitu, aku akan berkabung malam ini. Terimakasih sudah membantuku, system." Zefier mengucapkan dengan tulus.


"Tuan, keberadaan ku untuk mempermudah perjalanan tuan menjadi manusia terkuat. Tuan tak perlu mengucapkan terimakasih."


"Tetap saja, apa yang kau lakukan sudah sangat membantuku sejak dulu. Aku melakukannya sebagai manusia yang memiliki hati. Jika kalimat itu saja tak mampu ku ucapkan, tak pantas bagiku mendapatkan bantuan mu."


"Kalau begitu, dengan senang hati aku menerimanya." Ucap system sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka. Sebab saat ini Zefier sudah berhadapan dengan tuan Kasra.


"Paman.... Berhubung hari sudah mulai petang, bolehkah malam ini aku menginap disini?" Tanya Zefier tiba-tiba.


"Te, tentu saja...! Kau bahkan boleh tinggal selama yang kau mau." Ucap tuan Kasra agak gugup. Tentu perasaanya tidak jauh beda dengan apa yang dirasakan kelima ketua dan juga Galga.


"Kenapa paman terlihat gugup? Aku tidak ada maksud apapun." Zefier coba mencairkan suasana di pihak tuan Kasra.


Pada awalnya, mungkin Zefier bermaksud meminta kejelasan atas klaim tuan Kasra terhadap tanah peninggalan ayahnya. Tapi dia mengurungkan niat tersebut setelah mendapat kejelasan dari system.


Melalui penjelasan system, Zefier menarik kesimpulan bahwa orang tuanya dikuburkan oleh tuan Kasra sendiri. Itu karena System juga membeberkan beberapa informasi yang mungkin semua orang yang ada disitu tidak ada yang tahu siapa tuan Kasra sebenarnya.


Informasi system benar-benar membantu, sehingga dia tidak jadi menimbulkan masalah yang lebih jauh.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2