System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Cepat Pergi Dari Sini....


__ADS_3

Dan Dzik dan Leo akhirnya terlepas dari tali yang mengekang mereka selama dua hari. Terdapat luka memar di sekujur tubuh mereka. Bekas aliran darah yang mengering, juga terlihat jelas dari sela bibir yang gersang.


"Aku akan mengantar kalian pada tuan muda Zefier." Ucap tetua Je.


Dan Dzik dan Leo yang sudah sangat lemah, tak ada daya lagi untuk menjawab. Hanya anggukan lemah yang bisa mereka tunjukkan sebagai tanda setuju.


"Wanita muda, selain menitipkan surat itu, tuan muda juga ingin bertemu dengan anda." Lanjut tetua Je pada Livy.


Sebenarnya Livy enggan untuk mengikuti permintaan tetua Je, tapi saat melihat wajah Leo.


"Ka- kau...?!" Livy tersentak, kaget.


Bagaimana tidak.... Sejak tadi, tuan muda yang ada dipikirannya hanyalah wajah Leo. Hanya Leo lah yang pernah mengaku-ngaku sebagai tuan muda saat dia dipaksa menikahinya dulu.


"Livy....?!" Leo juga terkejut saat melihat Livy. Bisa dibilang, kejadian yang berujung kemalangan ini, sedikit banyaknya ada hubungannya dengan wanita itu.


"Huh! Sudah kuduga, tak mungkin orang setingkat keluargamu bisa memiliki perahu terbang sebesar itu. Aku ingat, kalian bahkan tidak memiliki versi kecilnya." Ucap Livy, ketus. Seperti ada dendam diantara mereka berdua.


"Apa maksudmu?" Leo merasa keheranan mendengar perkataan Livy yang tak tau menjurus kemana.


"Tapi.... Jika bukan dia, lalu siapa tuan muda yang dimaksud? Apalagi aku belum pernah mendengar orang dengan nama Zefier." Batin Livy, penuh tanda tanya.


"Apa kalian saling kenal?" Tetua Je yang sedang memapah Leo, terlihat keheranan.


"Bisa dibilang begitu...." Jawab Leo.


Tapi Livy buru-buru menyangkalnya. "Lebih tepatnya, kami saling bermusuhan."


Melihat pembicaraan yang tak akur, tetua Je hanya bisa menggelengkan kepalan. "Dasar, anak muda.... Mau kalian teman atau lawan, sebaiknya kita bertemu tuan muda dulu. Setelah itu, terserah kalian mau apa"


Setelah berkata demikian, "Apa kau bisa naik keatas sana?" Tanya tetua Je pada Livy.


Livy melihat keatas. "Tidak...." Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Saking besarnya perahu itu, jaraknya jadi terlihat sangat dekat. Tapi jelas itu bukan sesuatu yang bisa dijangkau ya.


"Baiklah, tunggu sebentar.... Aku akan mengantarkan kedua orang ini."


Pergelangan kaki tetua Je tampak dipenuhi api ungu. Kemampuan tersebut bisa dibilang untuk meringankan langkah. Dengan begitu, tetua Je dapat menggapai perahu hanya dengan satu lompatan.


"Hup...." Tetua Je terlihat seperti terbang.

__ADS_1


"Ti- tingkat neraka...?! Masih ada orang yang berada di ranah tingkat neraka?" Ucap semua orang, terkejut. Fluktuasi energi yang keluar dari tubuh tetua Je, membuat semua orang mengetahui ranahnya.


Keterkejutan semua orang tak berhenti sampai disitu saja. Sesaat setelah tetua Je sampai di atas, mereka melihat sesuatu yang terbuat dari api dan menjalar seperti akar, turun dari atas perahu lalu mengikat Livy dan membawanya naik.


"Apa lagi ini...?! Siapa mereka sebenarnya. Mengapa kemampuan mereka terlihat asing!" Gumam semua orang....


Kembali ke tetua Braham yang sedang berhadapan dengan wakil dekan Razen.


Wakil Razen telah kehabisan akal sejak dia mengetahui ranah tetua Braham. Kemampuan yang selama ini dia banggakan, ternyata masih jauh dibawah orang lain.


"Karena sudah tidak ada lagi yang menghalang, bagaimana kalau kita lanjutkan...?" Tetua Braham terlihat mengintimidasi wakil Razen.


Raut wajah wakil Razen tampak sangat serius dan waspada. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dia sudah terlanjur memancing dan umpan sudah terlanjur dimakan. Melepaskan diri? Takutnya tak semudah itu.


"Senior.... Ma- maafkan aku! Aku buta, dan khilaf." Tiba-tiba, wakil Razen, bertekuk lutut. Wajahnya memelas, meminta belas kasihan. Hanya ini yang terpikirkan olehnya jika masih ingin selamat.


"Wa- wakil dekan Razen sampai berlutut?!" Gumam murid-murid. Wajah mereka tertunduk, enggan menyaksikan ketidak berdaya orang nomor dua itu dihadapan orang asing tersebut.


"Jangan bercanda! Dimana semangatmu tadi? Bukankah pertarungan orang tua seperti kita, akan menjadi lima dan pelajaran untuk generasi muda itu?" Ucap tetua Braham.


"Nah... Jika begitu, bukankah sebaiknya senior menjadi tenaga pengajar di akademi ini? Aku akan langsung menyerahkan jabatan-ku, aku bahkan akan menuruti semua perintah senior."


Wakil dekan Razen terkesima mendengar pernyataan itu. "Orang setingkat dia masih belum pantas? Siapa gerangan tuan muda yang dia maksud?" Batinnya.


"Membosankan...! Khusus untukmu, aku tidak mempermasalahkan tindakan barusan. Tapi, tidak dengan anak ini!" Tetua Braham berjalan kearah Megion. "Anak ini harus menerima sedikit pelajaran atas perbuatannya." Lanjut tetua Braham.


"Senior.... Tolong ampuni...." Kalimat wakil dekan Razen terpotong saat melihat sekelebat bayangan melaju cepat menuju tetua Braham. Melihat siapa orang itu, wakil dekan Razen tampak sangat mengenalnya.


"Wakil Arez, hentikan!" Teriak wakil Razen. Namun sayang, teriakannya sudah terlambat. Wakil Arez langsung melancarkan serangan dengan jurus yang sudah disiapkannya.


Buuum! Terjadi ledakan di atas arena. debu-debu beterbangan, menghalangi penglihatan semua orang. Hanya wakil Arez yang terlihat keluar dari gumpalan debu dan asap.


"Wakil Razen, apa kau baik-baik saja?" Tanya wakil Arez. Sepertinya, dia datang untuk membantu wakil Razen. "Berdirilah.... Aku akan membantumu" Lanjutnya, sambil memapah lengan wakil Razen.


Namun wakil dekan Razen tak berniat berdiri, dengan kepala menunduk, dia menggelengkan kepala sambil berucap. "Sudahlah, biarkan saja aku.... Selagi masih sempat, tolong wakil Arez bawa pergi cucuku."


"Kalau itu, wakil Razen tak perlu khawatir, keponakanku Falmes telah mengurusnya." Tampak disana Falmes memapah Megion turun dari arena.


Tapi lagi-lagi wakil Razen tak menunjukkan raut bahagia. "Bukan itu maksudku, sebaiknya wakil Arez juga segera meninggalkan tempat ini." Ucapnya, lesu.

__ADS_1


"Ada apa denganmu, wakil Razen?" Wakil Arez melihatnya dengan raut kebingungan. Dia merasa ada yang salah dengan sikapnya.


Wakil Razen tak menjawab, bahkan tak menatap wakil Arez sedikitpun.


Disisi lain, debu-debu dan asap tebal yang menyelimuti sebagian arena, berangsur menipis. Terlihat sebuah kawah berukuran dua meter, menganga lebar di lantai panggung tersebut. jelas itu dampak jurus yang wakil dekan Arez berikan.


Semua mata tertuju pada kawah itu. membuat semua murid serta-merta memujinya.


"Memangnya, kenapa jika ranah neraka? Dengan pukulan sedahsyat itu, takutnya tak satupun rambut orang tua itu yang tersisa."


"Ya, kupikir ranah neraka memiliki perbedaan kekuatan yang sangat signifikan. Ternyata, wakil dekan Arez benar-benar hebat, sampai bisa mengalahkan tingkatan yang jauh darinya hanya dengan satu pukulan."


Semua orang mengangguk-angguk mendengar perkataan murid tersebut. Sekarang, wajah mereka kembali ceria melihat kehebatan salah satu guru mereka.


"Untung menang.... Kalau tidak, akan sangat memalukan jika kalah dikandang sendiri." Ucap yang lain.


"Hust! Jangan sembarang bicara." Tegur yang lain, mengingatkan.


Tapi, tampaknya mereka terlalu cepat menilai. Apa yang mereka katakan, ternyata diluar dugaan.


Angin tipis meniup debu dan asap yang masih tersisa. Terlihat seseorang dengan penampilan aneh, berdiri beberapa meter dari lubang kawah itu.


Semua murid kembali terkejut, melihat pemandangan yang tak masuk akal dihadapan mereka.


"Lihat! Bukankah...."


"Ya.... Dia adalah orang tua itu. Apa yang terjadi dengan tubuhnya, api apa itu, mengapa api itu terlihat seperti baju Jirah?" Semua orang terkesima dan saling bertanya-tanya.


Sementara itu....


Srek, srek....!


Disudut sana, orang tua alias tetua Braham, terlihat sedang menepuk-nepuk pakaiannya yang dihinggapi debu.


"Fyuh.... Sungguh merepotkan!" Ucap tetua Braham.


Disisi lain, wajah wakil Arez sangat tak biasa. Pandangannya begitu tajam, melihat tetua Braham yang masih berdiri dan sehat-sehat saja. "Ke- kenapa bisa...!" Ucapnya, gugup. Tak tau harus bilang apa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2