
Keesokan pagi....
Setelah berpamitan dengan tuan Kasra, Zefier akhirnya berpamitan dengan tuan Kasra yang saat ini sudah dia anggap sebagai paman kandung.
Tak pernah dia merasa bahagia seperti hari ini sejak kematian kedua orang tuanya. Wajahnya cerah, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dipenuhi kesuraman.
"Tuan, aku belum pernah melihat rona bahagia anda sebelumnya saat bersamaku dulu." System protes.
"Benarkah...? Mungkin hanya perasaanmu saja. Dan lagi, kau datang diwaktu yang tidak tepat." Jawab Zefier.
"Mengesampingkan semua masalah anda, apakah tuan bahagia bersamaku saat ini?"
Zefier diam, entah mengapa dia merasa ada hawa kecemburuan. "Apakah system punya perasaan?" Batinnya.
"Tuan, mengapa anda diam...? Berarti tuan sama sekali tidak senang dengan keberadaan ku." System protes.
"Hmmm..." Zefier tersenyum sesaat. "Memangnya, apa yang paling patut disyukuri selain kau berada di sisiku?"
"Saat aku susah, hanya kau yang dapat membangkitkan aku dari keterpurukan. Jika hal itu sampai aku ingkari, artinya aku munafik pada takdir sendiri." Ucap Zefier.
"Ah, ya...! Tentu saja begitu. Meskipun aku tidak paham dengan perkataan anda..." Terdengar perasaan puas dari jawaban system.
"Hehehe... Benar saja..." Batin Zefier.
"Kenapa aku merasa tuan sedang tertawa?"
"Ah, tidak..."
Sementara itu, dibelakang Zefier tampak seorang pemuda yang terus mengikuti dan mengutuknya dengan berbagai kalimat kasar.
"System, mengapa orang itu selalu ribut? Dia bahkan sampai menyebut namaku, bagaimana dia bisa tahu?" Zefier bertanya seolah tidak tau.
"Saat berpamitan, bukankah paman menyebut nama anda, tuan?"
"Ya, benar juga..."
"Huh...! Aku tau, anda hanya pura-pura tidak tau. Anda juga terlalu berlebihan mengerjainya...."
"Zefier, kurang ajar...! Dimana ayah dan pamanku." Teriak pemuda yang saat ini terus membuntuti Zefier dengan penuh kemarahan. Bahkan sejak orang itu sadarkan diri, dia langsung menyumpahi saat sadar Zefier berada disampingnya.
__ADS_1
"Ha? Bukankah tadi kita sedang berkabung di pemakaman mereka? Aku mengubur mereka bersama pengikutnya, jadi aku tak tahu persisi yang mana kuburannya. Batu nisan itu, aku juga hanya sembarang menancapkan."
"Kau pikir, kau bisa membodohi aku? Mana mungkin anggota kami sebanyak itu. Dan juga, mengapa kau tidak membunuhku?!"
"Kalau tidak salah, namaku Leo bukan?Kau seharusnya tahu bahwa itu adalah kuburan masal, mana mungkin juga hanya mereka yang dikubur disana." Jawab zefier.
"Alasan aku tidak membunuhmu, kau masih muda dan berbakat, aku ingin kau menjadi pengikut Ku. Lanjutnya.
Mendengar jawaban tersebut, Leo semakin geram dan kesal. Tangannya di kepal dengan keras, menggambarkan perasaannya saat ini.
Meski dengan tenaga yang belum pulih dan stabil, Leo melancarkan serangan pada Zefier. Sayangnya Zefier selalu dapat menghindari serangannya meski tampa menoleh sedikitpun.
Pukulan, tendangan, terjangan serta ragam jenis serangan tak satupun yang mengenai Zefier hingga Leo kelelahan sendiri.
"Zefier...! Aku akan terus mengikuti kau, tapi bukan sebagai pengikut. Melainkan aku tak mau kehilangan mu untuk membalaskan dendam ayahku." Teriak Leo, lantang.
"Oh, ya... Sebenarnya, aku memenggal kepala beberapa orang termasuk ayah dan pamanmu. Aku minta maaf karena tidak mengenal mana kepala dan mana badan mereka. Jadi aku asal menguburkan saja." Zefier terdengar memprovokasi.
Langkah Leo tiba-tiba berhenti. "Grttt...!" Gigi-giginya saling beradu. Wajahnya semakin merah padam. Tentu saja dia semakin murka mendengar pengakuan Zefier.
Saat ini Leo memutuskan untuk kembali. Dia berniat menggali kuburan ayah dan pamannya untuk membuat pemakaman yang layak.
Tadi, saat Zefier mengajak Leo untuk berkabung, sebenarnya dia hanya sembarang ikut dan tidak banyak tanya. Kepalanya masih terasa berat akibat serangan Zefier sebelumnya. Yang ada dipikirannya saat itu, dia sedang menjadi tawanan untuk dijadikan tebusan. Tapi tak disangka, pengakuan Zefier sungguh membuat perasaannya hancur.
"Hei... Mengapa kau malah berputar arah. Apa kau berniat untuk kembali?" Tanya Zefier.
Leo tak menjawab, dia terus melangkah Tampa menoleh sedikitpun.
"Aku sebenarnya akan pergi jauh. Jika kau sampai kehilanganku, bagaimana kau akan membalaskan dendam mereka? Apa kau mau dicap menjadi keturunan durhaka?" Lanjut, Zefier. Tapi terlihat senyum tipis di bibirnya.
Tap...!
Langkah Leo kembali terhenti. Entah apa yang ada dipikirannya, yang jelas saat ini dia kembali mengikuti Zefier.
Jika dipikir-pikir, memang benar jika pemakaman ayahnya tidak layak. Tapi dia lebih tidak layak jika sampai gagal membalas dendam kepada orang yang melakukan itu. Toh yang mati tetaplah mati.
"Tuan.... mengapa anda terus memprovokasinya?" Tanya system.
"Menurutku, ada dua versi dimana orang bisa menjadi kuat dengan cepat. Jika bukan dengan cinta, maka dengan dendam.... Aku ingin dia memiliki salah satunya."
__ADS_1
"Tak ku sangka, anda sampai berpikir sejauh itu, tuan...."
"Yah, itu juga tergantung dia.... Kau juga tau, aku saat ini hidup dan berlatih dengan perasaan seperti itu." Ucap Zefier.
Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah desa. Salah satu desa termaju di kota Gulmai. Tepatnya kota tanah kelahiran Zefier saat ini.
Di desa tersebut terdapat kendaraan perahu terbang yang biasa digunakan orang-orang untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
Ongkos perjalanan cukup mahal. Meskipun begitu, tidak sedikit yang menggunakan sebagai tranportasi sehari-hari. Terutama para pedagang dan orang-orang kaya.
"Yo, Leo.... Setelah ini kita akan mengadakan perjalanan jauh. Sebelum itu, mari kita isi perut dulu. Tenang, mulai saat ini, aku yang akan mentraktir semua kebutuhanmu." Ajak Zefier santai, seolah tak ada masalah diantara mereka.
"Ada apa dengan orang ini...?! Apa dia tidak menganggap ku sebagai ancaman?" Gumam Leo. "Huh...! Kau pikir, kau bisa menyogok aku?" Jawabnya.
"Tidak...! Aku hanya memenuhi janjiku pada ayahmu."
"Janji...?" Leo merasa bingung.
"Sebelum aku memenggal kepalanya, dia memohon sampai bersujud agar aku membawamu kemanapun aku pergi."
Leo kembali emosi. Bukan tanpa sebab, itu karena Zefier kembali memprovokasinya.Seharusnya katakan saja ini permohonan ayahnya. Mengapa harus mengatakan, sebelum memenggal atau sampai bersujud.
"Kau...!" Leo kesal dan tak bisa berkata apa-apa. "Aku tak butuh uangmu, aku bisa bayar sendiri." Lanjutnya.
Awalnya, Leo sama sekali tidak memiliki apapun. Mengetahui akan jadi seperti ini, Zefier mengikatkan ratusan "Zel (mata uang)" di pinggang Leo saat dia pingsan.
"Baguslah kalau begitu... Kita bisa lebih berhemat." Ucap Zefier sambil melanjutkan perjalanan mencari warung makan.
Tak berapa lama, mereka akhirnya menemukan tempat yang mereka cari. Dilihat dari ramainya pengunjung, sepertinya rumah makan ini lumayan terkenal dan diminati banyak orang.
Zefier langsung masuk dan diikuti oleh Leo. Beruntung masih ada tempat yang masih kosong. Zafier segera mengambil tempat tersebut.
Meski merasa enggan, Leo juga duduk berhadapan dengan zefier di meja yang sama.
"Asal kau tau saja, aku disini bukan karena mengikutiku. Tapi memang tidak ada lagi tempat lain yang kosong.
Jika dilihat, memang itulah satu-satunya meja kosong saat ini. Zefier juga tidak memungkirinya.
"Iya, iya...! Tampa kau bilang, aku juga tahu." Ucap Zefier santai.
__ADS_1
Zefier segera memanggil pelayan, agar menyediakan hidangan yang mereka butuhkan.
Bersambung....