
Wush...! Ketiga perahu besar tampak meninggalkan akademi Xolfrods. Semua orang menatap kepergian perahu yang menampilkan kegagahan serta ketangguhan.
"Huffft...!" Situasi dan kondisi kembali sebagaimana mestinya, mereka akhirnya bisa bernafas lega, setelah beberapa jam terjadi sedikit konflik serta bertatap muka dengan orang-orang mengerikan.
Di atas perahu terbang...
"Tuan muda, kemana tujuan kita selanjutnya?" Tanya tetua Je pada Zefier yang tengah duduk santai di teras perahu.
"Jika persediaan pangan masih banyak, kita akan melanjutkan perjalanan menuju benua barat. Masih ada beberapa orang lagi yang harus kita jemput sebelum memasuki dunia kedua." Jawab Zefier, santai.
"Anda sudah menerbangkan perahu ini sendirian selama empat hari Tampa berhenti, tidakkah kita istirahat terlebih dahulu? Kami mengkhawatirkan kondisi anda, tuan muda."
Perkataan tetua Je cukup masuk akal. tugas yang diemban oleh ratusan orang secara bergantian, sekarang diemban sendirian oleh Zefier. Jika Zefier sebagai tuan barunya harus mati karena kehabisan energi, kemana lagi dia harus berlindung, setelah secara terang-terangan dia dan tetua Braham membelot duta keuangan dari dunia kedua.
Menerbangkan perahu seorang diri belum pernah terjadi dalam sejarah, bahkan untuk beberapa menit saja, hal itu masih cukup mustahil dilakukan Karena akan konsumsi energi yang sangat banyak.
"Kalian tak perlu khawatir, aku masih sanggup menerbangkan perahu ini sebulan penuh." Jawab Zefier Tampa bermaksud sombong.
Tak tahu apakah itu bohong atau tidak, yang jelas tetua Je tetap merasa khawatir.
"Maksudku, jika sampai terjadi sesuatu pada anda, mungkin kami akan kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi hanya anda seorang yang menjadi ujung tombak kehidupan kami ke depan."
"Hemmm, baiklah.... Kita kan mencari tempat yang jauh dari kerumunan orang, mungkin di sebuah hutan atau pegunungan. Kita akan berhenti dan beristirahat disana, sekalian aku akan melatih kalian selama beberapa Minggu." Balas Zefier, mengalah.
Mendengar jawaban tersebut, tetua Je sangat merasa senang, terutama tetua Braham yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Dampak latihan yang diberikan Zefier padanya, sungguh menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Dua hari kemudian....
Sesuai janji, Zefier akhirnya menemukan tempat yang diinginkan, tepatnya di pedalaman sebuah hutan. Mereka berhenti di sebuah tanah lapang yang terbentuk secara alami disana. Hanya ada rerumputan hijau yang tampak melengkung akibat tiupan angin sepoi.
__ADS_1
"Tempat ini cukup bagus, aura energinya juga cukup murni, sangat cocok untuk dijadikan tempat berlatih."
Tampak Zefier berdiri ditepi perahu sambil memperhatikan dan menikmati situasi alam yang ada disana.
Zefier melompat turun, seluruh penumpang yang ada di perahu terbang, mengikutinya dari belakang. Tak satupun dari mereka menggunakan tangga alternatif yang ada di perahu tersebut.
"Tetua Je, tetua Braham... Selama memasuki hutan, kalian bertugas melindungi semua orang dari belakang!" Perintah Zefier.
Bukannya tidak mampu melindungi mereka sendirian, Zefier hanya ingin membuat kedua tetua itu terlihat lebih aktif dan waspada terhadap sekitar. Ini juga sebagai latihan untuk meningkatkan reflek dan insting mereka yang terlihat buruk.
"Siap, tuan muda!" Ucap duo tetua, patuh. Secara hukum alam, memang yang kuatlah yang melindungi yang lemah. Itu kebalikan dari kondisi mereka dulu saat masih memiliki jabatan. Orang-orang yang mereka lindungi saat inilah yang bertugas melindungi mereka, sebelum akhirnya mereka terpaksa turun tangan.
Sekarang, era mereka baru saja berubah seminggu yang lalu. Di hadapan Zefier, mereka semua tak lebih dari seorang bawahan yang mengabdikan diri.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka tiba di tempat yang cukup strategis, tempat yang selalu menjadi favorit bagi Zefier. Yaitu sebuah area yang memiliki air terjun dan telaga.
Pepohonan disekitarnya cukup besar dan rindang. Jaraknya yang lumayan jarang, membuat area tersebut tetap disinari matahari, sehingga tak terlalu gelap.
"Siap dibimbing dan siap membimbing." Slogan itu memang benar adanya, meskipun ada sedikit perbedaan pada kalimat pertama.
"Semuanya! Kita akan berkemah dan berlatih disini. Sekarang, letakkan semua perbekalan yang ada di tempat yang aman." Pinta Zefier kepada semua orang. Tanpa banyak tanya, mereka mengikuti arahan sesuai instruksinya.
Setelah itu, Zefier duduk di atas sebuah batu yang cukup besar menghadap semua bawahannya yang duduk dibawah. Zefier tampak seperti seorang guru yang sedang memberikan khutbah.
"Menurut kalian, apa hal paling penting dalam melakukan latihan atau kultivasi?" Zefier memulai latihan itu dengan sebuah pertanyaan.
Semua terdiam, pertanyaan itu juga sangat umum. Semua ingin menjawab, tapi takut salah. Masalahnya, mereka menduga bahwa kemungkinan cara berlatih Zefier memiliki metode yang berbeda.
"Konsentrasi...!" Tetua Braham akhirnya memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Tepat sekali.... Lalu apa?" Lanjut Zefier bertanya.
Tak ada yang menduga bahwa pertanyaan itu masih memiliki lanjutan. Kali ini, semuanya benar-benar membisu.
Merasa tak ada yang mau menjawab, Zefier menjawab pertanyaannya sendiri. "Hal paling penting dalam berlatih adalah kesiapan. Tanpa itu, seseorang tidak akan mencapai konsentrasi terbaiknya." Terang Zefier.
"Seseorang haruslah memiliki target sebelum memulai sesuatu. Mempersiapkan target akan membuatmu tetap pada jalan yang seharusnya. Tidak terburu-buru, tidak pula salah langkah."
Zefier memberi sedikit gambaran sebagai tolak ukur agar semuanya tidak asal-asalan dalam berlatih. Setelah dia rasa cukup, ia melanjutkan ke tahap kultivasi yang sesungguhnya.
Dia mulai menjelaskan tatacara melakukan kultivasi yang sekiranya cukup efisien. Walaupun sebenarnya penjelasan tersebut dia kutip dari buku latihan yang pernah dibeli dari system. Baginya tidak masalah, malah sebisa mungkin dia ingin mereka semua bisa mengikuti jalan kultivasinya. Semakin banyak orang kuat, maka akan semakin mudah perjalanan selanjutnya. Begitulah yang dia pikirkan selama ini.
"Mungkin kalian tidak pernah mendengar ini dan mungkin kalian tidak akan percaya.... Energi memiliki sebelas tingkat kemurnian! Semakin tinggi tingkat kemurniannya, maka semakin kuat pula efeknya dalam menggunakan kekuatan api."
Benar saja, semua memasang ekspresi terkejut saat mendengar pernyataan Zefier yang sangat kontroversial. Hal itu bahkan jauh dari pemahaman yang pernah mereka pelajari, terutama orang seperti tetua Braham dan tetua Je yang sudah lama menyelami dunia ini.
"Apa maksud anda, tuan?! Jujur, ini kali pertama kami mendengar yang seperti itu. Apakah Anda tidak salah menyampaikan?" Tampak tetua Braham ingin memprotes tapi masih berusaha menahan diri, mengingat siapa dia dihadapan Zefier sampai berani melakukan itu. Seumur-umur, ini pertamakali dia merasa bodoh dihadapan seorang yang bahkan umurnya berkali lipat lebih muda.
Perkataan tetua Braham memang benar, bahkan semua yang ada disitu tampak setuju dengan pertanyaan tersebut.
"Aku mengerti! Dan memang itu yang aku katakan barusan bukan? Bagaimana jika langsung ku buktikan saja?" Tawar Zefier. "Aku akan menggunakan energiku untuk menekan kalian semua. Jangan takut, bagi yang tak sanggup, kalian bisa menyerah ditengah jalan." Lanjut Zefier.
Semuanya saling memandang, mereka mengerti apa yang Zefier maksud. Tapi, apakah benar-benar ingin mencobanya? Tidakkah itu sama saja dengan bunuh diri? Pertanyaan itu berlarian dibenak mereka.
Berbeda dengan Livy, karena belum tahu seperti apa kekuatan Zefier, dia langsung menyetujuinya. Sekaligus ingin tahu, seperti apa kemampuan tuan muda yang direkomendasikan ayahnya.
"Tuan muda, aku ingin mencobanya...!" Ucap Livy sambil mengangkat tangan.
Semua mata sontak tertuju memandang Livy dan tak tau mau bilang apa. Anggap saja dia wanita pecinta tantangan. Lagian, bukankah cukup aneh? Diantara semua orang, hanya dia yang perempuan sendiri.
__ADS_1
Bersambung....